
Allah Swt ciptakan waktu sejak awal hingga akhir dunia tetaplah sama. Manusia mengenalnya dalam satuan atau hitungan detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, dan sebagainya.
Termasuk apa yang di rasakan oleh Maya, dan hanya membutuhkan waktu yang bisa menyembuhkan segala nya.
Waktu adalah umur manusia itu sendiri. Panjang dan pendeknya tergantung takdir yang telah Allah Swt tetapkan. Tidak ada jaminan umur panjang lebih baik dari umur pendek. Karena baik tidaknya manusia akan dinilai dari manfaat dan kebaikan yang bisa dihasilkan. Memang idealnya umur panjang dan amal kebaikan yang banyak.
Dari kemarin wajah ayu Maya tampak ngelamun, dengan tatapan mata yang terlihat kosong bak seperti boneka. Hanya ada pergerakan kala Bastian mengarahkan untuk melakukan sesuatu.
Perubahan pada istri nya itu tak lepas dari pengawasan Bastian. Sehingga hati kecil Bastian ikut sakit nan nyeri melihat nya.
Waktu bergerak lambat, tetapi berlalu dengan cepat. Begitu pula dengan orang yang kita sayang, pergi begitu cepat tanpa harus berpamitan.
Waktu berlalu, tetapi itu juga bisa menjadi pengingat betapa kita telah tumbuh dan berubah ada nya sosok ibu. Mulai dari bayi merah, hingga tumbuh dan berubah menjadi sedewasa ini.
''Apa sudah cukup tadi melihat wajah ibu mu yang untuk terakhir kali nya. ?'' Tanya Bastian, sebelum jenazah yang akan siap di berangkatkan.
Para melayat dan beberapa di antaranya hilir mudik bergantian melayat. Apa lagi Susana sekarang ini sedikit mendung seperti hendak ingin hujan, ? Para bapak-bapak akan segera kebumikan jenazah ibu Lily sebelum turun hujan tiba.
Sorot mata kesedihan itu tampak melihat langit dari dalam, ternyata benar, awan hitam hampir terkumpul di tengah-tengah berbentuk pusaran.
__ADS_1
''Ternyata, langit pun ikut bersedih.'' Batin nya.
Ternyata sama, apa yang kini di rasakan oleh Maya Agustina. Netral cokelat kehitaman itu tampak berkaca-kaca, mengembun di pelupuk mata. Satu kedipan saja, air bening kristal yang sejak tadi Maya tahan luruh sampai ke dasar bumi.
Hidup ini singkat. Waktu cepat. Tidak ada pengulangan. Tidak ada mundur. Jadi, nikmati setiap momen yang datang. Momen bersama sang ibu nya kini kian berputar silih berganti bak sebuah kaset.
Waktu berlalu begitu cepat, terasa baru kemarin ayah nya pergi, dan kini, berganti sang ibu nya tercinta. kepergian kedua orang tua yang kita sayang dengan berjarak beberapa tahun saja, membuat Maya tak memiliki semangat hidup lagi. Bagi Maya, kehidupan yang akan datang ikut pergi bersama dengan kedua orang tua nya.
Kenapa,? kenapa semua ini harus terjadi di dalam keluarga nya.? Kenapa orang yang ia sayangi pergi meninggalkan diri nya sendiri. ?
Bukan nya ini tidak adil untuk nya.
Hanya tentang waktu dan waktu.
...****************...
Puluhan para melayat, satu-persatu mulai pergi meninggalkan area pemakaman. Langit hitam mulai menurunkan air hujan. Taburan bunga ditaruh diatas makam dan diselingi juga dengan doa para pelayat silih bergantian. Gerimis yang cukup deras akhirnya turun. Air yang terus menerus menetes dari langit tak menyurutkan Maya untuk pergi meninggalkan gundukan dengan batu nisan bernama sang ibu nya.
Satu jam sudah, berdiri tegak di samping sisi kanan gundukan yang bertaburan bunga. Maya berdiri tanpa ada payung yang mengayomi nya.
__ADS_1
Para pelayat sudah pergi meninggalkan area pemakaman. Hanya tersisa beberapa orang saja, itu pun orang-orang di bawah kendali dari seorang Bastian Chandra Aditya.
''Pulang lah, aku butuh sendiri.'' Ucap nya, berjongkok dengan sebelah tangan nya mengusap nisan sang ibu tercinta.
''Aku tunggu di mobil.'' Pergi meninggalkan Maya, mungkin sang istri nya itu butuh waktu sendiri.
''Apa tuan membiarkan istri tuan sakit karena kehujanan.?'' Tiba-tiba Leon menghadang langkah tuan nya yang hendak menuju mobil nya terparkir.
''Tuan tau, air hujan tidak bagus untuk kesehatan.'' Lanjut Leon lagi, Leon berharap. Kalau tuan nya itu memilik sedikit rasa peduli dengan istri sah nya. Melihat diam tuan nya, Leon yakin, tuan nya itu akan mengajak istri nya untuk pulang ke rumah.
''Kamu saja yang mengayomi Maya pakai payung, baju aku basah nanti aku bisa sakit gara-gara kehujanan.'' Tolak nya, berlalu melangkah pergi dari hadapan sang asisten nya itu.
Ck, decak Leon.
''Itu pun tidak perlu tuan, karena istri tuan sudah ada yang memayungi pakai payung.'' Ejek nya melirik sekilas ke arah tuan nya. Senyuman tipis tercetak jelas di sudut bibir Leon saat melihat sang tuan nya ikut melihat ke arah di mana Maya berada.
Sesekali mengusap wajah nya terkena air hujan, Bastian bisa melihat dari jauh, jika di samping Maya ada dua orang yang memakai payung berwarna hitam.
''Siapa dia. ? Apa istri ku memiliki saudara atau kerabat yang tidak aku ketahui, Leon.?'' Tanya nya, yang di acuhkan oleh Leon yang masih dongkol dengan tingkah tuan nya.
__ADS_1