
Seminggu kemudian Dika sudah bisa berangkat kerja lagi seperti biasa.
Ku raih tas ku juga untuk berangkat kerja.
Lega sekali rasa nya melihat Dika kembali beraktifitas.
"Kenapa kamu bekerja, kata mu kita sudah menikah, apa selain tidak menyentuh mu aku juga tidak sanggup menafkahi mu?" tanya nya saat kami sama sama memakai kaos kaki.
"Hem. Tidak juga, aku hanya bosan di rumah, sudah terbiasa kerja, lagian kamu kan sudah ijinkan aku kerja" jawab ku
Dika menatap ku heran namun ia segera berdiri untuk menyalakan motor nya.
Syukur dia ingat cara bawa motor hihi.
"Ayo aku antar kerja?" seru nya.
What??? sejak kapan Dika seperti ini.
Tunggu tunggu, aku baru sadar suara Dika juga berubah, menjadi lebih macho?
"Eh biasa nya juga aku bawa motor" jawab ku.
"Apa? kau bahkan bawa motor sendiri ke sekolah? eh maksud ku ke tempat kerja" pekik Dika kaget.
"Emang nya kenapa, dari dulu kan aku memang selalu bawa motor sendiri" ujar ku.
"Hem. Kenapa menikah jika kamu bisa melakukan nya sendiri, aneh" gerutu nya.
"Apaan sih Dika. Ini masih pagi, jangan ngajak ribut deh" protes ku.
"Kamu kerja nya sift sift an juga?" tanya nya.
"Gak, aku kerja nya masuk pagi terus pulang sore" jawab ku.
Sumpah aku lelah banget jika harus memulai dari awal lagi.
"Ya udah ayo aku antar, kita berangkat kerja bersama jika aku sift pagi saja, kan kamu kerja nya lagi terus kecuali saat aku libur.
Jika aku sift malam ya kamu bawa deh motor kamu" seru nya.
"Terserah deh, ayo, nanti kita terlambat" seru ku.
Aku harus mengarahkan Dika ke arah tempat kerja ku.
Sesampai nya di sana Dika memberikan tangan nya untuk aku Salim? ini bukan Dika banget. Apa dia benar Dika?
Aku dengan kaku menyambut tangan dan mencium punggung tangan nya.
"Semangat kerja nya" seru Dika sembari melambaikan tangan nya.
Dia kesurupan apa yah? apa pengaruh amnesia separuh? Ah aku tidak ada waktu memikirkan keganjilan sikap Dika. Aku harus kerja sekarang.
Dika menuju tempat kerja nya.
Baju nya rapi. Jalan nya pun tidak lagi gemulai seperti biasa nya. Suara nya tidak manja, macho mengudang reaksi kagum ke seantero toko tempat dia bekerja.
"Eh Dika kok bisa berubah begitu?" tanya salah satu karyawan.
__ADS_1
"Mungkin karena dia sudah menikah" jawab rekan yang lain.
"Ah, sudah setahun dia menikah aku baru melihat nya seperti ini" kata karyawan yang lain.
"Sumpah, kalo macho begini ganteng banget, beruntung yah si Mulan dapetin dika." puji mereka.
"Heh, kerja kerja, gosip Mulu!!" pekik rehan, karyawan juga, teman Dika.
Mendengar keributan Dika menoleh ke arah kami.
Ia mendekati rehan.
Kebetulan rehan adalah teman selentingan nya saat pertama kali kerja dan sama sama di angkat menjadi karyawan tetap maka nya di mengingat nya.
"Ada apa Han?" tanya dika dengan suara macho nya, seketika Dika jadi banyak penggemar rahasia nya.
"Eh gpp, ini aku lagi negur gadis gadis sedang bergosip" jawab rehan.
"Oh" jawab Dika singkat lalu kembali ke kerjaan nya.
"Eh rehan sejak kapan Dika berubah seperti itu?" tanya Fani.
"Berubah bagaimana?" rehan tanya balik.
"Ih kamu gak liat dulu dia seperti apa dan sekarang seperti apa" protes Fani.
