Pria Banci Itu Suami Ku

Pria Banci Itu Suami Ku
Salah orang.


__ADS_3

Tubuh ku di rumah tapi aku masih mencemaskan gadis itu. Gadis yang hampir membunuh ku di restoran. Pasti mental nya sedang tidak baik baik saja.


"Ada apa melamun?" tanya Dika.


Aku menoleh ke arah Dika yang sedang berganti pakaian. Ali sudah tidur pulas di box bayi.


"Oh, aku masih kepikiran dengan anak itu. Maksud ku gadis yang di restauran tadi" jawab ku.


"Sudah lah, tidak usah di pikirkan" seru Dika.


Dika lalu berbaring di samping ku. Memeluk ku dengan manja seperti Biasa.


"Udah boleh belum? udah lama banget nih puasa kawin" seru Dika tanpa basa basi.


Aku terkejut dan tertawa mendengar nya.


"Sudah lebih sebulan deh, kayak nya sudah aman? tapi untuk jaga jaga jangan dulu deh yah, takut" tolak ku.


Dika cemberut. Masa nifas ku memang sudah berakhir tapi aku masih takut untuk berhubungan intim selepas persalinan normal ku.


"Sabar sayang" seru ku.


"Gak mau ah, markicob, mari kita coba" protes nya.


Dika lalu dengan agresif menyentuh bagian tubuh sensitif ku.


Aku sebenarnya gak ingin tapi Dika sedikit memaksa jadi yah sudah lah.


......🌺🌺🌺......


Keesokan hari nya Aku segera membersihkan diri.


Dika mengajak ku jalan berdua. Aku minta tolong bibi lagi untuk menjaga Ali.


"Tumben mau jalan berdua?", tanya ku.


"Sekali sekali lah kita pacaran sayang, dulu kita nikah kan gak pacaran" jawab Dika.


"Iya sih, tapi kan..." protes ku.


"Syuut, udah deh gak usah protes, ayo" ajak nya.


Kebetulan dika sudah membeli sepeda motor untuk memudahkan nya berangkat kerja. Gak mungkin juga mengharapkan Helmi yang mengantar terus. Helmi punya kesibukan sendiri. Tapi aku salut banget sama Helmi, dia baik banget.


"Kok melamun, ayo" ajak nya.

__ADS_1


Aku pun segera bersiap siap dan menurut saja untuk ikut dengan nya.


Kami menikmati malam Minggu itu dengan bahagia. Ku peluk erat Dika dari belakang.


"Kita kemana sayang?" tanya nya.


"Loh, kan kamu yang ngajak, kamu dong yang nentuin" jawab ku.


"Hem, kalo gitu kita ke taman yang ada cafe di dekat nya, pemandangan nya indah di sana" seru Dika.


"Aku terserah kamu ajja sih, ngikut ajja yang penting sama kamu" ujar ku sambil mempererat pelukan ku.


Sesampai di lokasi kami pun memesan makan, minum, dan menikmati suasana romantis yang ada di sana.


Dika memegang tangan ku sambil tersenyum.


"Terima kasih yah sayang, sudah mau bersabar mendampingi aku, bahkan ketika tau aku dulu gak normal, aku gak tertarik dengan wanita, aku benar benar tidak bernafsu dengan wanita, tapi kamu udah mengubah hidup ku. Dengan mu aku bisa menjadi laki laki. Aku mencintaimu Mulan" ungkap nya.


"Drama banget sih, hihi, iya sayang, yang lalu biarlah berlalu. Terima kasih juga sudah mau berubah, aku juga mencintaimu" jawab ku.


Ku nikmati buah sebelum makan berat.


Aku melirik ke meja di sudut, ada gadis itu lagi? bukan nya trauma aku malah penasaran tentang siapa dia.


Gadis itu menyadari keberadaan ku. Namun tidak ada pergerakan aneh seperti kemarin. Penampilan nya juga lebih baik dari pada kemarin.


Gadis itu mendekati ku lagi.


Dika terkejut melihat ada gadis itu lagi, dan segera berdiri untuk melindungi ku.


Aku pun berdiri.


Gadis itu malah tertawa melihat kami.


"Hahaha, kalian kenapa, tenang, aku tidak akan menyakiti mu seperti kemarin, duduk lah" seru gadis itu sembari duduk di antara kami.


Dengan ragu aku ikut duduk.


"Nama ku Jenni, Maafkan aku kemarin, aku sedikit mabuk, aku salah orang, wajah mu itu mirip sekali dengan pengkhianat itu, kemarin aku mengira kau adalah dia, refleks aku ingin membunuhnya" jelas Jenni.


"Oh, iya gpp, maaf, jika boleh tau kenapa kamu ingin membunuh nya" tanya ku penasaran.


"Dia fake friend, dia merebut calon suami ku. Mereka berselingkuh di belakang ku, hahaha" jelas nya.


Aku menatap iba pada nya, seperti nya mental nya sedang down.

__ADS_1


"Sabar yah" seru ku.


Gadis itu tiba tiba tertawa dan menangis membuat pengunjung lain melirik ke arah kami.


"Eh Jenni, maaf, bisa pelan kan suara mu" ujar ku.


Jenni menatap ku sinis.


"Kenapa wajah mu bisa begitu mirip dengan nya, apa kalian bersaudara?" tanya nya.


"Maksud mu? bersaudara dengan siapa?" tanya ku.


"Dengan Yana, wanita bangsat yang sudah merebut pacar ku" jawab nya.


Aku menatap nya bingung.


"Aku tidak punya saudara perempuan" jelas ku.


Jenni tertawa lagi, lebih keras dari yang tadi.


Ia lalu mengeluarkan handphone nya, memperlihatkan wajah Yana.


Dika tertegun sesaat, Memang benar wanita itu mirip aku.


Jenni merapikan rambut panjang nya.


"Wanita gila itu juga berhijab, sama seperti mu, maka nya aku mengira yang kemarin itu kamu" jelas nya.


Aku menghela nafas berat.


"Ini siapa, pacar mu?" tanya nya.


"Eh, dia suami ku, nama nya Dika" jawab ku.


"Oh kalian sudah menikah. Enak dong" seru nya.


"Ya sudah, aku hanya ingin menyampaikan itu" ujar nya sembari berdiri kembali ke meja nya yang berada di sudut.


Menikmati secangkir kopi nya.


Aku dan Dika saling pandang.


"Miris sekali hidup nya" seru Dika.


"Iya, aku mengerti perasaan nya, aku juga dulu seperti itu, jika tidak ada kamu yang menikahi ku, aku gak tau akan seperti apa hidup ku,hihi makasih yang sayang" seru ku.

__ADS_1


"Terima kasih sama Allah sang pencipta karena sudah menyatukan kita" jawab nya.


Alhamdulillah Dika semakin dewasa dan bijak sekarang membuat ku semakin mencintai nya.


__ADS_2