
''Kita harus pulang, kasian Mama sama adik di rumah sendirian.'' Ucap nya seraya menggenggam jemari mungil sang anak. Kemudian laki-laki itu mengalihkan atensi kepada sang anak lalu ke arah wanita yang masih memperhatikan nya sejak tadi.
''Terima kasih sudah menemani putri kecil ku, soal nya putri ku ini sedikit tak suka keramaian.'' Ucap nya yang di tunjukan pada wanita yang tadi bersama dengan putri nya.
Maya tak merespon dengan baik, dia justru menatap intens laki-laki yang Maya kira usia nya sepantaran dengan diri nya.
''Hallo, apa anda baik-baik saja. ?'' Panggil laki-laki itu kembali, sambil melambaikan tangan nya ke kanan-ke kiri
Maya mengedipkan matanya berulang kali, sebelum membuka suara nya. ''Ah ya, sa-saya baik-baik saja.'' Jawabnya sedikit kikuk.
''Bagus deh, kalau begitu kita berdua pamit pulang duluan. Dan Terima kasih, Anda mau menemani putri ku di pesta ini.'' Ungkap nya dengan tulus.
''Sama-sama, putri mu cukup menggemaskan dan asyik di ajak ngobrol. Bukan begitu Bela manis. ?''
Membuat Anak kecil itu tersenyum manis memperlihatkan cekungan di sudut bibir nya. ''Ah tante, terima kasih ya tante atas pujian nya.'' Bela sedikit malu-malu, membuat Maya terkekeh.
''Bela pamit pulang dulu ya tante, da da da.'' Ucap nya sebelum melangkah menjauh.
''Hati-hati.'' Di angguki cepat oleh gadis kecil tersebut.
''Tunggu. ''
__ADS_1
''Ya.''
''A-apakah kamu Dito. ?''
...****************...
Sedangkan di tengah-tengah pesta tersebut, pengantin Pria sedang sibuk bercengkrama dengan para teman lama nya termasuk dengan Deon. Deon yang pertama kali masuk sudah menjadi sorotan para kaum hawa, kini giliran menjadi bahan candaan dari teman-teman nya. Yang dimana Deon membawa anak berusia sekitar hampir tiga tahunan. Namun dari teman-teman nya belum pernah mendengar jika Deon sudah menikah. Apa lagi ada kabar yang pernah mereka dengar, jika Deon sangat sulit move on dari mantan kekasih yang di rahasia kan itu.
''Kamu nemu di mana anak berpipi bakpao itu Eon. ? Jangan bilang ini anak dari mantan kamu yang kamu hamili, kemudian setelah melahirkan kamu ambil anak nya lagi. ! Kalau benar begitu, wah,,, parah benar-benar sadis.'' Celetuk Angga yang tak berbobot sama sekali.
''Cih, aku bukan kamu begok, berani berbuat tidak berani bertanggung jawab. '' Sindir nya pedas tepat pada sasaran, jika untuk orang lain pasti akan tersindir, berbeda lagi buat Angga, bagaikan angin berlalu tanpa di rasa.
''Sialan, aku beda sama kamu ya.'' Melempar tisu bekas, ke mulut Angga. Namun, dengan cepat Angga menghindar ke arah samping. Membuat tisu tersebut terlempar ke arah wanita bergaun warna putih yang duduk di belakang Angga.
Empat mata tersebut sempat beradu sejenak, sebelum Deon mengalihkan ke arah Angga kembali.
''Cie, cie ada cinta dari mata turun ke hati.'' Ledek nya, di iringi tawa yang menjengkelkan.
''Bisa diam gak, aku bukan kayak kamu yang tidak bisa setia dengan satu hati, sialan.'' Umpat nya, semakin ingin memberi satu pukulan di wajah jelek teman nya itu.
Tidak ada yang tau, kalau ada hati yang memanas saat empat mata itu beradu. Melampiaskan ke minuman yang sudah ia tenggak hingga tak terhitung.
__ADS_1
''Bas nanti malam, malam pertama pernikahan mu. Menurutku, kamu jangan terlalu banyak mengkonsumsi Alkohol terlalu banyak, nanti kamu bisa teler dan tidak bisa menikmati indah nya surga dunia.'' Ucap Angga di iringi gelak tawa setelah nya. Meskipun dia sibuk menggoda Deon yang membawa anak berpipi bakpao. Ekor mata nya selalu menangkap gerak-gerik sang pengantin pria.
''Sedari tadi aku belum melihat istri mu, di mana dia. ?'' Tanya Deon.
''Dia kelelahan, seharian ini banyak tamu yang harus dia tidak beristirahat sama sekali.'' Jawab nya dengan wajah datar nya.
Deon mengangguk, sambil memberi dot berisi susu untuk Caca. ''Ini kado untuk istri mu, sekalian aku pamit. Hari semakin malam, putri ku seperti nya sudah mengantuk.''
''Aku juga bro, Aku sudah ada janji dengan seseorang.'' Ucap Angga ikut berpamitan.
''Salam untuk istri mu.'' Imbuh nya, sebelum benar-benar pergi menyusul Deon.
Bastian hanya mengangguk sebagai jawaban nya, kepala nya yang mulai pusing membuat Bastian beranjak dari tempat nya.
Wanita yang berbalut gaun putih, melihat Bastian beranjak dari tempat nya. Dia ikut segera beranjak dan mulai mengikuti Bastian yang terkadang oleng dari arah belakang.
Gerak-gerik mereka berdua tak luput dari sepasang mata dibalik dinding. Menatap punggung mereka berdua dengan sorot yang tidak bisa di baca.
Srek
Suara tarikan seseorang, membawa Bastian masuk ke salah satu kamar pengantin yang lain.
__ADS_1