
Pagi hari nya.
O6:15
Ada yang berbeda dengan hari ini, biasa nya jam segini Bastian masih asyik bergulung selimut yang tebal nan hangat di atas ranjang empuk nya. Kini, laki-laki dewasa dengan tinggi badan 170 cm perawakan khas Indonesia dengan kulit putih tergantung dari bibit unggul nya.
Berdiri tegak di depan cermin dengan Style Jas formal milik nya. Bastian menyugar rambut nya ke belakang dengan memperhatikan penampilan nya dari atas sampai bawah tak luput dari ekor mata Bastian.
Dari segi fisik yang sangat sempurna, sekaligus di dampingi oleh materi berkecukupan membuat Bastian sangat mudah melakukan semua hal yang dia mau.
Mengingat detak jantung nya yang sangat berlebihan jika menyangkut dengan gadis club malam itu. Pagi ini Bastian sudah membuat janji dengan Dokter ahli jantung pribadi nya yang sudah memantau diri nya selama empat tahun paska operasi jantung itu di lakukan.
Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Bastian semalam langsung berkonsultasi melalui telepon dengan Dokter jantung pribadi nya tersebut. Dengan apa yang dia rasakan belakangan ini yang mampu membuat nya bingung sendiri. Dari detak jantung yang berlebihan dengan gadis malam itu. Dan juga, termasuk dengan tingkah laku nya yang mulai aneh jika berhubungan dengan gadis itu.
Semua yang di rasakan oleh Bastian akhir-akhir ini, semua itu dia konsultasi kan kepada dengan sang Dokter nya. Mencoba mencari solusi yang terbaik bagi kesehatan jantung nya saat ini.
__ADS_1
''Pagi Pa Ma.'' Sapa Bastian saat tiba di meja makan.
Papa Bastian hanya membalas dengan sebuah anggukan kepala. Sedangkan sang Mama Lidya membalas dengan ucapan. ''Pagi juga Bas, tumben jam segini sudah rapi dan juga wangi.'' Sindir sang Mama lidya, seraya mengambilkan nasi di piring sang suaminya.
''Pagi ini Bastian ada janji dengan Dokter Ranu Ma, Pa.'' Ucap Bastian mulai mengambil nasi beserta lauk nya. Sedangkan kedua orang tua nya langsung menoleh ke arah putra nya itu.
''Kenapa dengan jantung mu Bas. ? apa kamu merasakan sakit lagi. ? Atau ______''
''Gak Ma, Pa. Bukan itu yang aku rasakan.'' Jawab Bastian yang masih sibuk dengan kegiatan nya.
Bastian menghela nafas panjang dan mencoba duduk dengan tenang sebelum menjawab apa yang dia rasakan akhir-akhir ini. ?
''Bastian akan jelaskan apa yang Bastian rasakan akhir-akhir ini Ma, Pa. Selama Bastian menjelaskan, Mama sama Papa jangan pernah memotong nya sebelum Bastian selesai.'' Ucap Bastian memberi peringatan kepada kedua orang tua nya yang terkadang bersikap berlebihan jika mengenai kondisi jantung nya itu.
''Papa akan usahakan, bukan begitu Ma.?''
__ADS_1
Mama Lidya mengangguk cepat. ''Iya Pa.''
Bastian memutar bola matanya nya malas.
''Ayo cepat, ! Nunggu apa lagi sih Bastian Aditya Chandra.''
Bastian mengangguk, dan mencoba mulai bercerita apa yang dia rasakan akhir-akhir ini.
Dari saat dia pertama kali bertemu dengan gadis peracik minuman itu, Saat itu juga detak jantung nya yang mulai bermasalah.
Masalah utama nya iyalah, detak jantung nya yang sangat mudah berdetak lebih cepat karena hanya dia memandang gadis itu. Tak lupa dengan tingkah laku nya yang mulai peduli dengan gadis itu, semua hal itu Bastian ungkapkan tanpa ada yang terlewatkan satu pun, tanpa ada kebohongan di dalam nya. Terkecuali, detak jantung nya tidak berdetak dengan cepat kala dia bertemu dengan sang pujaan hati nya itu. Meskipun, hingga dia membagi keringat di atas ranjang.
Hal itu tidak mampu membuat jantung nya bergetar begitu hebat. Berbeda lagi saat dia bertemu dengan gadis club malam itu, beuah bikin dah dig dug irama jantung nya.
Mama Lidya yang mendengar dengan seksama, membuat dia tersenyum smirk seketika. ''Benar kah.'' Ekspresi nya di buat-buat tak percaya.
__ADS_1