
Di rumah utama, wanita paru baya sedang menatap pigura dengan bola mata berkaca-kaca.
Foto lama yang dia pasang di dinding kamar milik putra nya yang bernama Brayen Alvredo Chandra. Mereka berdua bukan lah kembar, melainkan dua bersaudara dengan tanggal lahir yang tidak terlalu jauh. Bisa di katakan, dua tahun Mama Lidya melahirkan dua putra yang sangat tampan sekaligus.
''Empat tahun, empat tahun kamu pergi Al. Kenapa Mama merasa baru kemarin kamu pergi hmm. ?''
Kehilangan orang yang dicintai yang telah tiada adalah hal yang menyedihkan. Kehilangan orang tercinta karena kematian adalah satu di antara kehilangan yang paling tidak dapat tertahankan.
''Kenangan memenuhi hatiku dan kisah tentangmu tumpah dari mataku. Mama sangat merindukanmu, Al.''
Wanita mana pun yang pernah kehilangan anak tahu tentang kehampaan yang tersisa di dalam jiwa.
''Kamu sangat mencintainya, tetapi Tuhan lebih mencintainya." Ucap seorang laki-laki paru baya yang tak lain suami dari Lidya.
''Apa kamu tau. ? Sedihnya, perpisahan yang paling menyakitkan adalah perpisahan yang tidak terucapkan dan tidak pernah dijelaskan.''
''Iya, aku tau.''
''Tidak, kamu tidak pernah tau.'' Ucap nya berlalu pergi, meninggalkan kamar putra nya dengan hati penuh luka.
__ADS_1
''Maaf, semua ini salah ku. '' Lirih nya.
''Maafkan Papa Al, Papa telah gagal menjadi Papa yang kamu inginkan. Gagal menjadi suami yang baik untuk Mama kamu.'' Imbuh nya meneteskan air mata.
Lidya yang masih berdiri di balik pintu dengan deraian air mata, meskipun dengan samar-samar dia masih mendengar apa yang suami nya itu katakan.
...****************...
Bastian menjambak rambut nya frustasi, Bukan cuma jantung berdebar-debar dan berkeringat dingin saat berdekatan dengan istri kontrak nya itu. Bahkan hanya menghirup aroma sabun nya saja sudah bisa membangunkan adik kecil nya di bawah sana. Seakan mengerti, di masa sebelum nya pernah memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Maya.
''Jangan mencoba menggoda ku Maya Agustina.!'' Geram Bastian tertahan. Mati-matian, Bastian sejak tadi terus berusaha meredam gairah nya sendiri.
Maya yang sibuk dengan rambut basah nya di depan cermin menoleh ke arah suami nya berada.
''Ada sesuatu yang harus ku tanyakan ke pada mu, ? Dan tolong, jawab dengan jujur. !''
''Iya, memang nya apa yang akan kamu tanyakan. ?'' Tanya Maya sambil membersihkan wajah nya dengan kapas.
''Apa kamu tau semalam Aku Ada di mana. ? dengan Siapa. ?'' Seketika, membuat gerakan jemari Maya Terhenti. Namun, hanya sesaat.
__ADS_1
''Pertanyaan macam apa itu. ?'' Sungguh, Maya benar-benar ingin marah. Sudah tau tadi malam, malam pertama dengan istri tercinta nya. Dan sekarang dia ingin pamer ke Aku soal hebat nya dia di atas ranjang gitu, benar-benar gila.
''Tinggal jawab aja Maya, apa susah nya sih.?'' Bastian mendengus kesal.
''Iya, Aku tau kamu semalam Ada di mana, ? Bersama dengan siapa. ?''
''Bagus, jika nanti Mama Aku tanya-tanya ke kamu siapa rambut pirang dan semalam Aku Ada di mana. ? Pasti nya, kamu sudah tau kan jawaban apa yang harus kamu katakan?'' Menaikan ujung alis nya ke atas, sambil menunggu jawaban yang keluar dari bibir pink itu. Yang di mana menurut Bastian sangat menggoda.
''Iya, aku sudah mengerti Tuan Bastian, hal itu sudah menjadi tugas aku. Karena kamu sudah membiayai dan melunasi biaya pengobatan Ibu ku.''
''Sesuai kesepakatan di awal.''
''Iya, dan kapan aku bisa bertemu dengan Ibu ku. ?'' Perasaan Maya sejak semalam selalu gelisah dan teringat dengan Ibu nya. Mungkin, sudah lama tidak bertemu membuat dia sangat merindukan Ibu nya.
''Iya nanti, jika Ibu mu benar-benar sudah pulih.'' Jawab Bastian setenang mungkin.
''Berapa lama lagi. ? Hmmm bagaimana kalau Aku saja yang menjenguk nya ke____''
''Hmmm, kita berdua belum sarapan pagi kan,? Kalau begitu Aku tunggu kamu di luar.'' Sela Bastian cepat.
__ADS_1
''Tapi_____''
''Perut ku sudah laper Maya Agustina.'' Pekik nya, Membuat Maya mengangguk pasrah.