Pria Banci Itu Suami Ku

Pria Banci Itu Suami Ku
Terjebak.


__ADS_3

"Apa yang terjadi?" tanya Dika bingung.


"Makasi yah, udah memuaskan aku malam ini, i love you" jawab Reni.


Sontak dika bangkit dan menjauh, segera ia memakai pakaian nya kembali.


Tidak mungkin, aku tidak mungkin melakukan nya. Batin Dika.


"Jangan pergi sayang, tanggung jawab dong," tahan Reni.


Dika menghempaskan tangan itu.


Lalu pergi secepat nya dari tempat itu.


Terlihat helm mulan di atas motor Dika.


Astaga Mulan di mana?


Dika segera tancap gas untuk pulang ke rumah nya.


Sesampai nya di rumah aku sedang menyapu halaman rumah.


Aku berlari mendekati Dika.


"Dika dari mana saja kamu?" tanya ku khawatir.


Dika diam saja bingung harus berkata apa.


"Maafkan aku Mulan" hanya itu yang Dika katakan lalu ia masuk ke dalam rumah.


Aku mengikuti nya.


"Aku sudah siapkan sarapan" kata ku.


Kebetulan hari ini Dika off day. Libur kerja nya.


Dika menatap ku seperti orang sedang bersalah.


"Ada apa?" tanya ku. Firasat ku tidak enak.


"Gak ada apa apa kok, ayo makan" jawab Dika.


Ingin sekali aku bahas kelakuan teman teman nya semalam tapi aku bingung mulai nya dari mana dan apa dia akan percaya dengan cerita ku.


Setelah makan, tiba tiba Dika menggenggam tangan ku. Erat sekali. Aku bingung, karena tidak biasanya dia begini.


Jujur saja aku sudah mencintai Dika.


Aku bahagia sekali di perlakukan seperti ini.


Aku tersenyum sesaat. Lalu tiba tiba handphone Dika berdering.


Reni menelpon nya. Ada apa lagi?


Dika tidak mengangkat nya.


"Telepon nya tidak di angkat?", tanya ku.


"Tidak penting" jawab nya.


Aku menggaruk kepala ku yang tidak gatal.


Dan bangun untuk mencuci piring.


Ku lirik sekilas ke arah Dika yang buru buru mengecek handphone nya.


Ia seperti nya sangat kesal tapi entah kenapa.


Selesai mencuci piring aku hendak mencuci baju. Tiba tiba Dika datang menghampiri ku dan pamit untuk keluar. Belum sempat aku bertanya kemana dia sudah pergi.

__ADS_1


Ternyata Dika di ancam oleh Reni akan mengirimkan foto mereka semalam ke mulan jika ia tidak datang.


Dengan kesal ia mengambil jaket dan meluncur ke rumah Reni lagi.


"Apa mau mu!!!" pekik Dika saat melihat Reni tengah bersantai di depan televisi.


"Mau ku? ya kamu dong sayang" jawab Reni santai.


"Kau sudah gila ya!!!" pekik Dika.


"Iya, aku memang sudah gila, karena mu, nikahi aku Dika" kata Reni.


Sekilas dika tertawa.


"Kau menjebak ku kan semalam! licik sekali cara mu, lalu kau mau aku bersama orang licik seperti mu, jangan mimpi ren!!!" teriak Dika.


"Jangan marah marah dong sayang, baru juga semalam kita bercinta hahaha" tawa Reni.


"Bulsyiid. Bercinta kata mu!!! tidak mungkin!!!" pekik Dika.


"Kok tidak mungkin, kan ada bukti nya" jawab Reni.


Dika diam, enggan menjawab.


"Kenapa kau sangat marah ketika aku mengancam akan memberi tahu istri mu, apa kau mulai mencintai nya?" tanya Reni cemas.


"Bukan urusan mu!!!" pekik Dika.


"Hahaha, semakin menarik saja, Dika, salah mu kenapa memperlakukan aku sangat baik dulu, meski sederhana kau selalu memperlakukan ku bagai ratu. Kau juga selalu ada untuk ku. Jangan salah kan jika aku cinta mati pada mu, itu salah mu" kata Reni santai.


"Itu karena kau teman ku, gak lebih" kata Dika.


"Tapi kau mencintaiku ku kan" ujar Reni.


