
Xian Lian tidak mengetahui Xing yang mengejarnya. Xian Lian melompat-lompat dan
menikmati pemandangan di sekitarnya. Sesuai prediksi Xing, Xian Lian berada di
jalur utara.
Xing dan rombongannya menemukan Xian Lian yang sedang bermain air dan menangkap ikan
di danau “Lian…” “aaa…” Xian Lian terkejut dan kehilangan ikan tangkapannya.
“Ah hilang…” Xian Lian berbalik dan menatap garang Xing yang berdiri tidak jauh
di belakangnya.
“Hei, kau membuat makan malamku kabur… aih menyebalkan…” Xian Lian menghardik dan
menghentakkan kedua tangannya dengan kesal ke air danau. Xing salah tingkah
dengan wajah tersenyum malu, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal “hehehe…
maaf… maaf… Bagaimana kalau aku membantumu menangkap ikan ?” melepaskan
sepatunya dan turun ke danau.
Xian Lian menolak kedua pinggangnya “awas saja kalau kau tidak berhasil menangkap
ikan untukku !” kembali menghardik Xing. Xing cekikikan “baik… baik… kalian
sudah mendengar kata-kata Lian Da Ren, cepat tangkap ikan…” memerintah
rombongan yang ikut bersamanya.
Xian Lian akhirnya menyadari Xing yang tidak sendiri “Xing, kau membawa begini
banyak orang untuk apa ?” bertanya dengan mata besarnya ke Xing. Xing melihat
semua pria yang ikut dengannya “Lian Da Ren, kami akan menangkapkan ikan yang
paling besar untuk anda…” ucap salah seorang pria yang langsung bergegas masuk
ke danau.
Xian Lian memainkan wajahnya “Lian Da Ren ?” melihat tubuhnya sendiri “tubuhku
begini kecil, dari mananya Da Ren ?” bertanya dengan polosnya ke Xing. Xing
tertawa melihat wajah menggemaskan Xian Lian “ehm… kalau seperti itu, Lian Xiao
Ren, sudah bisa kan ?” menggoda Xian Lian.
Xian Lian menghentakkan air danau dengan kedua tangannya, melampiaskan kekesalannya
“sudah kukatakan, panggil aku Lian saja, tanpa tambahan apapun !” kata-katanya
membuat Xing tertawa terbahak-bahak, sementara para pria lainnya terkejut
melihat Xing yang tertawa lepas.
Xian Lian melihat Xing yang menertawakannya, langsung menyiram air ke arah Xing
“tertawa lagi tertawa lagi… awas saja kau…” jadinya Xing menemani Xian Lian
bermain perang air. Sementara para pria lainnya terbengong, melihat kedua
pemuda yang sudah basah kuyub, bermain perang air seperti anak kecil.
__ADS_1
Xing menyadari menjadi pusat perhatian para pria “untuk apa melihat seperti itu ?
cari ikannya !” menyadarkan para pria, yang langsung bergegas mencari ikan.
“Achu…” Xian Lian bersin, karena kelamaan berada di dalam air.
“Ayo… kau sudah kedinginan…” Xing mengajak Xian Lian naik ke daratan. Xing membuka
bajunya dan hendak berganti “apa yang kau lakukan ?” Xian Lian menghardik,
membuat Xing kebingungan “membuka pakaian yang basah kan !”
Xing melihat Xian Lian yang masih menggunakan pakaian basah “Ayo… kau juga, bukalah
pakaianmu, jangan sampai masuk angin…” Xian Lian menatap kesal Xing “haih dasar
pria…” berlalu dari sana.
“Lian…” Xing memanggil “Jangan mengikutiku…” terkejut kembali mendapat hardikan dari
Xian Lian. Xing kebingungan “dimana salahku ?” menatap punggung Xian Lian yang
menjauh.
“Tuan…” panggil salah seorang pria, yang sudah kembali membawa beberapa ekor ikan “Buat
api unggun, kita akan bermalam di sini malam ini…” Xing memberi perintah, yang
segera dilaksanakan oleh rombongannya.
Xian Lian kembali setelah berganti baju, mengolah beberapa ikan yang sudah di
bersihkan oleh rombongan Xing “Lian, kenapa kau pergi sebelumnya ?” Xing
bertanya, sambil membantu Xian Lian membakar ikan.
bertahan, pasti akan menimbulkan banyak pertanyaan. Sungguh merepotkan ! Aku
tidak suka repot !” Xing tersenyum, mendengar jawaban Xian Lian.
