
Di sisi tempat yang berbeda, menerawang Bulan seperti memiliki kekuatan magis yang mampu menyihir seseorang untuk terus menatap keindahannya. Orang mengaitkan bulan dengan ketenangan, karena bulan baru terlihat malam hari dimana semua orang sudah terlelap. Bulan menemani setiap malam dengan keindahannya.
Apabila sulit tidur saat malam hari, seperti kini yang di rasakan oleh Bastian.
Entah, apa yang kini Bastian pikirkan. ? Terlihat jelas ada beban berat yang sedang dia pukul.
Besok pagi adalah hari bahagia nya sekaligus hari buruk nya. Di satu hari yang sama, diri nya membangun dua rumah tangga bersamaan. Antara cinta dan tidak cinta, pernikahan yang sah dia tidak memakai rasa cinta. Namun, pernikahan tanpa cinta harus di lihat seluruh dunia.
Sedangkan pernikahan dengan rasa cinta seluruh jiwa nya, tidak sekuat seperti yang sah. Dia harus bersembunyi-sembunyi jika ingin bertemu. Dia menikah tanpa di hadiri oleh orang-orang yang dia sayang. Karena dia tak ingin mengambil resiko jika sampai ketahuan dengan keluarga besar nya sekaligus semua orang. Hidup bersama dengan pujaan hati nya akan kandas di tengah jalan.
Serumit itu kah hubungan asmara nya itu. ?
Apa kah, diri nya mampu. ?Jujur, ini semua bukan mau nya. Di satu sisi, diri nya ingin sekali menikahi kekasih nya. Namun, semua itu tidak akan berhasil sebab, keluarga besar nya tidak merestui hubungan nya bersama sang kekasih tercinta.
Bastian menghela nafas berat nya sejenak.
__ADS_1
Terlihat jelas ada kegelisahan yang di rasakan oleh calon pengantin pria yang berdiri di pinggir sudut balkon di Apartemen kamar nya. Bastian merasa semakin sendu apabila menatap indah nya bulan tersebut. Pikir Bastian, lelah menerawang Jalan yang akan dia tempuh.
''Demi kamu Clara Calista dan demi cinta ku untuk mu semua itu akan ku tempuh.'' Batin Bastian.
Ting, muncul lah satu notif pesan masuk di benda pergi panjang di atas pinggiran pager balkon tersebut.
''Calon istri mu sudah ada di depan apartemen mu, Tuan.'' Chat Leon.
''Langsung masuk saja.'' Balas Bastian, setelah membaca pesan nya.
''Tunggu dulu, apa di dalam ada tuan mu.?'' Tanya Maya, yang sedari tadi hanya diam mengekori setiap langkah asisten calon suami nya itu.
''Nanti kamu akan tau sendiri.'' Jawab Leon, sambil menekan nomer sandi di pintu tersebut.
Membaca chat dari tuan nya, Leon baru berani memasukan nomer sandi Apartemen milik bos nya itu.
__ADS_1
Maya mengangguk pasrah, ''Bagaimana kondisi ibu ku di sana. ? Gak bisa kah, aku di beri ekses menghubungi ibu ku secara langsung.''
''Sudah satu minggu berlalu, aku tak bisa menghubungi ibu ku. Sete_______''
''Ayo masuk, kalau soal ekses menghubungi ibu mu. Nanti setelah menikah dengan tuan Bastian, kamu akan bebas bertemu dengan ibu mu, asalkan. Kamu bisa merayu calon suami mu itu dengan benar.'' Ucap Leon, diakhir kalimat nya seperti sebuah bisikan.
''Oh, calon istri ku sudah tiba. Ku pikir akan tetap memilih bekerja.'' Sindir Bastian, keluar dari kamar nya. Berjalan menuju mereka berdua yang masih betah berdiri di depan pintu Apartemen.
''Malam tuan Bastian.'' Ucap Leon, dan di angguki cepat oleh Bastian sambil menjatuhkan pantat nya di sofa tunggal di ruang tamu.
Melalui lirikan mata, Leon memberi kode ke pada Maya untuk memberi ucapan ke pada bos nya itu atau calon suami Maya sendiri.
''Ekhem, malam tuan Bastian.'' Ucap Maya, setelah dan sekian memahami arti lirikan dari asisten calon suami nya itu.
Hmm, balas Bastian dengan hanya deheman.
__ADS_1
''Kamu boleh pulang, biar dia menjadi urusan aku saat ini.'' Ucap Bastian ke pada sang asisten nya itu, kemudian beralih menatap ke pada calon istri kontrak nya yang hanya diam membisu.