
“Nah kalau begitu, bagaimana jika aku yang bergantung padamu…” Xing menggoda Xian
Lian dengan memegang tangannya “iuh… jauh-jauh dariku… kenapa kau semakin
menjijikkan ?” Xian Lian menghempaskan tangan Xing dan menjauh darinya, membuat
keempat pria tertawa terbahak-bahak.
Xing menghela nafas dan kembali berbaring “huh Lian, bisa bersantai seperti ini,
sungguh sangat menyenangkan…” Xian Lian mengangguk “memang sangat menyenangkan…
Huh… jika saja ada kunang-kunang, pasti akan lebih menyenangkan…” berbaring dan
menatap langit berbintang.
“Tuan Lian, hidup anda sangat nyaman… Bisa menikmati keindahan alam seperti ini,
mengingatkan kembali keindahan dunia ini…” Achang berguman. “Achang shushu,
kalian juga bisa… Segala masalah akan teratasi saat fikiran tenang. Haih…
kalian ini para pria dewasa, terlalu serius. Jika ada masalah, hanya fokus
melihat lembar laporan, kitab, maupun wajah satu sama lain. Memangnya jawaban
persoalan kalian, bisa tiba-tiba muncul di wajah orang atau di atas perkamen-perkamen
itu ?” Xian Lian berkata acuh tak acuh, tapi keempatnya dibuat tercengang.
“Lian, bagaimana denganmu ?” Xing bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi “Aku ?
Aku suka berpetualang ke alam, apalagi jika memiliki beban fikiran. Terkadang jawaban
yang dicari akan muncul begitu saja, tidak perlu membebani diri dengan
melakukan hal yang tidak berguna” Xian Lian menjawab spontan.
Ketiga pengikut saling melihat dengan senyuman di wajah mereka “Tuan Lian, tinggallah
di Istana, kami bisa menemani anda…” Achang berguman. Xian Lian menggeleng “Aku
hanya di Istana untuk bersenang-senang, apa yang perlu kulakukan di Istana
itu”.
“Ehm Tuan Lian, bukankah Istana memiliki pemandangan indah ?” Kasim Lu berusaha
membujuk. Xian Lian mengangguk “memang indah… tapi seindah-indahnya Istana,
pemandangan seperti ini jauh lebih indah…” memberikan senyuman manisnya.
“Huh… entah gadis mana yang berhasil mendapatkan anda, akan sangat beruntung !” Alu
berguman dengan senyuman. Xian Lian tertawa “hahaha… Alu shushu, kau sangat
berlebihan… Aku tidak berencana memiliki atau menjadi milik seseorang hahaha…
Aku menyukai hidup bebasku… Kalian suka terikat maka terikat saja… hahaha…”.
Kata-kata candaan yang diucapkan Xian Lian, membuat keempatnya berfikir dan menggeleng. “Jika
seperti itu, nikmatilah Istana lebih lama Tuan Lian…” Kasim Lu membantu Xing
mengutarakan niatnya. Kata-katanya mendapat anggukan dari kedua pria “iya Tuan
Lian, jangan pergi, kami akan merasa sangat kehilangan…” cemberut.
__ADS_1
Xian Lian memainkan wajahnya “Haih… bukankah kalian para pria perkasa, kenapa jadi
cengeng seperti ini ?” menggoda kedua prajurit “hoam… ah berbicara dengan
kalian membuatku ngantuk… aku mau tidur…” berbalik dan menutup mata.
Xian Lian memutuskan untuk pergi, setelah mengetahui identitas Xing. Xian Lian yang
tidak memiliki pengalaman cinta sama sekali, merasa bingung mau melakukan apa
untuk membantu Ming Jie Xing Jun.
Selama mengenal Xing, Xian Lian tidak pernah melihat wanita yang dekat dengannya.
Aksesnya dalam Istana juga hanya terbatas pada Istana Xing. Melihat salah satu
Putri Istana, Song Lan Hua, Xian Lian merasa ngeri sendiri.
Jika seorang putri saja bisa seperti Song Lan Hua yang begitu menakutkan bagi Xian
Lian, bagaimana para wanita lainnya. Xian Lian tidak bisa membayangkan,
bagaimana menakutkannya para selir Xing.
Xian Lian tidak mau identitasnya sebagai seorang gadis diketahui lainnya. Jika tetap
di Istana, maka bukan mencarikan Cinta Sejati untuk Xing, melainkan dia lah
yang bakal kewalahan sendiri.