“Lian Da Ren, sebenarnya anda berada di pihak yang mana ?” Salah satu pria pengikut
Xing bertanya. “Sudah kukatakan, jangan memanggilku Lian Da Ren…” Xian Lian
menatap garang si pria yang bertanya. Pria itu memeletkan lidahnya dan salah
tingkah.
“Kalau seperti itu, bagaimana jika membiarkan mereka memanggilmu Tuan Lian ? Mereka
akan kebingungan berkomunikasi denganmu” Xing memberikan solusinya. Xian Lian cemberut,
melihat Xing yang memberinya senyum manis “haih… baiklah… kenapa seperti aku
menjadi tua berapa puluh tahun dari usiaku saat ini ck…” semua cekikikan,
mendengar gerutuan polos Xian Lian.
Xing menahan tawanya “jadi Lian, bagaimana dengan pertanyaan Achang ?” “Ah namamu
Achang ?” Lian bertanya pada pria yang bertanya sebelumnya. Achang mengangguk
sebagai jawabannya.
“Apa maksudnya pihak mana ? Aku bahkan tidak mengenal satupun dari mereka” Xian Lian
__ADS_1
kebingungan dan menggaruk kepalanya. Xing menutup mulutnya untuk menahan tawa,
sementara para pria saling melihat.
Xing mencari pembahasan lain “Oh ya Lian, aku belum sempat bertanya, berapa usiamu
saat ini ?” semua penasaran karena postur tubuh Xian Lian yang sangat mungil,
berbeda jauh dengan tubuh mereka.
Lian memainkan wajah kebingungannya “usia ? hmm… mungkin 13 atau 14 tahun…” ‘hmm…
harusnya di Fan Jian, usiaku 13 tahunan kan ? ah… jika di Shen Jie, mereka
mengatakan usiaku sama saja dengan anak usia 5 tahun. Tapi di Fan Jian, gadis
yang sama tinggi denganku berkisar antara 12 – 15 tahun. Menjawab 13 – 14
tahun, harusnya tidak salah kan ! Ah entahlah…’ kebingungan sendiri.
Xian Lian yang dalam pemikirannya sendiri, tidak melihat mata para pria yang terbelalak.
Masing-masing pria mengamati tubuh Xian Lian yang mungil dan menurut mereka,
sesuai dengan usia yang dikatakan Xian Lian.
Sementara ada sinar kesedihan di mata Xing ‘Lian tidak mengetahui usianya sendiri…
tampaknya, kehidupan Xian Lian sebelumnya sangat menderita. Tidak mengetahui
asal usulnya bahkan…’ menghela nafas ‘Lian adalah pemuda berbakat yang baik dan
masih sangat polos. Jika salah menentukan pilihan, hidupnya akan lebih
menderita. Tidak, Lian sudah pernah menolongku, aku akan meyakinkannya untuk
ikut denganku’ Xing membatin.
Xing tersenyum, mengganti topik pembicaraan “Lian, kenapa menuju utara ? Apa ada
yang kau cari di utara ?” Xian Lian melihat sekeliling “Utara ! Hmm… aku mau ke
Gunung Kunlun…” “Gunung Kunlun ? Kau mau berguru ?” Xing menebak keinginan Xian
Lian.
Xian Lian tertawa “tanpa latar belakang sepertiku, siapa yang mau menerimaku sebagai
murid. Gunung Kunlun ! Aku hanya ingin berada di puncaknya saja. Semua
mengatakan ‘jika bisa sampai ke puncak tertinggi Gunung Kunlun, sama saja telah
menyentuh langit’. Aku mau menyentuh langit” tersenyum manis pada Xing.
Xing tersenyum, membelai kepala Xian Lian “ikut denganku, aku akan mengajarimu,
bagaimana ?” Xian Lian menggeleng “terima kasih… jalanku, harus kujalani
sendiri…” tersenyum datar.
“Tuan Lian, kenapa anda bersikeras ingin berjalan sendiri ?” Achang bertanya,
penasaran dengan sikap keras kepala Xian Lian. Xian Lian memainkan wajahnya
“hmm… mungkin karena trauma atau sudah lelah berharap, hingga membentukku
__ADS_1
menjadi pria yang tidak mau berhutang budi” tersenyum menjawab pertanyaan
Achang. Jawaban sederhana Xian Lian, membuat semua terpana termasuk Xing.