
Selama bulan-bulan pertama perkawinan Samira dan Harviza, mereka menghabiskan waktu bersama untuk saling mengenal dalam kontekstual kelas dewasa di dalam kamar, tanpa paksaan meski canggung dan terburu-buru, penuh rasa malu, penuh perjanjian dan intrik. Kehadiran Harviza di kehidupan Samira seperti batu yang terselip di sepatu, mengganggu juga mengalihkan perhatiannya. Samira menjalani hari-harinya dengan penuh semangat dan pipi merona di dalam kasih sayang lembut Harviza. Lelaki itu memerankan seorang kakak bagi Samira yang melindunginya juga jahil padanya. Dia mendidik Samira, bersabar menanti luluhnya hati pengantinnya dengan sepenuh hati dan memenuhi semua keinginannya. Pada bulan keenam perkawinan mereka, Samira dinyatakan hamil sebulan.
Sebulan terlambat datang bulan, Samira rutin mengecek celana dallamnya, mencari bercak-bercak merah yang tak kunjung datang hingga Harviza menyadari pengantinnya tidak pernah beralasan menstruasi.
Mereka pergi ke rumah sakit, ke poli kandungan. Samira menutup wajahnya, malu tak alang kepalang. Dia hamil anak Harviza. Teman masa kecilnya, teman yang dia anggap musuh juga seseorang yang slalu ada baginya. Alih-alih ngambek karena harus melewati hari yang penuh suka cinta dengan suaminya dan si bayi yang ada di perutnya saking tak percaya itu terjadi. Dia malah mabuk kepayang kepada suaminya.
Hari-hari yang kacau akibat perubahan hormon di dalam tubuhnya membuat Samira muntah-muntah di pagi hari, lalu bermalas-malas di kasur ditemani Harviza yang tetap tersenyum mendengar gerutuannya.
"Kalau gitu aku berangkat kerja aja, gimana? Kamu dijaga Abah dulu." jawab Harviza ketika Samira membenci aroma tubuh laki-laki itu yang ternyata menjadi candunya. Memabukkan hingga dia melanggar segala aturan yang dibuat sendiri. Dia menjadi manja, sering mengeluh jika lelaki itu kerja terlalu lama atau tidak mengusap-usap kepalanya sampai tertidur tetapi penyampaiannya terkesan tidak suka dengannya.
Samira cemberut. "Ya udah sana kerja, tapi ikut. Aku bosan di rumah!" akunya tak acuh.
"Nggak usah, Samira. Kamu tidur-tiduran aja di kamar. Nggak enak ikut kerja, nanti capek, tambah lemas, terus siapa yang susah? Aku bukan?" ungkapnya sengaja.
"Ya udah nggak usah kerja, di rumah lebih enak kan?" Samira menahan ujung kemeja Harviza lalu menggenggamnya erat.
Harviza memastikan wajah Samira. Mendapatkan apa yang diinginkan dan meluapkan apa yang sesungguhnya menjadi pilihan rasa. Sebab Allah tidak slalu memberikan apa yang diinginkan, namun slalu menyediakan yang dibutuhkan hamba-Nya.
"Memang enak di rumah sama kamu." akunya sambil mengelus rambut Samira, rambut yang hanya suaminya yang tahu. Hitam, panjang dan lembut. Selalu wangi dengan sampo yang tak berubah jenisnya.
"Itu kakak tau." Samira mengubah genggaman tangan di ujung kemeja suaminya menjadi pelukan di pinggang Harviza yang bersandar di dinding sementara dia merebahkan diri dengan posisi miring.
"Tapi kalau boleh tau, kapan kira-kiranya kamu bilang cinta padaku Samira? Belum pernah aku mendengarnya."
__ADS_1
"Ah kakak, aku sudah hamil begini memangnya bukan penyerahan cinta?"
"Bukan, itu kebutuhan sepasang suami istri."
"Masa sih?" Samira mengerutkan kening. "Bukannya kalau—nggak jadi. Harusnya kakak sudah tahu, aku sebel sama kakak tapi juga cinta. Kamu harus menerima kak, aku tidak bisa romantis!"
Samira memandang Harviza penuh sayang. Kepala laki-laki itu menunduk setelah menghidupkan televisi dan mengubah lampu kamar.
"Tapi aku juga tidak menyerah, aku akan terus mengejarmu, Samira. Aku ingin mendengarmu memanggil-manggil namaku."
