
Gelak tawa seorang perempuan berbeda usia begitu enak di dengar bagi seseorang yang sudah memilki seorang anak.
Di ruang kamar mandi yang berukuran standar 1,5 meter x 2,4 meter. Ukuran standar ini yang di gunakan oleh Maya untuk menghubungi si buah hati nya yang mendadak rindu.
RIndu, bayang-bayang wajah sang ibu nya pagi ini selalu berkeliaran di sekitar nya membuat hati Maya sangat Rindu dan ingin sekali bertemu.
Namun, keinginan itu sulit sekali terwujud meskipun diri nya berstatus putri nya. Demi melampiaskan rasa rindu yang menyeruak masuk di relung hati nya, Maya memilih menghubungi si buah hati nya yang berada jauh dari pandangan nya.
''Ii-ihh pintar nya putri Mama, udah bisa makan sendiri.'' Puji nya, sesekali mendongak ke atas, menghalau air bening yang sudah mengembun di pelupuk mata nya.
''Jangan terburu-buru Ca, ! Nanti bisa tersedak.'' Suara Maya kembali terdengar, sangat jelas ada rasa kekhawatiran mendalam di wajah alami nya itu.
''Jangan terlalu khawatir Maya. !Semenjak pulang dari rumah sakit, nafsu makan putri mu meningkat cukup baik.'' Seru Mama Ami mengasih tau, yang selalu absen setiap hari tentang pertumbuhan Caca dari sekecil apa pun itu.
''Benar kah.'' Seru Maya bahagia.
__ADS_1
''Walau mustahil menjadi Mama yang sempurna, namun seorang Mama pasti berusaha untuk menjadi Mama terbaik bagi anak-anaknya." Batin Maya menahan perih, memiliki putri tanpa ada ikatan bukan keinginan Maya. Namun jika sudah jalan takdir nya harus bagaimana lagi.?
Jujur, Maya tidak pernah menyesal telah melahirkan seorang putri cantik di dalam dunia ini. Yang Maya sesali adalah, kenapa dia tidak bisa menjaga, melindungi dan merawat putri nya sendiri tanpa orang lain ikut membantu merawat putri nya.
Jika mengingat itu semua, Maya merasa gak pantes di sebut seorang Mama.
''Ma, Terima kasih.'' Lirih nya. ''Tanpa bantuan Kak Deon dan Mama, mungkin Caca akan ______ hiks, hiks.'' Maya tak sanggup melanjutkan apa yang ada di dalam benak nya. Membawa seorang anak setiap hari nya, membuat Maya tidak bisa membayangkan, apa dia bisa pergi bekerja mencari uang. ? Sedangkan sang ibu nya membutuhkan biaya yang cukup banyak.
''Shuutttssss, sudah, jangan membahas hal itu lagi. Deon bilang, kamu sudah menikah dengan seorang laki-laki yang kaya-raya. Apa semua itu benar Maya. ? Apa kamu melakukan semua itu karena ibu mu membutuhkan pendonor jantung segera.? Ayo Maya jawab Mama sekarang. ! jangan diam saja!'' Desak Mama Ami terus.
Bukan nya berhenti, Maya justru bertambah menangis. ''Maaf Ma ____''
Mama Ami menghela nafas dalam-dalam, kedua bola mata nya menatap intens wajah berantakan wanita muda di layar sentuh nya.
''Sekali lagi Maya minta maaf Ma, waktu itu Maya sedang bingung, sedangkan ibu Maya kala itu kondisi nya sangat kritis dan harus segera melakukan tindakan operasi, hiks, hiks. Tanpa berpikir ulang Maya mengambil keputusan tanpa memberitahu Mama.'' Tandas Maya di sela-sela dia menangis.
__ADS_1
''Mama mengerti, meskipun Mama sangat kecewa dengan keputusan mu yang mengorbankan masa depan mu. Mama berusaha mendukung pilihan yang kamu pilih, asalkan jangan melupakan tanggung jawab mu seorang Mama untuk Caca. Sejak pulang dari rumah sakit kamu belum datang ke sini lagi.''
...****************...
Dua jam berlalu.
Deringan ponsel dari saku celana Bastian membuat Maya mendesah pelan, ''Tidur atau pingsan sih.'' Umpat Maya yang terganggu dengan deringan tersebut.
Usai membersihkan tubuh nya, perut Maya tiba-tiba berbunyi minta di isi. Segera menjatuhkan pantat nya di samping meja yang sudah tersaji rapi sarapan pagi nya.
Baru beberapa suap, deringan ponsel selalu berdering entah ke berapa kali membuat Maya kesal sendiri.
Padam sendirinya kemudian kembali berbunyi mau tidak mau, Maya beranjak dan segera menggoyangkan bahu kokoh milik suami nya itu.
Goyangan yang ke tiga kali nya baru mampu membuat tubuh kekar nan kokoh itu menggeliat secara perlahan.
__ADS_1
''Apa sih aku masih ngantuk. ?'' Sentak nya sambil mengubah posisi menjadi miring ke samping.
Maya hanya mengamati pergerakan tubuh atletis yang menggoda iman itu, setelah puas. ''Ponsel mu selalu berdering Bastian Chandra Aditya.''