Pra Nikah Dan Perselingkuhan

Pra Nikah Dan Perselingkuhan
Bab 50


__ADS_3

Dua jam tidak lah waktu yang sebentar, Bastian sudah menghubungi sang asisten pribadi nya yang dia tugas kan untuk menjaga ibu dari istri nya yang saat ini berada di luar negeri.


Istri, sejak kapan Bastian menganggap Maya seorang istri. ?


Entahlah.


''Ck, baru akan di mulai, kenapa bisa seperti ini. ?'' Decakan bercampur tak percaya yang bisa Bastian lakukan.


Jujur, bukan hal ini yang Bastian inginkan. Tujuan mereka menikah adalah, saling menguntungkan satu sama lain. Jika sudah seperti ini, bagaimana dengan kelanjutan nya. ? Menjambak rambut nya frustasi.


Bastian menggeram tertahan, rahang mengetat, kepalan tangan berulang kali memukul keramik wastafel penginapan.


Bastian segera cepat menghubungi seseorang yang bisa dia andalan selain Leon.


''Urus semua keperluan pemakaman Ibu Lily, dan cari tempat pemakaman yang terdekat dengan rumah kontrakan Maya istri ku. Dan satu hal lagi, jangan sampai keluarga saya mengetahui perihal ini. Jadi, kamu harus berhati-hati dalam bertindak.'' Titah Bastian tegas sambil memperingati orang suruhan nya.


''Baik tuan, tuan gak perlu khawatir dengan hal itu. Saya usahakan semua tindakan yang akan kami lakukan selalu dalam pengawasan yang ketat.'' Sahut nya dari seberang.


Usai mengatur semua acra pemakaman, Bastian kembali membasuh muka dan tidak lupa sikat gigi.

__ADS_1


Melihat sikat gigi masih bersegel belum terbuka. Bastian segera menggunakan nya sebelum bertemu dengan Maya, istri nya.


Pintu terbuka, Sorot pandangan nya tertuju pada tempat kejadian pecah nya gelas yang di lakukan oleh Maya.


Semua sudah bersih, termasuk dengan meja berserta isi nya semua nya sudah ludes tak tersisa.


Ekor mata Bastian tetap menelisik setiap sudut kamar tersebut. Mencari makhluk hidup yang tadi dia tinggal dalam keadaan ingin menangis.


''Dimana Maya. ?'' Batin nya.


Netra Bastian menangkap pintu balkon yang tidak tertutup dengan rapat. Garden yang melambai-lambai tertiup angin, sekelebatan Netral Bastian menangkap sosok perempuan yang berdiri sedikit membungkuk menatap pepohonan dengan tatapan kosong. Entah, kenapa Bastian merasa iba , dan ikut merasakan apa yang di rasakan oleh sang istri. ?


Menggeleng kuat dan menepis cepat rasa itu.


''Sebenarnya basa-basi bukan aku, karena saat ini aku lagi baik hati, jadi. Katakan lah, aku akan menjawab semua nya dengan jujur.'' Ucap Bastian dengan nada begitu lembut, melihat keadaan sang istri nya, nada tinggi yang sering ia pakai menguap entah kemana.


Pendengaran Maya cukup jitu, meskipun tanpa suara. Maya masih bisa mendengar langkah kaki dan juga merasakan ke datangan nya seseorang.


''Bagaimana keadaan ibuku.?''

__ADS_1


''Seperti yang kamu ketahui.'' Jawab nya, sama-sama tak melihat satu sama lain.


Diam-diam Maya mengusap butiran kristal menetes di kedua pipi nya. Meskipun sejak tadi dia sudah menyiapkan mental dan juga fisik kala mengetahui kenyataan yang tidak pernah dia inginkan, tetapi dia tak sekuat seperti orang bayangkan.


''Ka-kapan, tiba di Indonesia. ?'' Lirih nya, sekuat tenaga Maya menahan tangis. Namun, ke menit berikut nya Maya mulai terisak memilukan bagi yang mendengar.


''Besok.''


''Karena apa. ? Bukan nya ibu sedang menjalani masa pemulihan. Lalu, lalu kenapa semua menjadi seperti ini, hiks, hiks.?'' Maya menangis dengan kepala menunduk ke bawah.


''Apa, kamu bisa menjelaskan apa penyebab nya. ?'' Maya kembali bertanya, dengan nada menuntut.


Bastian menekan jantung nya, tiba-tiba berdenyut nyeri kala mendengar istri nya menangis. Apa lagi reaksi tubuh nya, seakan ingin merengkuh tubuh kecil nya sang istri yang terlihat begitu rapuh. Kedua mata bisa menahan untuk tidak melihat nya, namun, berbeda lagi dengan reaksi detak jantung nya.


''Sorry.'' Suara Bastian tercekat di tenggorokan, seakan sulit untuk mengeluarkan suara nya.


''Aku, aku hanya butuh jawaban, bu-bukan permintaan maaf.'' Terdengar begitu jelas, dari tutur kata yang di ungkapan oleh Maya. Kalau sang istri nya itu begitu sangat kecewa.


''Bi-biarkan Leon yang nanti menjelaskan.'' Hindar Bastian, diri nya akan lemah jika berhadapan dengan jantung nya.

__ADS_1


Tidak ingin terlihat lemah di depan Maya, Bastian Lebih memilih pergi menjauh terlebih dahulu dan menangkan debaran jantung nya yang tak teratur itu.


Apa lagi mendengar tangisan itu, ? Seakan mengingatkan empat tahun yang lalu.


__ADS_2