
Siang hari nya.
Jam istirahat adalah waktu yang sangat ditunggu-tunggu. Karena saat itu semua orang akan membuka kotak makan siangnya dan menikmati bekal yang dibawa dari rumah. Namun, itupun tidak semua karyawan, dan hanya ada beberapa bagian karyawan saja.
Bergerak pasti, Bastian melangkah kan kaki nya cepat keluar dari ruang kerja nya.
Sesampai nya di dalam mobil, Bastian mencoba menghubungi sang asisten nya itu yang masih berada di luar negeri.
Sambil menunggu panggilan telephone nya terhubung, Bastian mencoba menghidupkan mesin mobil nya. Bergerak dengan kecepatan rata-rata, mobil Bastian dengan cepat meninggalkan pekarangan restaurant C, c, usaha milik nya yang dia rintis dari bawah.
Baru beberapa menit, mobil yang dikendarai oleh Bastian dengan cepat membelah ibu kota yang cukup panas dan juga padat kendaraan. Mengingat waktu yang menunjukan waktu nya jam makan siang. Tidak salah lagi jika keadaan jalan ibu kota siang ini sedikit macet meskipun terik panas matahari menyengat.
Atensi Bastian teralihkan saat mendengar suara sang asisten dari seberang sana. Tak ingin basa-basi mengenai kabar sang asisten atau ibu dari gadis malam itu. Kini Bastian lebih mempertanyakan kepulangan sang asisten nya itu ke Indonesia.
''Keadaan pasien nya belum sehat betul Bas, masih sedikit lemah. Bagaimana kalau menyewa seseorang untuk menjaga nya selama ada di sini.? Sebab, sang Dokter yang menyarankan untuk menambahkan beberapa hari lagi ke depan nya.'' Ungkap Leon tanpa di kurangi sedikit pun. Apa yang di jelaskan oleh sang Dokter ke pada nya tadi pagi. ?
__ADS_1
''Aku gak mau tau, pokok nya malam ini kamu sudah ada di sini.'' Titah Bastian.
Leon memijit pelipis nya sejenak, perintah bos nya perintah mutlak.
Leon sangat paham betul, menghadapi atasan yang menerapkan kepemimpinan otoriter memang tidak mudah. Leon harus bisa bersikap profesional agar bisa bertahan di kantor.
Hal itu disebabkan, atasan yang otoriter memiliki kekuasaan yang mutlak dan setiap bawahannya harus menerima segala keputusan yang sudah dibuatnya.
Gaya kepemimpinan ini memang identik dengan kekuasaan yang diktator. Namun, kamu harus tahu bahwa gaya kepemimpinan otoriter juga memiliki kelebihan.
''Baiklah, nanti aku usahakan.''
''Aku tidak peduli, pokok nya malam ini, kamu sudah ada di sini secepat nya, tut.''
Alih-alih menanyakan kondisi yang berada di sana, justru Bastian memutuskan panggilan tersebut secara sepihak.
__ADS_1
''Keluar lah, saya sudah menunggu kamu di depan.!'' Perintah Bastian melalui telephone.
Terputus panggilan dengan sang asisten nya itu, Jemari Bastian dengan lihai mencari kontak yang dia beri nama Malam itu. Karena wanita itu bekerja di sebuah Club malam, dengan mudah nya, Bastian memberi nama Malam saja di kontak nya.
''Iya, tunggu sebentar.'' Balas Maya, bergegas mencuci muka.
Dan tak lupa, Maya masih menyempatkan diri untuk make up sejenak. Menghilangkan lingkaran mata panda dan juga bibir pucat nya itu.
Semalaman yang hampir tak memejamkan mata, hingga siang ini. Area kelopak mata Maya meninggalkan sebuah jejak hitam.
Alih-alih sedih, melihat muka jelek nya itu, justru hati Maya kini sedikit lega dan juga senang dari sebelum nya. Menemani si buah hati, dari semalam hingga siang ini. Beban dan juga rasa bersalah nya sedikit berkurang meskipun semalam Maya mendapatkan teguran keras dari sang Mama Ami. Namun, teguran dari sang Mama Ami bagi nya hal itu demi kebaikan dia bersama sang buah hati nya.
''Kita mau kemana.?'' Tanya Maya, sekedar basa-basi. Yang hampir lima belas menit duduk di samping Tuan Bastian tanpa ada obrolan apa pun itu.
''Berakting lah sesempurna mungkin, agar kedua orang tua ku percaya. Jika kita berdua sedang menjalin hubungan yang cukup serius.'' Ujar Bastian tanpa menoleh sedikit pun, justru Bastian tetap fokus memperhatikan jalan di depanya.
__ADS_1
Maya mengerutkan kening nya sejenak, lalu. ''Akting, maksud nya apa. ?''