Harviza tersenyum ketika wajah istrinya bersembunyi di tepi paha atasnya disertai cubitan kecil di pinggangnya selama beberapa saat sebelum Samira menarik tubuhnya, dia mengikuti suaminya bersandar di dinding yang bercat warna mocca.
"Ngarep aja terus kak, mau gimana lagi. Kalau nggak ngerep aku curiga!" desak Samira manja.
Mereka berpelukan erat-erat sebelum Harviza menutup bibir Samira dengan ciuman lembut sekilas.
Cinta mereka bertahap dan tak terelakkan. Seperti mendayung sampan dari muara yang berlabuh ke samudra. Di sana cinta mereka berlabuh, ada gelombang pasang-surut, luas dan dalam, penuh tantangan dan rahasia. Keduanya sudah lama tahu, ada rahasia-rahasia masa remaja yang mereka sembunyikan dan ini yang terjadi. Mereka saling menginginkan, bercampur dilema cinta. Kamu paham maksudnya kan?
***
Waktu berjalan begitu pelan. Berbulan-bulan setelah hari membahagiakan Samira dan Harviza, tepatnya ketika Samira dinyatakan hamil. Aslan bertolak ke Lombok, ia memutuskan mengambil jalan alternatif berbalut perjalanan bisnis. Dia berpergian ke luar negeri, ke tempat-tempat yang dia inginkan, mengubah jadwal kerja menjadi petualangan bisnis—hiburan bersama Samantha. Dia menemukan kesenangan yang dia cari-cari untuk meleburkan rasa sepinya.
"Jadi mau apa kita sekarang kak?" tanya Samantha. "Nggak capek jalan-jalan terus?"
__ADS_1
Keduanya duduk di atas pasir pantai, menunggu matahari tenggelam sembari memangku kelapa muda. Aslan menyeruput air kelapanya, dia menyecap bibirnya sebelum menoleh.
"Kamu capek, Sam?"
"Nggak sih, aku seneng-seneng aja. Gratis lagi walaupun potong gaji lima persen."
Aslan kembali menikmati air kepala muda, ekspresinya memandang lurus ke pancaran sinar matahari tenggelam. Keindahan juga rasa takjub tersaji di depan matanya hingga ia merasa semua jauh lebih sekarang. Dia mengelilingi belahan bumi manapun, dengan suka duka perjalanan tanpa sedikitpun keluhan dari Samantha.
"Trip terakhir sebelum kita balik ke perusahaan. Kamu mau ke mana, Sam?"
"Kok aku?" Samantha menunjuk dadanya. "Kakak aja mau pergi ke mana lagi? Tapi janji ya ini yang terakhir, jujur aku capek. Jetlag, makanan asing, budaya asing, cowok-cowok ganteng dimana-mana. Aduh."
"Altar?" sahut Aslan serius.
Keduanya bertatapan dengan wajah yang diterpa sinar senja. Menambah kesan indah paras-paras mereka yang sudah rupawan sejak lahir.
"Ngaco kamu, kak. Jangan bilang trip kemarin kamu jadikan ajang pdkt." tukas Samantha.
"Bukannya itu bagus? Aku mengenalmu secara sederhana, mengalir apa adanya, tidak dibuat-buat. Pengenalan kita natural. Kalau aku suka, itu hal alami yang terjadi di antara kita sebagai rekan yang bekerja selama enam bulan penuh dan itu manusiawi." Aslan memandanginya, angannya terpaku bersama senyum Samantha yang mengembang.
Gadis itu menunduk. Ibaratnya. Sandal jepit saja punya pasangan, sementara dia dan Aslan berjalan beriringan seperti sandal. Tidak slalu serasi namun selalu berdampingan, memijak bumi dan melangkah ke mana saja dengan berani. Mendekat dan menambah fakta tentang pepatah Jawa, Witing Tresna Jalaran Saka Kulino, jika itu benar adanya. Waktu yang menjawab, kapan dan bagaimana rasa itu menyusup di benaknya.
"Altar tujuan bagus. Dan perempuan biasanya menunggu dan dilamar, selama belum ada yang berani memutuskan bertemu papa dan mama, aku masih membentengi diri."
__ADS_1
Sisi hati Aslan bergerak, Samantha sudah memberi isyarat. Dia meraih ponselnya lalu mencari jadwal penerbangan paling dekat.
......................