Xing yang tidak menyukai wanita, sementara Xian Lian yang ingin mencarikan Xing
wanita. Dari sisi manapun difikirkan, yang ada Xian Lian lah yang bakal
kerepotan. Sementara Xian Lian paling tidak suka kerepotan.
tidak akan mampu menahanmu ? Kenapa dadaku sangat sakit mendengar kata-katanya.
Aku awalnya hanya ingin menganggapnya sebagai adik, tapi kenapa perasaanku jadi
seperti ini ? Apakah aku tidak tertarik pada gadis, melainkan pada pemuda kecil
ini ?” bingung dengan perasaannya sendiri.
“Wang Jun, Tuan Lian benar-benar seorang pria murni. Sayang beliau tidak memiliki
ambisi, benar-benar seorang petualang” Kasim Lu berguman “yah mendengar
kata-katanya… Aku ingin terus melihat Tuan Lian yang seperti ini… Ada pemuda
seperti Tuan Lian di zaman sekarang ini, sungguh sebuah penemuan yang sangat
langka…” Achang pun ikut berguman.
“Adalah keberuntunganku bertemu dengannya…” Xing ikut berguman “Wang Jun, apa malam
ini…” Kasim Lu bertanya karena tidak melihat tanda-tanda Xing mau kembali ke
Istana. Xing mengangguk “disini saja ! Lian suka disini…” membuka jubah luarnya
dan menyelimuti Xian Lian.
Achang melihat perhatian Xing pada Xian Lian ‘jika saja Tuan Lian seorang gadis, pasti
akan sangat serasi berpasangan dengan Wang Jun…’ saling bertatapan dengan Alu,
tercipta pemikiran yang sama diantara mereka, tersenyum dan menggelengkan
__ADS_1
kepala.
Kasim Lu menghela nafas ‘Tuan Lian memang pemuda yang baik, tapi Tuan Lian bukanlah
seorang gadis. Wang Jun sudah lama membenci wanita. Disaat seperti ini muncul
Tuan Lian yang sempurna seperti ini. Wang Jun tertarik pada Tuan Lian adalah
hal yang wajar. Tapi bagaimanapun mereka berdua adalah pria. Ini bagaimana
baiknya ?” sakit kepala memikirkan jodoh Xing.
Keesokan subuhnya, mereka di serang musuh dari Sekte Mohang “lindungi Wang Jun…” Achang
berteriak “Tuan Lian, olong bawa Wang Jun pergi…” Alu menahan tangan Xian Lian
yang mau ikut bertarung.
Xian Lian melihat situasi “tidak… Wang Jun kalian… kalianlah yang harus
melindunginya… pergi dari sini…” masuk ke dalam pertarungan, menyelamatkan
Achang “pergi dari sini !” “tidak Lian…” Xing mau ikut bertarung, mendapat
pukulan Xian Lian dan jatuh tidak sadarkan diri “pergi…” Xian Lian menghentak
ketiga pria yang tercengang dengan aksinya.
Ketiganya menghormat “terima kasih Tuan Lian…” segera membawa Xing pergi dari tempat
pertarungan. Xian Lian bertarung dengan 8 utusan Sekte Mohang dan berhasil
menang. Xian Lian mengalami banyak luka, walau memenangkan pertarungan. Yang
paling parah, Xian Lian terkena sabetan pedang dan satu anak panah yang
menembus bahu kanannya.
Setelah memenangkan pertarungan, Xian Lian pergi dari lokasi, mencari tempat untuk
mengobati dirinya sendiri. Xing tersadar di Istana, marah dengan laporan dari
Kasim Lu. Xing segera keluar Istana, mencari keberadaan Xian Lian. Mereka
menemukan ke-8 mayat Sekte Mohang di lokasi pertarungan.
Xing mencari kesana kemari “Lian, dimana kau ?” para prajurit juga dikerahkan
mencari Xian Lian. “Tuan, ada bekas darah disini !” Alu memegang sebuah daun
yang memiliki bekas darah. Xing segera mengamatinya “Lian… cepat cari, Lian
pasti terluka… harus menemukannya…” Xing memberi perintah dingin.
3 hari pencarian, tidak mendapat hasil. Disaat Xing hampir putus asa, kembali ke
danau pertemuan pertama mereka. Xing akan berbalik dan kembali ke Istana,
tiba-tiba terhenti dan berbalik kembali ke arah danau.
Air danau yang jernih, membawa sedikit warna darah dari bebatuan. Xing melihat
bebatuan dan langsung turun ke danau, menemukan sebuah gua sempit di belakang
bebatuan. Dengan susah payah, Xing masuk ke dalam gua, menemukan Xian Lian yang
sedang bernafas terengah-engah.
__ADS_1