
Sudah hari ke 3 tapi Dika belum juga siuman.
Aku ijin tidak masuk kerja selama Dika di rumah sakit.
Hari ke 7 akhir nya Dika mulai sadarkan diri
Ia mulai membuka mata nya.
Ia menatap ku.
"Mulan?" panggil nya lirih.
Ia lalu memegang kepala nya yang sakit pasca operasi.
"Iya, Dika, Alhamdulillah" jawab ku sambil menangis haru.
Ah syukur lah Dika tidak amnesia seperti cerita di sinetron sinetron itu.
"Aku di mana?" tanya nya dengan suara sangat pelan, hampir saja aku tidak mendengar nya.
"Di rumah sakit, kamu kecelakaan kemarin" jelas ku.
"Mana ibu ku?" tanya nya.
"Ibu mu baru saja pulang, tapi nanti dia akan balik lagi kok" jawab ku.
Dika menatap ku bingung.
"Makasi ya Mulan, kamu sahabat yang baik" seru Dika.
Sahabat?
Tunggu tunggu, kok ganjil yah.
"Eh, sama sama Dika" jawab ku.
Aku segera menghubungi mertua dan orang tua ku memberitahukan kabar Dika yang sudah sadar kan diri.
Mereka segera datang.
Melihat ibunya datang Dika segera memeluk ibu nya dengan manja.
"Alhamdulillah, dika anak mamak yang kuat, kamu pasti lekas pulih, semua akan baik baik saja" kata ibu mertua ku.
Dika menangis. Ini kali pertama aku melihat Dika menangis dalam pelukan ibu nya seperti telah lama sekali tidak pernah bertemu.
Ibu mertua ku pun larut dalam tangis haru melihat anak nya sudah siuman.
Aku mengelap air mata haru ku melihat pemandangan itu.
Ayah mertua ku mengusap pundak ku membuat ku semakin menangis. Aku takut Dika kenapa kenapa. Aku takut kehilangan dia. Terima kasih ya Allah.
Setelah puas memeluk ibu nya. Dika menatap ku heran.
"Kenapa kamu ikut menangis?" tanya nya.
Aku bingung dengar pertanyaan Dika.
"Kamu gak pulang Mulan? nanti di cari orang tua mu, sudah ada ibu ku di sini kok" seru Dika.
"Maksud nya?" tanya ku bingung.
__ADS_1
Sama, mertua ku juga bingung mendengar pernyataan Dika.
"Makasi yah sudah jadi sahabat yang baik, mau menjaga ku" jelas nya.
"Sahabat?" tanya ku. Kami saling pandang dengan mertua ku.
"Sudah seharusnya aku yang menjaga mu di sini Dika, kasihan jika ibu bapak yang di sini menjaga mu. Mereka juga harus banyak istirahat" seru ku.
"Kasihan kamu Mulan, kan masih ada keluarga ku" jelas nya.
"Lah, aku kan keluarga mu juga?" jawab ku.
"Keluarga?" tanya nya bingung.
"Aduh, Dika, aku kan istri mu" jelas ku dengan sabar.
"Istri? sejak kapan aku menikah?" tanya nya bingung.
"Loh, kamu gak ingat nak, sudah hampir setahun loh pernikahan kalian" mertua ku akhir nya bersuara.
"Tidak, aku kan baru lulus SMA Mak, bagaimana mungkin bisa langsung menikah?" jawab nya.
Sudah ku duga ada yang tidak beres di otak Dika.
Kami memanggil dokter untuk minta penjelasan.
Dokter memeriksa Dika. Lalu memanggil kami ke ruangan dokter.
"Ini Trauma pasca kecelakaan, Dika kehilangan memori terbaru di hidup nya, ia mengalami amnesia separuh. Separuh ingatan nya hilang, mungkin sekitar 5 sampai 10 tahun kejadian terbaru ia tidak mengingat nya. Ingatan nya terhenti di masa lalu. Itu lah mengapa ia tidak ingat kejadian sekitar 5 tahun ini" jelas dokter.
"Apaan sih dok, kalo amnesia ya amnesia sekalian, jangan separuh separuh Napa, bikin bingung ajja" protes ku.
"Lah,ini kemauan nya author, saya bisa apa dong, memang nya anda tidak pernah dengar kasus seperti ini?" tanya dokter.
"Kalo saya sih pernah, nonton di drama Korea. Hahaha" dokter tertawa sejenak.
