
Xian Lian berdiri dan merenggangkan ototnya “ah gatal sekali…” memegang bahunya.
“Tabib mengatakan kau dalam proses pemulihan, masih harus banyak beristirahat…”
Xing menasehati, Xian Lian mengangguk “setelah menyelesaikan ini, aku akan
beristirahat…” tersenyum.
Achang dan Alu segera kembali menemui mereka “Lian dianxia, apa yang dilakukan
selanjutnya ?” Xian Lian menatap Xing “aku tidak tahu sudah sampai tahap apa,
tapi kau perlu mewaspadai kedua pasangan itu. Kemungkinan mereka memiliki
hubungan dengan Sekte Mohang. Mengenai kedua pasangan itu, kau selesaikanlah
sendiri…” Xing mengerutkan kening dan mengangguk.
“Dianxia, bagaimana dengan para selir itu ?” Kasim Lu bertanya. Aura Xian Lian berubah
dingin “Kasim Lu, apa anda yakin mereka selir Wang Jun yang ini ?” semua
mengerutkan kening. “Aku tidak tahu nama mereka, tapi yang kedua dan ketiga
tadi, aku pernah melihat mereka bersama Tuan Han. Sementara yang kesatu itu,
membawa kantong aroma mahogani bersamanya. Terakhir yang keempat itu…” Xian
Lian tersenyum sinis.
“Dianxia, ada apa dengan yang keempat ?” Alu bertanya dengan penasaran. Xian Lian menatap
tajam gerbang aula “Dia bukan hanya pengikut Sekte Mohang biasa…” semua
terkejut. Xing mengerutkan kening dan berfikir “Bagaimana mereka bisa
berhubungan ? Lu Zhi…” menatap tajam Kasim Lu.
Kasim Lu segera memberi hormat “Wang Jun, sudah ada yang mengawasi, Selir Du tidak
pernah berhubungan dengan siapapun…” Xian Lian memainkan jari-jari tangannya
“bahkan di hadapan kalian saja, dia berkomunikasi…” Xing mengerutkan kening.
Xing menatap intens Xian Lian “Siapa ?” Xian Lian memijat keningnya “Haih… aku tidak
tahu siapa… aku bahkan tidak mengenal satupun dari mereka, kenapa menargetkanku
? ck…” langsung berubah ke wajah polosnya, Xing tercengang.
Xian Lian menatap Xing “Ayo, melihat mereka, aku akan memberitahumu yang mana !”
Xing mengangguk dan membawa Xian Lian bertemu keempat selir “Ehm… Selir Tun kan
?” Keempat pria kebingungan melihat Xian Lian “anda adalah ?” Selir Tun
bertanya sopan.
Xian Lian tersenyum dingin “anda bisa memanggilku Tuan Lian…” “Ah Tuan Lian, senang
bertemu anda…” Selir Tun menyapa dengan sopan “hmm… kata-kata baik… sayangnya,
aku tidak senang bertemu anda…” Xian Lian langsung berubah menatap tajam Selir
Tun.
Selir Tun terkejut dan segera menunduk “maaf Tuan, apa yang mulia ada melakukan
__ADS_1
kesalahan pada anda ? Yang mulia sepertinya tidak mengenal anda…” masih dengan
sopan. Xian Lian tersenyum dingin “nah kalau seperti itu, maukah Selir Tun berjalan
bersamaku untuk saling mengenal, silahkan…” mempersila dengan tangannya.
Selir Tun mengangguk dan berjalan bersama Xian Lian, keluar dari ruangan “Apa yang
ingin Tuan bicarakan ?” Xian Lian tersenyum “bahkan ketika bersamaki, anda
tidak bisa menyembunyikan kebiasaan anda. Apakah saat mereka mengutusmu, tidak
memikirkan kelemahan ini ?” menghentikan langkahnya dan menatap dingin Selir
Tun.
Selir Tun mengerutkan kening “apa yang Tuan bicarakan ? yang mulia tidak mengerti !”
Xian Lian tersenyum dan mengangguk “anda bisa berpura-pura di hadapan lainnya,
tapi maaf hal itu tidak berjalan padaku !” memainkan jari-jarinya.
Selir Tun menatap keatas langit “hahaha… tidak perlu mencari bantuan, mereka tidak
akan membantumu hari ini !” Xian Lian berkata dingin. “Apa yang mau kau lakukan
? Aku adalah selir Wang Jun…” masih menyombongkan diri, walaupun keringat di
telinganya, tidak bisa membohongi kegugupan Selir Tun.
Xian Lian tersenyum dingin “apa yang kulakukan ? Seperti yang kau katakan, kau
adalah selir yang mulia” kembali menatap tajam Selir Tun “tapi hal yang tidak
bisa kulakukan, tidak berarti mereka tidak mampu melakukannya !”