"Itu dulu dan sekarang tidak lagi!!!" balas Dika.


"Kenapa? karena istri kampungan mu itu??!" teriak Reni.


Tapi Reni mengejar dia.


Di peluk nya dika dari belakang.


"Maafkan aku Dika, jangan tinggalkan aku, aku mencintaimu, aku janji gak akan menghina nya lagi, maafkan aku" ujar Reni.


Dika menghempas tangan Reni dari tubuh nya. Membuat Reni sedikit terhuyung jauh. Reni tetap mengejar Dika sampai ke depan rumah nya.


"Aku kurang apa Dika, aku cantik, aku kaya raya, kenapa kau tidak mau bersama ku" ujar Reni sedikit terisak.


"Kurang akhlak! aku sudah menikah, bisa bisa nya kau ingin aku menikahi mu? aku bukan tokoh agamis yang tau poligami, aku juga tidak akan pernah meninggalkan istri ku" kata Dika sembari memakai helm nya.


Tubuh tegap Dika perlahan menyalakan sepeda motor milik nya. Reni pasrah melihat Dika mulai menjauh.


Tidak ada cara lain, ancaman nya sudah tak berarti lagi.


Reni tersenyum dan berkata dalam hati.


Kita lihat saja nanti Dika.


Dika kembali ke rumah nya.


Aku melihat Dika pulang.


Aku yang sedang menjemur di samping rumah sontak menoleh ke arah nya.


Dika terlihat gelisah.


Selesai menjemur, ku beranikan diri bertanya.


Ku dekati Dika yang sedang duduk di tempat tidur memeganginya kepala nya.

__ADS_1


"Ada apa, kamu sakit?" tanya ku.


"Mulan, dengarkan aku baik baik" kata Dika.


Aku semakin tidak mengerti.


"Iya, kenapa?" tanya ku cemas.


"Jangan mudah mempercayai orang, sebaik apa pun mereka" ujar Dika.


"Maksud nya?" tanya ku bingung.


"Inti nya jika ada sesuatu jangan langsung percaya" kata Dika.


Aku hanya mengangguk meski tidak paham benar maksud dari perkataan dika itu.


Aku mengambil kan nya air mineral untuk dika minum.


Ku lanjutkan pekerjaan ku. Menyapu halaman yang belum selesai, Ku pakai lagi hijab ku.


Dika pun ikut ke teras duduk duduk.


Tidak terasa sudah 1 bulan pernikahan kami dan aku masih perawan. Sesaat aku menertawakan diri ku sendri.


Di saat orang lain mudah berzina di luar sana, kami menikah malah seperti ini.


Ada apa dengan Dika ya, aku penasaran.


Apa dia menahan nafsu nya? atau ah entah lah , hingga saat ini aku tidak tau jawaban nya.


Kapan kapan aku harus menanyakan hal ini.


Dika menatap ku.


"Kenapa senyum senyum sendiri?" tanya nya.


Ternyata dia memperhatikan ku.


"Eh gpp, aku hanya teringat hal lucu", jawabku.


Selesai menyapu aku duduk sejenak istirahat tempat dika.


"Cape?" tanya nya.


Aku hanya mengangguk sambil bermanja bersandar di pundak nya.


Aku terkejut saat ada tetangga lewat.


Astaga ini kan di depan rumah. Tersadar aku lalu bangkit masuk ke dalam rumah.


Dika yang bingung pun ikut masuk ke dalam rumah.


Kami beristirahat di depan tv.


Dika duduk dan aku baring di pangkuan nya.


"Kenapa tadi buru buru masuk rumah?" tanya Dika.


"Meski sudah suami istri, kemesraan gak boleh di perlihatkan ke orang, gak boleh di umbar, semua harus di balik pintu, di dalam rumah.


Untuk menjaga hati orang yang punya penyakit kotor agar tidak berzina gara gara melihat kemesraan kita. Karena Islam itu menutup rapat pintu perzinahan" jelas ku.


Dika pun mengangguk sambil mengusap rambut ku.


Bahagia sekali rasa nya, meski hanya sebatas mesra seperti ini.


"Dika" panggil ku.


"Yaa?", jawab nya.

__ADS_1


"Aku cinta kamu", Tiba tiba ku katakan isi hati ku.


__ADS_2