Pilihan Yang Terbaik

Pilihan Yang Terbaik
Tahajud Cinta


__ADS_3

Keluarga Samira dan Harviza berada dalam ketekunan yang khusyuk sewaktu melakukan ibadah terakhir sebelum esok akan menjadi hari terakhir mereka berada di tanah suci.


Menjelang sore, dalam keramaian yang slalu membuat mereka rindu untuk kembali lagi ke sana, mereka menyusuri jalan seraya menyebrang untuk menuju pusat perbelanjaan.


"Abah, aku nggak ikut ke dalam." ucap Samira sambil menggeleng, dia sudah lelah mengikuti para orang tua membeli oleh-oleh untuk sanak keluarga dan tetangga. Kakinya terasa pegal-pegal, tapi benaknya bahagia dan lega. Sudah ia sempatkan doa yang berturut-turut ia sampaikan kepada sang khalik untuk dirinya sendiri dan orang-orang yang terdapat dalam daftar hidupnya dengan tekun setiap hari.


"Duduk saja, jangan kemana-mana!" Mustofa mengingat dengan raut wajah waspada. Di kota asing nun jauh dari rumah akan penuh risiko bila jauh dari jangkauannya.


"Iya aku duduk aja, Abah."


Samira mendudukkan diri di kursi kosong seraya membuka penutup botol air zam-zam. Dia meneguknya sembari mendengar Harviza meminta izin untuk menemani Samira kepada orang tuanya.


Samira menggeser posisi duduknya, membuat jarak dengan Harviza yang berhasil memiliki izin menemaninya, padahal dia ingin menyendiri, setidaknya selama hampir dua Minggu berada di dekat Harviza membuatnya kesulitan bernapas lega. Ada-ada saja peristiwa yang harus melibatkan Harviza dalam perjalanan umrahnya, mau tak mau, ikatan batin yang sudah terjalin sejak kecil menjadi urusan pribadi yang tidak bisa ditepikan semudah kau berkenalan lalu sms-an dan pergi tanpa kesan.


Harviza baik, tampan, segalanya dia miliki. Calon imam sempurna yang dikirim Allah ke rumahnya tanpa perlu Samira bersusah payah mencari perhatiannya atau mengundangnya. Toh dia juga tidak mampu menjelajahi dunia sendiri. Mustofa khawatir. Sementara Samira tak mampu, keluarga satu-satunya yang dimiliki tidur dalam sukma yang cemas dan terjaga.


Harviza tersenyum. Bakal brewok yang dia cukur beberapa hari yang lalu mulai tumbuh, menambah kesan jantan pada ekspresi wajahnya.


"Sebel banget ya harus taaruf gini." pancing Harviza, dia sengaja mengatakan demi luwesnya persiapan yang akan mendatangkan. Entah siap menikah atau siap berpisah. Sangat wajar bila dia mempertanyakannya, toh apa yang dia inginkan bukan keinginan sesaat. Samira sudah ada di hidupnya kala ia yang masih belum baligh berakal. Masih suka bercanda dengan akal masa kanak-kanak yang membara.


Samira langsung cemberut, bekas-bekas keusilan Harviza masih membekas diingatnya, tidak bisa lupa, tetapi dia sudah dewasa. Ya Allah, dewasa. Tidak bisa terus-terusan bersembunyi sebagai Samira yang dulu, yang selalu tak acuh bila ada Harviza sampai masa kuliah benar-benar memisahkan laki-laki itu dalam hidupnya. Hidup Samira aman sentosa sampai-sampai akhir-akhir ini riuh lagi. Riuh sekali seperti badai yang hanya bisa dia tenangkan sendiri dengan keputusannya.

__ADS_1


"Emang siapa yang nggak sebel harus taaruf sama kakak. Kakak dari dulu iseng sama aku. Kakak jahat. Mana bisa aku percaya kakak serius memilih taaruf sama aku daripada dengan anak kyai yang ada. Nggak mungkin nggak ada tawaran untuk taaruf dengan anak perempuan mereka!" ungkap Samira, mengalir apa adanya, leluasa tanpa jeda.


