
Tanpa di rasa waktu terus berputar, senja mulai terlihat dari bagian waktu dalam hari atau keadaan setengah gelap di bumi sesudah matahari terbenam. Ketika piringan matahari secara keseluruhan telah hilang dari cakrawala. Waktu ini dimulai setelah matahari tenggelam saat cahaya masih terlihat di langit hingga datangnya waktu malam saat cahaya merah benar-benar hilang.
Mama Lidya menatap intens bola mata Maya, seakan Maya menjadi tersangka dalam kasus yang sangat mengerikan. ''Biar ku tebak, semua jawaban yang keluar dari mulut manis mu itu tak sesungguh nya benar-benar nyata.'' Tebakan Mama Lidya sungguh tak meleset sedikit pun dari kenyataan, Maya sempat berpikir, sebodoh itu kah diri nya melakoni sebuah peran. Hanya tinggal menjawab dengan nada meyakinkan saja, diri nya tak bisa sehingga cepat sekali mudah di tebak.
Bola mata Maya sempat melirik ke arah punggung laki-laki yang sedang menerima telepon di sisi kiri dekat pintu bagian samping.
Diam-diam Maya menghela nafas panjang, dia rasa, duduk nyaman nya sejak tadi sudah mulai terasa panas dan juga pegal, sambil menggeser ke arah yang lebih nyaman Maya berucap. ''Biar Nyonya percaya dengan ku, kira-kira apa yang harus aku lakukan. ?'' Maya menaikan ujung alis nya sesaat, sambil menunggu jawaban dari wanita paruh baya duduk di depan nya itu. Lelah sudah Maya, di Intimidasi dari pertama bertemu hingga sampai detik ini.
''Maaf Nyonya, jika ucapkan aku sedikit lancang barusan.'' Mohon Maya dengan raut wajah yang sangat menyesal dengan keadaan nya saat ini. Sehingga membuat diri nya bertindak sedikit tak sopan ke pada yang lebih tua.
''Menikah lah dengan putra ku, dengan satu syarat.!'' Menjeda sesaat, Mama Lidya menelisik dalam-dalam bola mata Maya.
__ADS_1
Sedangkan yang di tatap, justru di buat salah tingkah, takut nya ada sesuatu yang tak di inginkan bakal terjadi pada diri nya.
''Satu syarat.'' Ulang Maya, sambil memiringkan sedikit kepala dengan kening mengerut.
''Iya, satu syarat. Pernikahan kalian berdua harus diadakan secara besar-besaran. Supaya semua orang tau, kalau putra ku Bastian Candra Aditya sudah menikah secara sah agama dan juga negara.'' Ucap Mama Lidya secara lantang, ada maksud tertentu di balik merestui putra nya itu menikah dengan pilihan putra nya sendiri.
Sedangkan di tempat Bastian menerima telepon, Bastian di buat cukup terkejut dengan suara lantang sang Mama nya, apa lagi menyangkut soal pernikahan. ?
''Sayang, kenapa diam. ?Apa kamu masih ada di sana.?'' Keluh Clara saat di ajak bicara tiada sautan dari seberang.
''Sayang.''
__ADS_1
''Eh i iya, ya sayang a-aaku mendengar nya dan masih stand by di sini.'' Balas Bastian terbata-bata, akibat pikiran nya terpecah belah dengan obrolan sang Mama dengan wanita yang sengaja dia bawa pulang ke rumah untuk di perkenalkan. Membuat Bastian tak mendengarkan apa yang di ucapkan oleh sang kekasih nya itu ke pada nya.
''Bagaimana, apa kalian berdua sudah mendapatkan restu. ?'' Cemas Clara menggigit kecil bibir bagian bawah dengan jantung deg-deg kan.
''Sudah sayang sudah, aku dengan wanita malam itu sudah mengantongi restu dari Mama. Kini saat nya, kamu mempersiapkan pernikahan kita berdua.'' Bastian tersenyum lebar, saat membayangkan pernikahan diri nya dengan Clara terwujud, akhir nya terwujud, meskipun secara sirih.
...----------------...
Up nya lama ya 🙏🙏🙏.
Ada acara mantenan, ngunduh mantu, bocil pada meriang. 😭 jadi gak sempat nulis.
__ADS_1
Belum juga, ada peraturan baru dari NT soal level di hapus. Tiba-tiba saja mood ku buruk, imbas nya jadi males menulis dam juga berfikir.