
Pertunjukan ditutup dengan acara kembang api di langit Istana. Xian Lian bersikap acuh tak acuh, melirik Sekte Mohang "Xian er, ada apa ?" Xing menyadari sikap Xian Lian yang berubah.
Xian Lian tersenyum "tidak apa... Aku hanya mengingat dahulu ada Selir yang bisa bahasa isyarat. Sudah lama tidak melihatnya, sekarang melihatnya kembali, hanya bernostalgia" suara Xian Lian tidak keras tidak lemah, membuat sebagian besar yang di sana mendengarnya.
Xian Lian berdiri, bergandengan tangan dengan Xing "terima kasih atas kedatangan anda semua. Pengkon bersulang dengan kalian semua" mengangkat gelas arak dan mendentingkannya dengan gelas Xing, minum bersama lainnya.
Xing dan Xian Lian meninggalkan tempat perjamuan setelah bersulang bersama semua tamu. Xing bangga pada Xian Lian, bersikap apa adanya saja sudah menampilkan kharisma dan wibawanya.
Raut wajah dan suara yang pas, pada saat berbicara dan bersulang dengan semua, sudah menunjukkan Xian Lian bukanlah orang yang mudah disinggung. Sifat dingin dan acuh tak acuhnya selama acara berlangsung, membuat orang was was untuk menghampiri.
Kasus Xian Lian bersama Putri Song Lan Hua sebelumnya, sudah membuat semua was-was. Saat acara, Xian Lian berbicara dengan lembut, menunjukkan wibawa seorang kakak ipar. Di setiap saat, Xian Lian bisa menjaga pembawaan dirinya dengan baik.
Xing mengaturkan Xian Lian air mandi, untuk merilekskan tubuhnya "jaga Niang niang..." memerintah para dayang yang melayani Xian Lian. Xian Lian tetap mengusir semua dayang, hanya bisa berdiri di depan pintu. Xian Lian masih belum terbiasa di layani.
Xing menemui Tabib Yin dan Kasim Lu "Wang Jun, semua sudah meminumnya, belum terlihat adanya hal mencurigakan..." Xing memikirkan hal yang dilakukan Xian Lian "tidak, sepertinya ini hanya untuk mengantisipasi saja... Xian er tidak menunjukkan apapun" menatap kedua orang di hadapannya.
Tabib Yin penasaran "Wang Jun, apa anda tahu yang direncanakan Niang niang ?" Xing mengangkat kedua alisnya, tersenyum "Wang Jun..." Tabib Yin tidak mengerti dengan respon Xing.
__ADS_1
Kasim Lu berdehem "Tabib Yin, jika sesuai dengan pemahaman hamba pada niang niang. Niang niang tidak sedang merencanakan apapun" Tabib Yin mengerutkan kening "Kasim Lu, jadi yang tadi..."
Kasim Lu tersenyum "mungkin seperti yang dikatakan Wang Jun, ini hanya langkah antisipasi Niang niang. Selama ini, Niang niang selalu melakukan hal tepat waktu dan pada saatnya. Setiap tindakan niang niang selalu membuat kejutan baru." Tabib Yin melihat Kasim Lu dan Xing secara bergantian.
Kasim Lu mempertahankan senyumannya "Tabib Yin, hingga saat ini, kami masih belum bisa memahami niang niang dengan baik. Niang niang sangat baik, sangat sempurna, sangat polos, dan sangat berbakat." menatap Tabib Yin.
Tabib Yin menatap Xing, memberi hormat "Wang Jun, hanya memohon untuk ditugaskan di samping niang niang..." Xing mengerutkan kening "Tabib Yin, anda nampak sangat tertarik pada Xian er !" memandang dingin Tabib Yin.
Tabib Yin mengangguk, tidak menyangkal "Wang Jun, tidak menutupinya dari anda, niang niang jauh lebih berpengetahuan di bandingkan guru-guruku dahulu. Disisi niang niang, aku menemukan banyak hal tak terduga, bukan saja dibidang pengobatan tapi juga banyak hal lainnya" berguman.
Tabib Yin tersenyum "Wang Jun, awal bertemu niang niang, aku hanya menganggap niang niang sama seperti putri-putri orang kaya, sombong dan tidak berpendidikan. Tapi niang niang tidak pernah merendahkan siapapun, termasuk para dayang bahkan burung-burung itu." menunduk, menyesali kesan pertamanya.