Harviza menyunggingkan seulas senyum. Kupingnya sudah terlatih mendengar aliran kata-kata Samira, ia gemar seperti itu dan Harviza mempersiapkannya. Lelaki berkopiah putih itu justru heran jika Samira diam saja. Menyimpulkan rasa kesal yang akan membuat wajahnya kusut saja.


Harviza meneguk air zam-zam seraya menghela napas.


"Masih dendam ternyata sama kelakuanku dulu. Susah banget ya melupakannya sama umur sekarang. Hebat banget kamu, Sam. Kamu slalu mengingatku dari kecil. Tapi jangan khawatir, aku akan meminta maaf padamu sampai kamu puas."


Tangan Harviza terulur, lalu menatap Samira yang menatap tangannya lalu wajahnya.


Sungguh lihai tangannya mengajak salaman, Samira menyembunyikan tangannya. Lalu menyingkirkan wajahnya dari tatapan Harviza.


Harviza...


"Aku masih mempunyai kesabaran menunggu maafmu, Sam. Tapi mungkin kita bisa meluruskan keputusan kita saat ini. Saat kamu sudah bisa menerbangkan pilihan-pilihanmu dengan baik dan aku tidak akan memaksa, aku hanya—hanya menjadi diriku sendiri saat bersamamu. Kamu tempat ternyamanku tanpa perlu naif karena kamu pasti sudah mengenalku dengan baik."


Samira menghela napas sedikit keras. Mau tertegun, tapi ini Harviza. Sejak dulu dia terlalu jujur. Terlalu gemas dengannya hingga mendadak kedua pipinya yang pernah di cubit lelaki itu terasa bekasnya sekarang.


Samira menyentuh kedua pipinya. Dia tidak bisa menolong dirinya sekarang. Harviza terlalu mewah jika ia tendang tanpa kesempatan, tapi menerimanya dengan mudah juga tidak segampang kesan pertama yang indah dan menakjubkan.


Samira merasa bimbang, tetapi dia juga tidak bisa membuat Harviza menunggu karena nanti pun sepulang dari umrah orang tua mereka pasti meminta penjelasan kedekatan mereka.

__ADS_1


Samira menyentuh dadanya sambil memandangi Harviza hampir tanpa berkedip.


"Kakak suka sama aku?"


Harviza tersentak. Ia tidak menyangka Samira mengucapkan itu langsung tanpa perantara kata-kata lagi.


Angin berhembus lembut, Harviza mengedip-ngedipkan mata.


"Bukan suka, Sam." Hatinya bergetar sebelum kesaksian dia ucapan, "Lebih dari itu, aku pernah berjanji untuk menjagamu di depan ibumu sebelum amak wafat. Malam itu waktu kamu menangis di koridor rumah sakit. Aku menghormati beliau, janjiku dan keutamaan ku sekarang mempermudah itu dengan menyukaimu." Harviza tersenyum sambil berusaha mengatur gemuruh di hatinya.


Samira buru-buru menundukkan wajahnya. Kulitnya merinding. Ia akui Harviza ada di saat dia terpuruk atas sakitnya sang ibu. Keluarga Harviza ada baginya. Dadanya sesak. Jika ini takdirnya, anggaplah keusilan Harviza adalah bumbunya. Harviza pantas di cintai dan cintanya akan membawanya pada surga yang terindah.


Samira menarik napas panjang. "Insyaallah, aku jawab seminggu lagi kak. Boleh kan, boleh dong?" ucap Samira dengan nada mendesak.


Harviza mengangguk tanpa keberatan. "Tugasku hanya menjalani dan menunggu karena jauh lebih tenang ketika wanita yang memutuskan."


Samira berdiri, dia memandangi semua yang tersaji di depan matanya. Tiba-tiba dia menyimpulkan Harviza dan janjinya kepada ibunya adalah sebab dari tak ada cinta yang mampu menghampirinya selama ini. Hanya Aslan itu saja jauh dari harapan. Samira mengerucutkan bibirnya.


"Pantas aku jomblo terus, ada kak Harviz yang tiap hari pasti berdoa dalam setiap sudut dan tahajud nya. Aku menerimanya." Samira geleng-geleng kepala. "Ya Allah, Ya Allah."


......................

__ADS_1


__ADS_2