
Xian Lian menggeleng "dimana Tabib Yin ?" bertanya dengan senyuman. Xing menatap Kasim Lu yang segera mencari Tabib Yin "Niang niang, Tabib Yin menunggu anda di ruangan dalam !" mengira Xian Lian tidak enak badan dan mau diperiksa.
Xian Lian mengangguk "ayo, aku menemanimu..." Xing memapah Xian Lian, menemui Tabib Yin. "Niang niang, ada apa dengan anda ?" Tabib Yin segera menghampiri Xian Lian. Xian Lian tersenyum manis "ada apa denganku ?"
Xian Lian duduk santai di kursi yang disediakan "Niang niang, anda..." Tabib Yin tidak mengerti maksud Xian Lian yang memanggilnya. Xian Lian mengeluarkan 1 botol putih dari kantong bajunya.
Xian Lian menatap Xing, yang langsung memberi kode pada Kasim Lu, menutup pintu ruangan. Xian Lian tersenyum "setelah ini akan ada perjamuan kan ?" Xing mengangguk "huh... akhirnya... aku sudah kelaparan selama semua proses itu..." memegang perutnya.
Xing tersenyum "kau lapar, kenapa tidak mengatakannya !" Xian Lian mendelik "mana ada tokoh utama, makan meninggalkan para tamunya..." Xing cekikikan " ya ya ya... Xian er adalah tokoh utama hari ini..." Xian Lian tersenyum nakal.
Kasim Lu tersenyum miring, menggelengkan kepala. Botol putih sudah berpindah ke tangan Tabib Yin "niang niang, hamba akan membuatkan anda sup pemulih..." Xian Lian memainkan wajahnya "apa pahit ? aku tidak mau lagi..." merengek.
Selama terluka dan pemulihan ini, tiap hari ada saja ramuan pemulih yang dikirim padanya. Xing, Tabib Yin, dan Kasim Lu cekikikan, melihat tingkah menggemaskan Xian Lian "aaa.. jangan tertawa... aku tidak mau minum ramuan itu lagi..." Xian Lian merengek kesal.
Xing melihat Kasim Lu dan Tabib Yin, yang segera berpamitan. Xing memeluk Xian Lian "Xian er, sebelumnya kau terluka dan tidak istirahat. Itu hanya sup pemulih, akan baik untukmu." membujuk Xian Lian.
"Aku tidak mau... tidak mau... tidak mau..." Xian Lian ngambek. Xing merasa lucu akan tingkah kekanakan Xian Lian, berusaha menahan tawanya "hmm... jika kau tidak cepat pulih, mana tahan malam pertama kita..." menggoda Xian Lian.
__ADS_1
Xian Lian mendorong Xing "apa itu malam pertama ? bukankah kita sudah bersama 2 malam ?" Xing tertawa terbahak-bahak "Malam pertama adalah malam dimana kedua tubuh dan jiwa kita bersatu. Zhen sudah menahannya 2 hari dengan susah payah, apa kau akan membuat Zhen menunggu lama ?" cemberut, merajuk pada Xian Lian.
Xian Lian mengerutkan keningnya, berusaha mengingat petunjuk dari kitab-kitab yang dibacanya. Xian Lian hanya bisa mengingat 'malam pertama, memadamkan lampu dan tidur hingga keesokan harinya'.
Xian Lian menatap intens Xing "apa yang dilakukan di malam pertama ?" bertanya dengan polosnya. Xing menutup mulutnya, mau tertawa tapi takut menyinggung Xian Lian "apa kau tidak tahu malam pertama ?" Xian Lian menggeleng "bukankah memadamkan lilin, tidur dalam kegelapan hingga keesokan paginya ?"
Xing mengerutkan kening "nah apa kau tahu, apa yang dilakukan dalam kegelapan ?" "tidur kan !" Xian Lian menjawab dengan polosnya. Xing tersenyum membelai kepala Xian Lian "Xian er-ku sangat polos dan murni. Zhen akan mengajarkanmu yang dilakukan malam pertama" Xian Lian memiringkan wajahnya.
Xing mencium bibir Xian Lian "Xian er, Zhen tidak akan kuat menahannya seperti ini. Tubuhmu masih lemah saat ini. Kita akan mempersiapkan tubuhmu untuk malam pertama. Zhen akan memberikanmu malam pertama yang tidak terlupakan" memeluk Xian Lian.
