
Satu minggu telah berlalu, selama satu minggu pula Maya mau pun Bastian tidak saling bertemu. Entah, ini kebetulan atau memang Bastian lah yang menghindar atau sedang sibuk mengurus pesta pernikahan mereka berdua.
Menyetujui seperti sepakatan di awal, Maya atau Bastian sangat setuju dengan usul sang Mama Lydia kala itu. Bahwa pernikahan mereka berdua akan di adakan satu minggu dari waktu di tentukan. Selama ada uang, tidak memerlukan waktu yang lama untuk mempersiapkan perihal sebuah acara pernikahan, semua nya akan bergerak cepat asalkan ada ongkos nya.
Selama satu minggu pula, Maya di sibuk kan mengurus Caca yang baru keluar dari rumah sakit tiga hari yang lalu. Sifat rewel dan manja di bawah usia tiga tahun, memang sudah menjadi sewajar nya dengan usia tersebut.
Siang merawat si buah hati nya, sedangkan malam hari nya Maya mencari rezeki. Kehidupan terus berlanjut, hari ini Maya bisa berkorban masa depan nya, demi biaya pengobatan sang ibu nya. Dengan menikah penuh perjanjian di dalam nya, dengan seorang pemuda yang cukup kaya di salah satu di ibu Kota nya.
Kalau mengingat soal sang ibu nya Maya, raut wajah sedih nan murung langsung menghiasi wajah cantik dengan bola mata khas Negara Indonesia.
Sebagian besar orang Indonesia memiliki mata cokelat gelap cenderung hitam. Walaupun begitu, mengubah warna mata saat ini bukan perkara sulit. Namun, mengubah sesuatu sangat membutuhkan biaya, sedangkan Maya, bertahan hidup dan menyambung hidup saja kesulitan apa lagi memikirkan hal yang tak penting bagi nya itu. Tak pernah terlintas sedikit pun di benak nya, cantik alami menjaga tubuh tetap ideal Maya selalu rutin berolahraga setelah bangun tidur pagi meskipun hanya gerakan-gerakan ringan.
__ADS_1
Malam hari nya.
Club Malam.
Lelaki tampan yang nyaris sempurna di lihat dari segi mana pun, sebelas dua belas dengan bos nya. Sesekali menyelipkan sebatang rokok di belahan kedua bibir nya. Kemudian asap putih menguap di udara menambah ketertarikan bagi kaum hawa yang melintas di depan laki-laki tersebut. Siapa lagi kalau bukan sang asisten tuan Bastian, Yaitu Leon.? Sudah satu minggu, Leon tiba di negara Indonesia guna membantu mempersiapkan pernikahan tuan nya yang akan di selenggarakan besok pagi tepat pukul sepuluh pagi di salah satu gedung Hotel ternama.
Sebuah mobil taksi yang baru berhenti di depan Club malam, membuat laki-laki yang asyik merokok seketika menjatuhkan ****** rokok nya lalu dia injak dengan salah satu kaki nya dengan gerakan memutar.
''Pasti nya kamu sudah tau kan, besok itu hari apa. ?'' Suara dingin seorang laki-laki di belakang nya membuat Maya tersentak kaget.
''A-aku sudah tau tuan Leon, setelah selesai nanti A-aku langsung pulang ke Apartemen yang sudah kamu kasih tau tadi.'' Menjawab dengan setenang mungkin, meski ada rasa takut yang menyelimuti hati nya saat menatap bola mata tajam asisten dari calon suami nya itu.
__ADS_1
''Aku gak mau tau, sekarang juga kamu ikut Aku ke Apartemen.'' Terdengar nada tegas dari sang asisten calon suami nya itu. Diam-diam Maya menelan saliva nya dengan susah payah.
''T-t-tapi, aku sudah sampai di sini tuan. Masa A-aku harus pergi lagi.'' Gugup MayA, menundukkan kepala nya ke bawah. Aura mencengkram kini menyelimuti di antara mereka berdua.
Leon mencondongkan tubuh nya sedikit ke arah Maya yang kini sedang menunduk. ''Kamu masih ingatkan, di mana ibu mu berada. ?'' Bisik Leon, lalu menarik kembali tubuh nya. Berdiri tegak dengan kedua tangan nya di masukan ke dalam saku celana.
Memejamkan sejenak kedua kelopak mata nya, kemudian Maya hembusan nafas kasar lewat bibir tipis milik nya itu.
''Baiklah, aku ikut ke apartemen sekarang juga.'' Putus Maya memilih mengalah dari pada runyam urusan nya nanti.
''Tepat, aku suka dengan pilihan mu.''
__ADS_1