
Siluman duduk dengan wajah serius, tidak segarang tadi "kami hanya mengetahui beberapa dari teman-teman di luar sini" Xian Lian menatap intens Siluman, menunggu penjelasan selanjutnya.
Sebelum meneruskan kata-katanya, siluman melihat ke belakangnya dan kembali fokus ke Xian Lian "dahulu, leluhur Sekte Mohang pernah mendapat berkah dari seorang Dewa, bisa berkomunikasi dengan beberapa jenis hewan. Mereka hidup dengan rukun, para hewan banyak membantu kehidupan Sekte Mohang..." berhenti sejenak.
Xian Lian menunggu dengan sabar, kata-kata selanjutnya siluman "tapi sebagian Sekte Mohang menjadi tamak, berniat menguasai dan mengendalikan para hewan. Mereka mempelajari aliran gelap dan memaksa para hewan melakukan pekerjaan keji. Para hewan yang meronta, dibunuh dan dibakar." Siluman melanjutkan dengan mata yang memendam amarah.
Xian Lian mengerutkan kening "apa para hewan tidak bisa melarikan diri ?" Siluman menatap Xian Lian "jika bisa melarikan diri, mereka sudah melarikan diri..." kata-kata siluman, menambah kerutan di wajah Xian Lian.
"Mereka seperti terikat, tidak bisa melarikan diri. Setiap kali dipanggil, mereka akan patuh mendatangi dan menjalankan. Ada yang meronta, entah bagaimana terbakar hidup-hidup di tempat" Siluman meneruskan kata-katanya.
Xian Lian bisa merasakan aura kesedihan di sekelilingnya "apa kalian tahu caranya melepaskan diri dari Sekte Mohang ?" semua menggelengkan kepala "tapi salah satu teman kami pernah melihat tanda menyerupai taring di paruh salah satu burung Sekte Mohang" salah satu siluman di belakang mereka menjawab.
Xian Lian berfikir "taring ? apa Sekte Mohang memiliki hubungan dengan siluman ?" "hal ini kami tidak tahu... Sekte Mohang tersebar dimana-mana, jika tidak teliti tidak akan menyadarinya." Siluman menambahkan.
Xian Lian merenung "Sekte Mohang terbagi menjadi 2, ada yang tidak terpengaruh aliran hitam. Tapi aliran ini sudah sangat jarang keberadaannya, kemungkinan menyembunyikan diri. Ada yang mengatakan, Sekte Mohang yang tidak mau tunduk, dibunuh sebagai contoh untuk lainnya" "bunuh..." mata Xian Lian berubah tajam mendengar kata-kata siluman.
Xian Lian melihat sekelilingnya "bagaimana kalian bisa lolos dari Sekte Mohang ?" "ah ini adalah batas Sekte Mohang" siluman menjawab "batas ?" Xian Lian penasaran "saat mendapat berkah, wilayah hutan ini adalah yang dilindungi. Hutan ini khusus untuk mereka yang mau hidup bebas tanpa berhubungan dengan makhluk fana. Tapi beberapa tahun ini, sudah ada beberapa yang mencoba menyerang." siluman melihat sekeliling.
__ADS_1
"Bagaimana kalian meloloskan diri ?" Xian Lian menjadi penasaran "anda adalah makhluk fana, tidak bisa melihatnya tapi sebenarnya di sekitar hutan ini terpasang pelindung" Siluman tersenyum "ah maksud anda lapisan kuning di sekitar hutan itu ?" Xian Lian menebak.
Siluman mengerutkan kening "anda bisa melihatnya ? anda ?" Xian Lian mengangguk "awalnya tidak melihat, tapi 5 hari yang lalu, bisa melihatnya dalam kesadaranku..." menjawab spontan.
Siluman tersenyum "anda adalah gadis yang langka. Dalam 25 hari bisa mencapai kesadaran pemurnian alam." Xian Lian tersenyum manis "huh... aku sebenarnya masih ingin bertapa hingga memahami cara berkomunikasi kalian, tapi aku harus kembali saat ini."
Siluman berdiri "anda bisa kesini kapan saja... kami menerima anda..." memberikan senyuman tulus "ehm... baik, lain kali aku akan bertapa disini lagi... ah aku akan mencari cara untuk membebaskan teman-teman kalian..." Xian Lian berkata dengan mengangguk-anggukkan kepala tanpa melihat siluman.
