
Dengan perasaan yang tak karuan, antara menyanggupi atau menolak nya. Antara masuk atau pergi dari tempat dia berbijak sekarang ini. Kini Maya di buat delima sendiri dengan keputusan yang akan dia ambil.
Sebab, kini Maya sudah berdiri di depan pintu kamar seseorang laki-laki. Yang kata nya sang manajer bilang, laki-laki yang berada di dalam kamar ini, sangat mampu menyelesaikan masalah yang kini dia hadapi.
Hati Maya benar-benar sakit, jika dia sampai melakukan ONS (One Night Stand)
Hubungan suami istri, dalam ONS alias 'cinta satu malam' ini hanya terjadi sekali dengan orang yang sama.
Sedangkan dengan FWB yang bisa terjadi berkali-kali karena faktor sudah saling mengenal atau berteman.
Mengingat hubungan suami istri, membuat Maya mengingat kembali kepingan-kepingan masa lalu nya saat dia berada di negara Singapura.
Kepingan-kepingan masa lalu kini kembali menghilang dan potongan-potongan kebersamaan dengan sang ibu nya kini mulai bermunculan di depan mata Maya.
''Demi ibu, ya, demi ibu.'' Gumam Maya, sambil meremas kedua tangan nya sendiri. Bergerak pasti, Maya meraih knop pintu kamar tersebut. Tidak memperdulikan kondisi tangan nya yang kini sudah bergetar sangat hebat.
''Semoga saja, keputusan aku tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.'' Doa Maya di dalam hati yang paling dalam.
Setelah pintu terbuka, Maya bisa melihat punggung seorang laki-laki yang duduk membelakangi pintu, dengan pencahayaan lampu yang minim, membuat Maya cepat berkeringat dingin.
Bahkan kedua kaki Maya terasa berat, untuk melangkah masuk kedalam kamar lebih jauh lagi.
__ADS_1
''Jika kamu masih ragu, kamu bisa keluar sekarang juga.'' Bukan suara lembut nan menggoda yang menyambut nya, melainkan suara bariton nan tegas, yang kini justru menyambut nya.
''Boleh kah saya menghidupkan lampu nya. ?'' Tanya Maya, seenggak nya dia bisa melihat wajah laki-laki yang akan menghabiskan malam bersama. Bila perlu, dia harus bisa bernegosiasi dengan laki-laki di depan nya saat ini.
''Apa kamu buta,. ? Kalau di samping kamu berdiri ada lampu tidur yang menyala. ''
''Bu-bukan itu maksud sa_______''
''Jika kamu masih ingin berdiri di situ, lebih baik kamu berbalik dan pergi dari kamar saya.'' Ketus Bastian.
Maya yang mendengar hal itu, Maya segera menggeleng dengan cepat. ''Apa yang harus sa-saya lakukan.''
''Kemari lah.''
''Saat ini saya berubah pikiran, mengingat kamu yang bekerja di sebuah Club malam seperti ini. Aku menjadi tak yakin, jika kamu masih suci.'' Cibir Bastian.
Maya menggenggam erat kedua telapak tangan nya, mencoba menahan amarah nya yang siap meledak. ''Lalu, kenapa kamu menawarkan diri jika kamu ingin One Night Stand dengan ku.'' Sahut Maya tak kalah ketus nya.
''Ini baca.'' Melempar sebuah angklop yang mendominasi warna coklat itu di depan Maya dengan begitu kasar.
''Bahkan, saya menawarkan lebih dari sekedar One Night Stand dengan mu. Justru aku menawarkan diri ku, untuk kamu menikah dengan ku.''
__ADS_1
''Saya tidak mengerti apa yang kamu maksud.? Sebuah pernikahan, lalu, pernikahan apa yang kamu maksud.?''
''Kamu hanya cukup baca, dan mendatangani nya di bawah sana. Dan untuk selanjut nya, nanti saya kasih tau apa yang harus kamu lakukan. ?''
''Saya tidak ingin mempermainkan sebuah pernikahan.''
''Oh iya, lalu kamu ingin ibu mu meninggal gara-gara kamu menjujung tinggi sebuah pernikahan.'' Sinis Bastian, tanpa sedikit pun melihat ke arah lawan bicara nya.
''Tinggal lima belas menit lagi, ibu mu akan berpindah alam.''
''Kau.'' Geram Maya.
Dan langsung meraih angklop tersebut dengan kasar, Meskipun dengan sekilas, Maya masih sempat kan untuk membaca isi dari kertas tersebut.
''Setelah kamu mendatangani surat itu, saat itu juga biaya rumah sakit atas nama ibu mu akan segera lunas.''
Maya menghembuskan nafas berat nya beberapa waktu. Dia tidak tau apa yang akan terjadi selanjut nya.?
''Semoga ini yang terbaik, demi ibu.'' Batin Maya, dengan bolpoin bergerak di atas keras tersebut.
''Jadi lah istri yang menurut, setelah menikah nanti.'' Beranjak berdiri dari tempat nya, setelah mengambil angklop serta kertas tersebut.
__ADS_1
''Dan satu hal lagi, simpan nomer milik ku jika nanti saya menghubungi kamu, mengerti bukan. '' Tanpa menunggu balasan dari Maya. Bastian sudah menghilang di balik pintu.
Maya mengangguk lemah, ''Iya.'' Jawab Maya meskipun tidak di dengar oleh laki-laki tersebut.