Pra Nikah Dan Perselingkuhan

Pra Nikah Dan Perselingkuhan
Bab 31


__ADS_3

Kekuatan seorang ibu tidak ada duanya. Bahkan ketika dia berada di saat-saat stres, ketika dia sangat lelah baik secara mental maupun fisik, tidak ada yang akan menghentikannya.


Termasuk apa yang di lakukan oleh Maya beberapa waktu yang lalu.? Menghilangkan harga diri nya, demi bisa bertemu dengan buah hati nya yang lemas tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.


Baru yang pertama kali nya Maya bersujud di bawah kaki seseorang yang baru dia kenal sekaligus laki-laki yang menolong nyawa sang ibu tercinta. Datang secara bersamaan membuat Maya tidak memiliki pilihan lagi selain menuruti apa yang di tawarkan.


Di sisi lain Maya sangat bersyukur, tidak sia-sia usaha nya sehingga dia bisa di beri izin keluar dari Apartemen yang sudah mengurung diri nya hampir dua hari ini.


Berlari setiap lorong menuju di mana putri nya Caca di rawat inap. Tidak memperdulikan hawa sepi nan dingin yang menerpa kulit nya yang sudah sejak awal dia rasakan.


Dan, hanya bertemu satu atau dua orang sepanjang lorong rumah sakit tersebut. Namun, tidak dengan para suster-suster yang masih banyak yang berjaga.


Di saat tiba di loby sorot mata para suster menatap nya dengan sorot aneh. Seakan Maya mengetahui arti sorot mata tersebut, yang tak lain iyalah baju yang yang diri nya kenakan. Dengan bodo amat soal penampilan nya saat ini, yang hanya memakai baju tidur berlengan pendek. Semua itu tak surut kan langkah kaki nya masuk kedalam rumah sakit tersebut. Yang paling terpenting bagi nya iyalah, malam ini dia bisa menemani buah hati nya yang lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.


Deon yang tak sengaja melihat Maya ada di balik kaca persegi di daun pintu. Mengurungkan niat nya untuk kembali tidur lagi setelah buang air kecil di kamar mandi.

__ADS_1


''Baru datang atau sudah sedari tadi. ?'' Tanya nya ketika pintu sudah dia buka.


Bukan nya langsung menjawab melainkan Maya berjalan menuju kursi penunggu di depan kamar tersebut. Kemudian di ikuti oleh Deon dari belakang.


Diam nya Maya, dengan muka sendu, di tambah pakaian yang di kenakan oleh Maya. Ada rasa iba menyeruak masuk di dalam dada nya.


Keadaan nya saja sudah seperti ini, bagaimana tega dia memarahi nya atas kelalaian seorang ibu untuk anak nya.? Pikir Deon.


''Sebentar.'' Berlalu masuk kembali ke dalam ruangan Caca mengambil sesuatu.


Meletakan jas tersebut dari punggung lalu ke arah ke depan. ''Udara malam sangat dingin, tidak baik untuk kesehatan kamu.'' Ucap Deon sesudah memakaikan jas tersebut.


''Terima kasih kak, masih peduli dengan ku.''


''Shuuttt, jangan berbicara seperti itu, ! Kamu sudah aku anggap sebagai adik ku selama ini. Caca juga sudah aku anggap sebagai putri ku sendiri. Jadi, kamu jangan berpikir yang enggak-enggak atau merasa orang asing untuk ku.!'' Tegur Deon.

__ADS_1


''Dan, untuk sikap jutek nya Mama tadi, mungkin dia terlalu sayang kepada Caca sehingga Mama sangat tidak rela jika cucu nya sakit dan harus di rawat inap di rumah sakit.'' Jelas Deon, yang tidak ingin membuat Maya merasa bersalah yang berlebihan.


''Iya, kamu benar kak. Aku ini bukan mama yang baik untuk Caca. Aku benar-benar buruk sebagai orang tua yang tidak bisa memprioritaskan untuk anak nya.'' Lirih Maya di sela-sela dia menangis.


''Please, jangan berbicara seperti itu.!'' Mohon Deon. Dia sangat tau betul, kehidupan pahit yang kini tengah Maya jalani.


Sedangkan di Apartemen Clara, malam ini malam yang tidak terjadi apa pun di antara mereka berdua. Yang di mana, biasa nya mereka berdua selalu berbagi keringat saat bertemu.


Dan malam ini, malam yang sungguh berbeda, yang di mana mereka berdua kini hanya saling berpelukan saja di bawah selimut yang tebal tanpa ingin berolah raga terlebih dahulu.


''Mas.''


''Hmm, ada apa sayang. ?'' Mengusap lembut pucuk rambut sang kekasih dengan penuh kasih sayang.


''Aku ingin, kamu menikahi ku Mas?''

__ADS_1


__ADS_2