
Cinta adalah salah satu dari banyak fenomena yang belum dipahami manusia. Ini tidak selalu berarti cinta romantis, melainkan cinta jenis apa pun.
Cinta didorong oleh hasrat dan emosi sedemikian rupa sehingga mengabaikan semua tidak kesempurnaan, perbedaan, dan kewajaran.
''Bodoh nya kamu Deon, bodohnya nya kamu, gara-gara cinta kamu masih menuruti apa yang dia inginkan kan.'' Menggenggam erat besi pembatas balkon yang berada di kamar hotel yang baru saja Deon sewa.
Aaaaa akh , tertarik Deon meluapkan rasa kesal nya yang mudah lemah di depan satu wanita itu.
SEBELUM NYA.
TOK
TOK
''Masuk.'' Suara lemah terdengar dari dalam ruang kerja.
Suara high heels nyaring terdengar di indra pendengaran Deon, yang kini sedang frustasi atas hilang nya Maya semalam. Awal nya kedua kelopak mata Deon yang terpejam dengan kepala bersandar di kursi kerja nya.
Ketika mendengar suara sepatu wanita berjalan ke arah nya. Tidak secara langsung, kelopak mata Deon bergerak pelan terbuka dengan sempurna.
Seulas senyuman sinis langsung tercetak di sudut bibir Deon, dengan tatapan malas. ''Ada apa kau datang kesini lagi. ?''
__ADS_1
''Aku rindu dengan mu.'' Ucap wanita itu dengan tulus dari dalam hati kecil nya.
''Bullshit, aku tak percaya. '' Ketus Deon.
''Aku. '' Tunjuk Wanita itu di atas dada nya. ''Aku tidak peduli kamu percaya atau tidak, asalkan_____'' Wanita itu menjeda sesaat.
''Sudah ku duga, kedatangan mu kesini pasti ada sesuatu yang kamu inginkan dari ku.'' Sinis Deon, beranjak dari tempat duduk nya. Dan mengubah posisi berdiri nya mengahadap ke jendela besar di samping ruang kerja nya.
''Ayo,! Katakanlah apa yang kamu ingin kan. ? Setelah itu, enyahlah dari kantor ku Dan juga hidup ku.''
Sakit, rasa nya begitu sakit, mendengar laki-laki yang sangat dia cintai berbicara begitu kepada nya.
Semua ini hasil keputusan yang telah dia ambil, dia sendiri yang membuat laki-laki lembut dalam berucap, kini berubah menjadi membenci diri nya.
''Bercinta lah dengan ku, Aku sangat merindukan kamu. ''
''Permintaan tak masuk akal.'' Kedua tangan Deon terkepal di dalam saku celana nya.
''Putus dari Aku lima belas bulan, kamu sudah berubah menjadi seorang ******.''
DEG, wanita itu seketika membuang muka kearah lain, sambil mengusap kasar tetesan air mata yang sempat menetes dengan sendiri nya.
__ADS_1
''Sesulit itu kah, mengabulkan permintaan aku. Bahkan, dari sebelum nya kita sudah pernah melakukan nya.''
Membuang rasa malu nya dan juga harga diri nya, wanita cantik itu mulai melingkarkan kedua tangan nya ke area perut, kemudian memeluk erat tanpa ingin melepaskan. ''Anggap lah aku apa pun yang kamu mau termasuk dengan sebutan ja-lang, bahkan, jika kamu mau melakukan nya untuk ku. Aku gak apa-apa jika kamu tidak memakai hati lagi.''
''Biarkan saja selalu seperti ini, anggap saja kita tak ditakdirkan untuk bersama, atau anggap hal ini hanyalah sebuah imajinasi dari perjuangan dan pengorbanan.''
''Sebuah imajinasi dari perjuangan dan pengorbanan, tidak seperti ini. Ini seperti sebuah kenyataan, yang menyakitkan.'' Ucap Deon pelan. ''Pergilah ke tempat pertama kali kita melakukan nya.'' Putus Deon.
MASA SEKARANG.
''Semoga, pertemuan ini benar-benar yang terakhir.'' Lirih Deon sedih.
Mengambil handuk kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Air dingin lah yang saat ini Deon butuhkan, menyegarkan kembali kepala nya yang mendadak pusing memikirkan Maya entah di mana dan di susul oleh wanita di masa lalu nya yang berakhir di sebuah hotel.
Selesai mandi Deon bergegas Check-out dari hotel tersebut. Meninggalkan kenang-kenangan yang tak mungkin untuk di kenang kembali.
Berjalan keluar dari kamar penginapan yang hanya beberapa jam saja. Deon berusaha mencoba menghubungi Arif, mengingat Arif lah yang dia perintahkan untuk mencari Maya.
Sebelum menyentuh tombol hijau di layar sentuh nya, mendadak layar sentuh nya berubah menjadi panggilan masuk dengan profil Caca sedang tersenyum manis.
Seulas senyuman bahagia seketika terbit meskipun hanya melihat photo di dalam profil panggilan masuk tersebut. ''Semua beban ku seketika hilang, dengan menatap wajah manis mu my princess.'' Batin Deon, sambil senyum-senyum sendiri.
__ADS_1