
Pyar.
Lelehan air bening luruh begitu deras, di pipi putih Maya. Usai melepaskan gelas berisi jus di atas lantai hingga pecahan beling nya menghantam kaki polos nya.
Ke menit berikut nya, Maya membekap mulut nya rapat-rapat dengan gelengan tidak percaya.
Kehilangan ibu tentunya sangat menyedihkan. Kenapa dia harus merasakan saat keadaan nya sudah berantakan seperti ini.
Ya Tuhan, Kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidup ku bukan hal yang mudah.
''Bas, Bastian, apa kamu masih ada di sana. ? Apa kamu mendengar apa yang aku sampaikan.?'' Panggil Leon berulang kali, namun, dengan nama yang di panggil tidak ada sahutan dari sebrang. Hanya mendengar sesuatu yang pecah di sambungan tersebut membuat Leon mengerutkan kening sejenak.
''Coba kamu ulangi lagi Leon. !'' Perintah nya dengan nada memohon.
Maya sangat membutuhkan ungkapan satu kali lagi dengan apa yang barusan dia dengar.
Leon di buat kaget seketika, jantung berdebar kencang dan nafas agak sesak. Seakan rongga dada nya menyempit dengan sendiri nya.
__ADS_1
Jadi, sejak tadi dia menjelaskan sedetail mungkin kondisi ibu Lily. Dari kritis hingga sampai ke detik, ke menit, di nyatakan benar-benar meninggal. Ternyata bukan bos nya atau tuan nya yang menerima panggilan dari nya. Melainkan istri bos nya, yang tak lain iyalah anak dari ibu Lily yang sudah di nyatakan tiada.
''Ayo o, katakan Leon, ayo, katakan sesuatu apa yang sebenar nya terjadi di sana. ?'' Desak Maya, berlinang air mata.
''Ekhem, suami mu kemana. ? Kenapa justru kamu yang mengangkat telephon dari ku. ?''
''Cukup Leon,'' Sentak nya. ''Jangan mengalihkan pertanyaan dari ku. ! Tolong, jawab dengan jujur apa yang terjadi dengan ibu ku, aku mohon Leon.!'' Mohon Maya.
Srek
''Lancang kamu menyentuh handphone ku.'' Menarik kasar handphone nya yang di genggam oleh istri sah nya.
''Habis kan sarapan pagi mu sekarang juga. ! Sebelum pelayan datang kesini untuk mengambil nya sekaligus membersihkan pecahan gelas yang kau buat.'' Titah nya tegas nan dingin. Kemudian Bastian berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Membasuh muka, sebelum menghubungi kembali sang asisten.
...****************...
''Mohon maaf, kami selaku yang bertanggung jawab atas nama ibu Lily dari Indonesia. Turut berduka cita atas meninggal nya saudari ibu Lily xxx tepat pukul xxx dua puluh tiga menit waktu sekian.'' Jelas Profesor spesialis jantung.
__ADS_1
Leon memijat pelipis terus-menerus, seraya menatap datar benda tipis yang dia genggam.
Panggilan tersebut terputus tiba-tiba, dan Leon sempat mendengar suara dari tuan nya sebelum panggilan benar-benar terputus.
''Biaya administrasi harus di lunasi dulu Pak, dan ini ada beberapa berkas yang perlu di tanda tangani. Lalu, untuk jenasah nya ada beberapa prosedur yang harus di lalui sebelum di serahkan kepada pihak keluarga.'' Jelas pegawai rumah sakit.
Leon mengangguk setuju, membaca sebenar sebelum membubuhi di sudut paling bawah.
''Lakukan yang terbaik, dan jangan lupa mengabdikan beberapa untuk keluarga yang di tinggalkan.''
''Tetapi pak, ini sudah melanggar atura___''
''Pihak keluarga yang meminta nya, seenggak nya berikan beberapa potret untuk saya kirim ke Indonesia.'' Mohon Leon.
''Baiklah, mungkin hanya bisa satu atau dua saja, gak bisa lebih. Itu pun pihak kelurga yang harus bertanggung jawab.''
''Terima kasih, atas kerja sama nya.'' Ucap Leon.
__ADS_1
...****************...
Catatan \= Anggap saja percakapan mereka menggunakan bahasa Inggris ya. 🙏