Tabib Yin tersenyum "aku sempat menentang pengetahuan niang niang beberapa kali, tapi yang kudapatkan adalah tambahan pengetahuan dan penjelasan lengkap dari niang niang Aku sangat yakin, bahkan tabib terhebat pun tidak dapat menjelaskannya sedetail itu"
"Saat ini, apapun yang disuruh niang niang, aku akan melakukannya. Apapun bentuknya itu, selama aku bertanya pada niang niang, pasti mendapatkan pencerahan terbaik. Wang Jun, walau tidak hebat, aku juga menguasai sedikit beladiri, aku akan berusaha melindungi niang niang. Aku mohon, tempatkan aku disisi niang niang" Tabib Yin berlutut, memberi hormat pada Xing.
Xing menatap dingin Tabib Yin 'semua yang dikatakannya benar adanya. Xian er tidak bisa diprediksi, tapi jika bertanya padanya, akan mendapatkan penjelasan terlengkap. Sekarang Xian er adalah Huang Hou, pasti akan menghadapi kejamnya Istana. Ada Tabib Yin disisinya juga baik. Setidaknya Tabib Yin bisa memantau kesehatan Xian er dengan baik. Aku tidak mau melihatnya terluka lagi'.
__ADS_1
Xing berdehem "baiklah, Zhen mengizinkanmu... Layani dan lindungi Xian er dengan baik. Kau sudah lama ikut tabib Istana, tentu tahu bagaimana Istana ini. Zhen yakin Xian er bisa mengatasi semuanya, tapi Zhen tidak mau Xian er kelelahan" menyetujui permohonan Tabib Yin.
Tabib Yin sangat senang mendapat persetujuan Xing "terima kasih Wang Jun, hamba akan menjaga dan melindungi niang niang bahkan dengan nyawa hamba" Xing tersenyum "semoga tidak menjadi sebaliknya" Tabib Yin mengerutkan kening "pergilah..." Xing tidak memberi penjelasan.
Kasim Lu melihat punggung Tabib Yin yang menjauh "Wang Jun, apa anda yakin menempatkan Tabib Yin disisi niang niang ?" "Lu Zhi, kau tahu Xian er, tidak akan membiarkan dirinya sendiri berhutang budi. Hanya saja ada dia, kesehatan Xian er akan lebih terjaga" Xing berguman, Kasim Lu mengangguk.
Xing membersihkan dirinya, sebelum kembali ke kamar, menemui Xian Lian "Xian er..." melihat Xian Lian yang sedang melamun sambil memutar-mutar cangkir tehnya. Xian Lian tersenyum melihat Xing yang menghampirinya.
Xing mengecup kening Xian Lian "apa yang kau fikirkan ?" Xian Lian memainkan wajahnya "tadi Tabib Yin menemuiku, katanya akan mengikutiku. Memangnya aku mau kemana ? Apa kau merencanakan perjalanan untukku ?" Xing tertawa 'istri kecilku sangat polos'.
Xing memegang tangan Xian Lian "Tabib Yin memohon padaku untuk mengizinkannya berada di sisimu." "untuk apa berada di sisiku ?" Xian Lian bertanya dengan wajah polosnya.
Xing memainkan wajahnya "hmm... Tabib Yin berkata ingin belajar darimu... Dia sangat penasaran akan tindakan yang kau lakukan. Xian er, tidak usah memikirkannya, kau lakukan saja yang kau inginkan"
Xian Lian tidak mengerti tapi juga tidak tertarik membahasnya "ooo..." mengangkat kedua bahunya. Xing menggendong Xian Lian ke ranjang, membaringkannya. Xian Lian tersenyum manis pada Xing, membuat Xing terpesona.
Xing mencium bibir Xian Lian. Sudah beberapa kali berciuman, Xian Lian sudah tidak sekaku pertama kali. Hal ini membuat Xing memiliki akses, menjelajah ke mulut Xian Lian.
__ADS_1
Semakin dalam ciuman mereka, semakin membangkitkan hasrat Xing. Xing melepas Xian Lian yang bernafas terengah-engah bersama "Xian er, aku menginginkanmu..." Xian Lian mengerutkan kening.