"Hm, iya ya, aku juga baru sadar" jawab rehan, dia malah ikut bergosip sama karyawati yang lain.
"Ganteng banget kalo begitu penampilan nya, badan nya memang sudah tinggi dan kekar" puji Fani.
"Hus, dia kan sudah nikah, mending kamu godain yang masih bujang nih, kayak pak Joko hahahaa" tawa rehan.
"Ihh jahat banget sih kamu!!!", Fani memukul lengan rehan.
Rehan sudah punya pacar maka nya dia gak menawari diri nya untuk di gombalin, apa lagi pacar nya garang dan cemburuan. Mana berani dia macam macam.
Jam istrhat kerja Dika dan rehan menuju salah satu warung makan.
"Gak bawa bekal?" tanya rehan.
"Gak dulu deh" jawab Dika.
Mereka pun makan nasi lalap di warung sebelah tempat mereka bekerja.
Menjelang sore Dika pun pulang. Tidak lupa dia akan menjemput ku.
Aku sudah menunggu nya di depan kantor tempat ku bekerja sebagai cleaning servis.
"Kamu gak bawa motor? ayo aku antar pulang" ujar Farhan tiba tiba dari belakang.
"Eh, gak pak, saya di jemput" jawab ku.
"Sudah ku bilang jika kita di luar kerjaan jangan panggil pak" protes Farhan.
"Maaf" jawab ku singkat.
"Di jemput siapa, Dika? emh hahaahaa" Farhan menertawai ku. Dia tau benar aku jarang sekali di antar jemput sama Dika.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Dika datang menjemput ku. Farhan terkejut.
"Saya pulang duluan pak" pamit ku.
Dika pun menyapa Farhan.
"Mari pak" seru Dika lalu kami pun pergi.
Farhan terdiam melihat perubahan dika. Ia seperti tidak percaya, sejak kapan Dika dengan sopan menyapa nya.
Sepanjang perjalanan pulang aku ngobrol banyak dengan Dika
"Dika, emang kamu kenal siapa laki laki tadi, kok kamu sapa?" tanya ku memancing.
"Gak kenal lah, tapi pasti rekan kerja kamu kan karena dia berdiri di situ juga. Maka nya aku sapa" jawab Dika.
Ah syukur lah Dika gak ingat.
"Memang nya dia siapa? maksud ku jabatan nya apa di sana, baju nya rapi" tanya dika.
"Dia bos ku, pemilik perusahaan tempat ku bekerja" jawab ku.
"Ohh berarti gak salah dong aku nyapa bos kamu tadi" seru Dika.
"Mau langsung pulang atau jalan jalan keliling dulu?" tanya nya.
"Maksud nya?" aku kebingungan dengar pertanyaan Dika.
"Loh, dulu waktu bersahabat bukan nya kita sering keliling dulu sebelum pulang ke rumah?" ujar Dika.
"Yah itu dulu" jawab ku.
"Ya udah kita keliling dulu yah baru pulang" seru nya.
Kami melewati memutar melewati jalan yang berbeda.
Menjelang petang kami pun sampai di rumah.
Aku mandi dan bersih bersih rumah.
Sudah tidak ada bahan makanan, jadi aku tidak bisa masak.
Selepas sholat magrib aku temui dika di kamar nya.
"Maaf aku gak masak" seru ku.
"Ya udah, kita makan di luar, besok kita beli bahan makanan. Tenang ajja", jawab nya.
Justru karena dia seperti ini aku tidak tenang. Biasa nya juga kami saling cuek. Masak gak masak biasa saja. Karena hidup masing masing meski satu atap.
"Aku suami mu kan?" tanya Dika tiba tiba.
"Harus berapa kali aku katakan" jawab ku.
"Ok, kalo gitu nanti malam layani aku" seru nya santai.
"Apaa?!!" pekik ku kaget.
__ADS_1
Apa dia beneran Dika. Aku jadi meragukan nya. Ah apa yang aku pikirkan, dia beneran Dika cuma otak nya ajja yang geser?