
Kebohongan, pengkhianatan, kecurangan seseorang hanya akan menimbulkan rasa sakit dan dendam dalam sebuah hubungan. Hal itu mengguncang fondasi kepercayaan dan membuat orang tidak mempercayaimu.
Bersikap jujur mungkin tampak berat, atau mungkin tidak tampak menghibur pada awalnya, tetapi itu tidak akan mengecewakanmu.
Meskipun malas, Maya tetap tidak ingin kehilangan momen pagi yang segar nan sejuk pagi ini.
Membuka tirai, kemudian beralih membuka pintu menuju balkon. Merentangkan kedua tangan nya lebar-lebar, menghirup udara segar dengan kedua mata nya terpejam. Meresapi setiap udara yang memasuki celah-celah rongga paru-paru nya.
''Terima kasih ya Tuhan, engkau masih memberiku kesempatan menikmati sejuk nya pagi ini.'' Gumam Maya, sambil menggerakkan kedua belahan tangan nya, layak nya sebuah pemanasan.
''Brengsek, bagaimana bisa. ?'' Mengumpat sambil mencengkram kerah kemeja Leon.
''Maaf Bas, aku akui semua ini murni kesalahanku. Aku lupa memberi pesan kepada anak buah ku yang berada di sana. Jika pada hari kemarin, chanel dari Indonesia jangan di munculkan meskipun pasien nya memaksa. Dan saat itu, aku sudah kecolongan yang akhir nya membuat Ibu Lili Anfal seketika.''
Mendorong kasar sang asisten nya, yang hampir terjungkal kebelakang. ''Bagaimana dengan ke adaan nya. ?'' Tanya nya yang berusaha tenang, berusaha mengendalikan emosi nya yang sudah berada di ubun-ubun.
Maya Menyipitkan sebelah mata nya, mendengar suara suami kontrak nya di indra pendengaran nya.
__ADS_1
Menelisik setiap orang yang berjalan di sekitar taman yang berada di Hotel dari atas.
''Ck, semalaman gak nongol dan sepagi ini sudah bertengkar dengan Leon, asisten nya. Merusak pemandangan yang indah aja pagi ini.'' Racau Maya, yang masih memperhatikan mereka berdua yang terlihat bertengkar dari balkon lantai dua.
...****************...
Sesampai di bawah, Bastian segera menghubungi asisten nya. Setelah terhubung ternyata Leon sudah menunggu nya di bangku taman yang di sediakan oleh Hotel sebagai penghijauan.
''Ada apa.?" Tanya nya usai sampai di samping Leon duduk.
"Ibu Lili mendadak Anfal."
"Ibu Lili kondisi nya kritis, dan untuk kembali pulih seperti sebelum nya, mustahil. Sebab, hanya ada beberapa persen saja dan itu pun sangat tipis. Dokter di sana bilang, operasi yang di jalankan beberapa minggu yang lalu bisa di katakan gagal. "
''Brengsek, bagaimana bisa. ?'' Mengumpat sambil mencengkram kerah kemeja Leon.
''Maaf Bas, aku akui semua ini murni kesalahanku. Aku lupa memberi pesan kepada anak buah ku yang berada di sana. Jika pada hari kemarin, chanel dari Indonesia jangan di munculkan meskipun pasien nya memaksa. Dan saat itu, aku sudah kecolongan yang akhir nya membuat Ibu Lili Anfal seketika.''
__ADS_1
Mendorong kasar sang asisten nya, yang hampir terjungkal kebelakang. ''Pokok nya aku gak mau tau, ibu nya Maya harus bisa di selamatkan, apa pun cara nya, dan berapa pun biaya nya.?'' Titah Bastian tegas, yang masih berusaha tenang, berusaha mengendalikan emosi nya yang sudah berada di ubun-ubun.
"Tapi_________"
"Gak ada tapi-tapian, pokok nya hari ini juga kamu harus tiba di sana.!"
"Akan ku usahakan." Pasrah Leon.
"Harus, itu sudah menjadi tugas seorang asisten." Sinis nya, sambil berlalu pergi.
"Tunggu."
"Apa lagi. ?" Bentak Bastian kesal.
"Semalam Nyonya Lidya mengetahui siapa wanita berambut pirang.? Ku pikir, kamu lebih berwaspada lagi sebelum di mulai justru terbongkar." Leon tersenyum menyeringai kemudian melewati tuan nya yang terlihat menegang.
''Dari atas, Maya, istri mu sedang memperhatikan kita. Cari lah alasan yang tepat untuk istri mu, sebelum istri mu di interogasi oleh Nyonya Lidya. Dan berakhir usaha mu sia-sia memperistri Clara Calista.'' Bisik nya, mengandung sebuah ejekan.
__ADS_1
Bastian menjambak rambut nya frustasi. "Sialan" Umpat nya, dengan sorot mata menatap Maya begitu tajam.