Xian Lian mengerutkan kening "Xian er, ini adalah pertama kali kita berdua. Aku tidak mungkin hanya melakukannya sekali. Aku takut menyakitimu jika tubuhmu masih lemah" Xing menjelaskan.
Xing tersenyum manis, melihat wajah Xian Lian yang menggemaskan. Xing memeluk Xian Lian 'Xian er, Zhen janji kau tidak akan kecewa' "apa kau mau beristirahat sejenak ?" Xian Lian menggeleng.
Xian Lian pasrah meminum sup pemulih buatan Tabib Yin "Niang niang, semua sudah siap !" Tabib Yin melapor pada Xian Lian, yang mengangguk dengan wajah cemberutnya.
Xian Lian menikmati pertunjukan. Berkat Xing, Xian Lian melepas ketegangannya, tidak lagi terpengaruh akan kehadiran pihak yang tidak disukainya. Xing tersenyum lembut, melihat senyum ceria Xian Lian, menikmati pertunjukan yang disiapkan untuknya.
__ADS_1
Xing terpesona 'Xian er, kau sangat cantik !' merangkul Xian Lian. Para selir yang melihat Xing, menunjukkan kemesraannya, menggertakkan gigi dan megepalkan tangan masing-masing.
Para selir sudah berusaha keras selama ini untuk mendapatkan perhatian Xing. Berbagai macam hal mereka lakukan, hingga mencoba menaruh obat pada makanan Xing. Tidak ada satupun yang berhasil, mereka bahkan tidak dapat mendekati Xing kurang dari jarak 2 meter.
Setelah berusaha tanpa hasil, muncul Xian Lian yang langsung menerima kasih sayang Xing. Dalam hati masing-masing selir, menyimpan iri hati dan dendam tanpa alasan pada Xian Lian.
Mulai dari saat melihat wajah asli Xian Lian, baik penghuni Istana maupun pejabat, berusaha mencari informasi tentang Xian Lian. Selain hal-hal yang sudah dilakukan Xian Lian di dalam istana, tidak ada yang bisa menemukan keterangan lainnya.
Sepanjang acara, semua memperhatikan gerak gerik Xian Lian. Putri Song Lan Hua segera mengingat pemuda yang berjalan bersama Xing sebelumnya "Ah bukankah dia pemuda tampan itu !"
Putri Song Lan Hua berlari menghampiri dan menunjuk Xian Lian "bukankah kau pemuda tampan ?" Xian Lian tersenyum "Hua er, walau Pengkon sangat menyukai jiwa ceriamu itu, tapi ini masih perayaan. Apa anda tidak bisa menahan diri ?" mengejek Putri Song Lan Hua.
Putri Song Lan Hua mendelik, kemudian menatap intens Xian Lian "ah Sau Zi, kau... kau berbicara lembut padaku ?" Xian Lian memainkan wajahnya "apa kau mau aku berbicara kasar padamu ?" kata-kata spontan Xian Lian, membuat Xing dan Kasim Lu menahan tawa.
Putri Song Lan Hua terbengong dan menggelengkan kepala. "Hua er, kembalilah ke tempat dudukmu..." Xing memperingati dengan dingin. Putri Song Lan Hua melihat Xing "Huang siong..." ingin protes, tapi sadar sedang berada dalam acara perayaan. Putri Song Lan Hua memberi hormat dan kembali ke tempat duduknya.
Xing merangkul Xian Lian "sudah dapat menerima Hua er ?" Xian Lian mengangkat kedua alisnya "dia hanya anak kecil yang nakal... wajar untuk anak seusianya..."Xing menutup mulut, menahan tawa.
__ADS_1
'Niang niang, apa anda sadar dengan yang anda ucapkan ? usia Gong Zhu sama dengan anda. Mengatakan kenakalan, siapa yang bisa mengalahkan anda' Kasim Lu membatin, mengingat hal-hal yang dilakukan Xian Lian sebelumnya.
Xing menatap Xian Lian 'Xian er, kau bisa mengatakan Hua er, bagaimana denganmu sendiri ? Setidaknya Hua er memiliki Selir Han yang menyayanginya. Xian er, kau memang masih polos, tapi juga sangat mandiri. Semua putri di Istana ini, tidak ada satupun yang dapat menyamaimu.' membatin, bersedih untuk Xian Lian.