Siluman segera menggeleng "jangan... jika anda bertemu Sekte Moheng, sebaiknya anda menjauhinya. Anda masih sangat muda, bukan lawan mereka. Anda masih belum tahu betapa kejamnya mereka..." menasehati Xian Lian.
Xian Lian kembali ke istana dengan pakaian pria "Lian dianxia, yang mulia sudah menunggu anda..." Kasim Lu segera menghampiri begitu mendengar laporan pengawal. Xian Lian menghela nafas "Kasim Lu, bisakah nanti saja bertemu yang mulia ? Aku lelah sekali..." memandang Kasim Lu dengan wajah cemberut.
Kasim Lu mengamati wajah Xian Lian yang memang tampak sangat lelah "baiklah dianxia. Silahkan, hamba mengantar anda kembali ke ruangan..." Xian Lian mengangguk, mengikuti langkah Kasim Lu. Kasim Lu segera mengatur para dayang untuk membantu Xian Lian dan segera bergegas melapor ke Xing.
Kasim Lu kembali ke aula pertemuan. Saat laporan datang, Xing sedang menjamu utusan Sekte Mohang. Kasim Lu berbisik di telinga Xing, Xing segera menatap Kasim Lu yang mengangguk dengan senyuman.
Wajah Xing langsung berubah "maaf, yang mulia permisi..." segera meninggalkan aula pada Kasim Lu. Xing langsung menemui Xian Lian yang sudah tertidur "bagaimana dianxia ?" bertanya pada tabib yang sedang menunggunya bersama para dayang.
__ADS_1
Kasim Lu sudah mengaturkan tabib memeriksa Xian Lian, sebelum meninggalkannya. Kasim Lu menerima laporan Xian Lian yang terluka dari beberapa dayang. Melihat kedatangan Xing, tabib dan para dayang ikut masuk ke ruangan. Tabib segera memeriksa Xian Lian yang sudah tertidur.
Tabib mengerutkan kening dan tersenyum menggelengkan kepala "yang mulia, nyawa dianxia sangat banyak. Maafkan hamba, hamba sangat penasaran cara dianxia bisa melalui semua ini. Luka-luka dianxia, ada yang melukai nadi pentingnya, tapi saat ini nadi dianxia yang terluka seperti bertumbuh dan menyambung dengan sendirinya" penjelasannya membuat Xing bingung.
"Bagaimana sebenarnya kondisi Xian Lian ?" Xing sangat cemas "yang mulia, luka dianxia masih ada beberapa yang terbuka, tapi sudah tidak parah. Tubuh lelah dianxia saat ini, seperti yang dijumpai pada para pertapa yang menyelesaikan pertapaannya. Selain gizi yang kurang dan luka-luka ini, dianxia tidak berada dalam bahaya" Tabib menjelaskan kembali kondisi terkini Xian Lian.
Mendengar Xian Lian yang tidak dalam bahaya, Xing mnghela nafas lega. Xing mengerutkan kening, mengamati Xian Lian yang terlihat mengurus dan semakin mungil.Xing duduk di sisi ranjang, memegang tangan kecil Xian Lian "siapkan makanan bergizi untuk dianxia... dia pasti sudah lama tidak makan kenyang..." memerintah para dayang.
Xing menunggui Xian Lian yang tidur sehari semalam "huh dia pasti sangat lelah, bahkan perutnya yang meronta ini tidak sanggup membangunkannya..." menggelengkan kepala dengan senyum pasrah.
Xian Lian yang bangun, langsung merasakan perutnya yang meronta "ah laparnya.." "akhirnya kau bangun juga... Lu Zhi..." Xing yang duduk di sisinya segera memanggil. Kasim Lu langsung masuk dengan beberapa dayang yang membawa makanan.
Xian Lian melihatnya dengan liur yang hampir menetes "itu semua untukku ?" bertanya pada Xing. Xing tidak dapat menahan tawa, melihat wajah Xian Lian yang menggemaskan.
Xian Lian cemberut melihat Xing yang menertawakanya. Xing menahan tawa, berdiri dan menarik Xian Lian "iya kesayanganku... ini semua untukmu... ayo, cepatlah, kau sudah melewatkan 3 kali makan..." Xian Lian langsung tersenyum manis dan ikut Xing ke meja makan.
Xing terus menambahkan makanan Xian Lian "kenapa kau tidak makan ?" Xian Lian melihat mangkuk Xing yang masih bersih. Xian Lian mengambilkan makanan untuk Xing "ayo, kau juga makan... aku sendiri tidak bisa menghabiskan semua makanan ini..." tersenyum manis pada Xing.
__ADS_1