Ini bukan saat nya becanda, author apaan, emang nya kisah ku ini cerita dalam novel. Gerutu ku. Tapi benar juga kata dokter. Ikuti ajja deh alur nya.
Hem. Jadi Dika sama sekali tidak ingat jika kami sudah menikah.
Pantas saja dia menyebut ku sahabat nya karena saat itu kami masih bersahabat, bahkan baru lulus sekolah dan bekerja.
"Sabar yah, bantu dia untuk pulih tapi jangan memaksa ingatan nya, dia akan sakit kepala jika terlalu memaksa untuk mengingat sesuatu" jelas dokter.
Setelah mendengar penjelasan dokter. Aku dengan lesu kembali ke ruang tempat Dika di rawat. Dika saat ingat semua saja tidak memperlakukan ku sebagai istri nya apa lagi amnesia separuh seperti ini?
Mertua menguatkan ku. Setelah agak lama menjenguk mertua ku pamit pulang.
"Kenapa mamak tega meninggalkan ku dengan mu, dan kenapa selalu kamu yang menjaga ku" tanya Dika.
"Karena aku istri mu dika, harus berapa kali aku katakan" jawab ku lesu.
Aku lalu inisiatif mengeluarkan handphone ku, ku scroll galeri dan memperlihatkan foto dan video pernikahan kami dulu.
"Handphone kamu keren banget, layar nya besar" seru Dika.
"Tapi kok bisa ya kita menikah?" tanya nya.
Aku hanya diam. Aku terlalu lelah untuk menjawab semua pertanyaan nya.
Aku mulai mengantuk dan mulai tertidur di samping nya. Dika terlihat bingung melihat tahun di kalender handphone ku.
__ADS_1
"Astaga!!! ini kah masih tahun 2011, kok jadi 2021? kamu ganti yah tahun nya" pekik Dika.
Aku yang hampir tertidur terbangun kaget mendengar Dika teriak.
"Ini tahun 2021 sayang" jawabku kesal.
"Tidak mungkin!!!" pekik Dika.
Aku mulai tidak memperdulikan Dika. Aku terlalu ngantuk mendengar semua pertanyaan nya itu.
Kembali aku tertidur.
Dika memandang ku heran, ia kesulitan menggunakan handphone itu. Ia terbiasa dengan handphone lama seperti Nokia dan blackberry.
Karena lelah dengan pertanyaan yang tidak terjawab Dika pun tertidur.
Keesokan hari nya Reni datang menjenguk Dika.
Reni cinta pertama Dika ke seorang wanita, Reni juga sahabat Dika saat masih sekolah dulu, jelas Dika mengingat nya.
"Reni, kamu kok terlambat datang sih" kata Dika manja.
"Maaf yah, aku sibuk, aku janji deh akan sering datang" jawab nya.
"Oh iya, kamu kan sibuk persiapkan kuliah mu" jawab Dika.
Reni menatap ku heran.
"Kuliah ku kan sudah selesai Dika, aku mengurus bisnis sekarang" jelas Reni.
Aku membawa Reni keluar menjelaskan keadaan dika yang sebenarnya.
Reni tersenyum bahagia mendengar nya.
Reni masuk lagi dan mereka ber manja-manja seperti saat masih dekat dulu.
"Ren, jangan memanfaatkan keadaan, ku peringatkan kamu, Dika sudah beristri" tegas ku.
"Biarkan kami bernostalgia" jawab Reni.
"Dia bahkan tidak ingat jika sudah beristri, haha kasihan sekali kamu" seru Reni sambil tersenyum sinis ke arah ku.
"Iya kan sayang, dia bukan siapa siapa kamu kan" kata Reni ke Dika.
"Ia, dia cuma sahabat ku kok, aku juga gak tau kenapa dia bilang kami sudah menikah, semua terasa aneh sekali" jawab Dika.
Otomatis Dika ingat perasaan nya pada Reni di masa lalu nya. Dika yang mencintai Reni lebih dari sahabat.
Mereka berpegangan tangan di depan ku.
Aku melerai tangan mereka.
"Jangan melunjak kamu!!" pekik ku ke Reni.
"Ups, kamu kenapa? kamu suka sama Dika?" tanya Reni sambil menertawakan aku.
"Mulan kita cuma sahabat jadi jangan berlebihan" seru Dika.
Aku mengelus dada ku berusaha bersabar.
Bukti foto dan video pernikahan saja tidak cukup meyakinkan Dika bahwa kami telah menikah.
__ADS_1
Aku hampir putus asa menjelaskan nya, di tambah kehadiran Reni yang meresahkan.