Selir Tun bergetar dan memundurkan langkahnya “Apa ? Apa yang kau lakukan ?” melihat
melihat Selir Tun yang terus mundur “Selir Tun, aku sangat pendendam… Anda
menginginkan nyawaku, maka akupun tidak akan sungkan membalasnya…”.
Selir Tun mempercepat langkahnya “tidak… tidak… harusnya kau yang mati…” berlari. Segera
ada segerombolan lebah yang menyerangnya, hingga Selir Tun jatuh ketanah,
meraung-raung dan terdiam dalam kondisi luka parah.
Keempat pria yang melihatnya, bergidik ngeri “bawa dia kembali, masih bisa hidup
beberapa hari…” Xian Lian berkata santai. Kasim Lu saling melihat dengan kedua
prajurit “Ehm… Lian dianxia, apa harus membunuhnya ?” Alu bertanya.
Xian Lian membesarkan matanya, melihat Alu “Alu shushu, aku tidak mengatakan
membunuhnya” sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ketiga pria mengerutkan
kening “bawa dia kembali, awasi setiap hal yang terjadi padanya…” Xing
memerintah sambil merangkul Xian Lian.
Xing menatap Xian Lian “Xian Lian, bagaimana kau tahu cara berkomunikasinya ?”
penasaran. Xian Lian menatap Xing sejenak “hal ini… kemarilah…” membawa semua
mendekati Selir Tun “apa tabib tidak pernah memeriksanya ?” bertanya tanpa
__ADS_1
mengharap jawaban.
Xian Lian melihat kesana kemari, mengambil sebuah batang kayu dan kembali ke sisi
Selir Tun “lihat perbedaan tangannya…” memakai batang kayu, mengangkat tangan
Selir Tun.
Xian Lian melihat wajah kebingungan keempat pria, berdecak “ck… haih… bagaimana kalian tidak dikelabui
terus menerus… jari-jari Selir Tun, lebih lentik, terutama kedua jari ini,
sudah terkepal dan membengkok” keempat pria memperhatikan.
“Dianxia, apa yang aneh dengan hal itu ?” Kasim Lu tidak mengerti. Xian Lian berdiri,
dengan batang kayu menunjuk Achang dan Alu “sama seperti Achang shushu dan Alu
shushu yang memegang pedang salah selama bertahun-tahun. Selir Tun sudah
memegang kuas kecil selama bertahun-tahun”. Menjelaskan.
Xian Lian mengamati Selir Tun “ah ini dia…” mengeluarkan sapu tangan, mengambil
cincin dari jari Selir Tun. Xian Lian menangkap seekor lebah “hmm… kemarilah…”
mengajak semua ke bangku taman.
“Apa ada sarung tangan ?” Xian Lian bertanya pada keempat pria “ini dianxia…” Alu
mengeluarkan sepasang sarung tangan. Xing membantu memasangkan sarung tangan ke
tangan Xian Lian.
Setelahnya, Xian Lian mengutak atik cincin, yang ternyata memiliki lapisan berbentuk cermin
“maaf lebah kecil… aku tidak akan menyakitimu…” memandang ke langit, kearah
matahari. Xian Lian menyenter si lebah memakai cermin di cincin. Seketika
muncul beberapa tulisan di hadapan mereka.
Hanya sesaat, Xian Lian menyudahinya “nah pergilah…” melepaskan lebah kecil.
“Dianxia, maksud anda, Selir Tun berkomunikasi melalui lebah-lebah ini ?”
Achang bertanya.
Xian Lian memainkan wajahnya “dia memakai hewan-hewan ini untuk berkomunikasi jarak
jauh. Mereka menggunakan bahasa isyarat dalam berkomunikasi. Baik mata, hidung,
bibir, bahkan telinga bisa mereka gunakan untuk komunikasi” menjelaskan acuh
tak acuh.
“Xian Lian, bagaimana kau mengetahui hal ini ?” Xing penasaran. “Ingat pembunuh yang
menyerang di danau ?” Xian Lian bertanya dan mendapat anggukan semuanya. “Di
akhir hidupnya, mengirim kode ke langit… Awalnya aku bingung dengan tingkahnya.
Kenapa orang yang sudah terluka parah, bersusah payah menggerakkan telinga dan
hidungnya ? Saat mengamati jasadnya, aku juga tidak menemukan apapun. Hanya
berselang beberapa menit, beberapa orang sampai ke danau. Hal yang sama
__ADS_1
terjadi, mereka juga melihat ke langit dengan menggerakkan anggota wajahnya”
keempat pria mengangguk, memahami penjelasan Xian Lian.