
Sepulang dari menginap di rumah mertua ku,
kami kembali ke rumah, lain kali giliran kami ke rumah ku.
Baru sampai di rumah tiba tiba Dika di telepon lagi oleh Reni.
Dika langsung memblokir nomor itu.
Reni yang kesal segera mencari tau kontak ku.
Dika seperti nya sangat lelah. Ia langsung tidur, beristirahat sejenak, karena siang nanti dia harus berangkat kerja.
Aku menyiapkan seragam kerja nya.
Agar memudahkan nya untuk berangkat kerja, Aku juga masak makan siang dan bekal untuk Dika.
Setelah Dika berangkat kerja. Seseorang menelpon ku.
"Halo, assalamualikum" sapa ku.
"Hay, aku Reni, teman Dika. Ada hal yang mau aku sampaikan" kata wanita itu.
"Ada apa yah?".tanya ku.
"Bisa ketemu di luar? maaf menganggu waktu mu" ujar Reni.
Aku berpikir sejenak lalu menuruti nya.
"Baik lah, tapi gak bisa lama yah" kata ku.
Reni mengiyakan dan memberi tahu lokasi.di mana kami akan ketemuan.
Sesampai nya di lokasi, ku lihat Reni sudah duduk manis di sebuah meja di tengah cafe yang buka dari pagi itu.
Reni melambai kan tangan nya ke arah ku.
Aku langsung menuju ke arah nya.
Sesampai nya di tempat Reni menunggu aku pun duduk di depan nya.
Reni segera memesan minum ke pelayan.
Tanpa bertanya ia memesan minuman yang sama dengan ku.
"Apa yang ingin kau sampaikan pada ku" tanya ku memulai obrolan.
"Santai dulu, ini tentang aku dan Dika" ujar nya.
Perasaan ku sungguh tidak enak.
Ada apa sebenarnya.
"Ada apa dengan suami ku?" tanya ku.
"Maaf yah, aku dan Dika masih menjalin hubungan dekat kami" jawabnya.
"Maksud nya?" aku minta penjelasan dari nya.
"Aku dan Dika punya hubungan spesial, kami bahkan sudah tidur bersama" kata Reni.
__ADS_1
Seketika darah ku rasa mendidih di kepala ku. Apa karena wanita ini dia tidak mau menyentuh ku. Apa karena wanita ini dia menahan diri nya.
"Tidak mungkin!!" pekik ku.
"Aku punya bukti" kata reni sembari menunjukkan foto mereka saat tidur bersama satu ranjang tanpa busana.
Aku syock melihat nya.
Apa Dika berbohong pada ku selama ini.
"Kami berdua saling mencintai sejak dulu. Kau lah orang ketiga di antara kami. Seharusnya aku yang menikah dengan nya. Tapi ia tidak mau menunggu ku selesai kuliah, akhir nya meski menikah dengan mu tapi ia tetap mencintai ku" desah nya.
Aku menahan diri agar tidak terbawa emosi.
Dika memang tidak pernah mencintai ku. Meski aku bilang sayang, meski aku bilang i love you, dia tidak membalas nya.
Apa benar karena Reni?
Aku tersenyum dan tertawa. Membuat Reni heran.
"Kenapa kau tertawa?" tanya nya.
"Apa kau yakin tidur dengan nya?" tanya ku.
"Iya benar, apa ini belum cukup jadi bukti" kata Reni.
Aku memendam rasa cemburuku yang teramat dalam. Ingin sekali aku menjambak wanita di depan ku ini.
"Kenapa kau menggoda suami ku!!" pekik ku.
"Aku tidak menggoda nya, kami memang saling mencintai, jika kau tidak percaya tanya saja ke dia bagaimana perasaan nya pada ku" jawab Reni.
Minuman kami datang, dengan santai Reni meminum minuman nya tanpa mempertimbangkan perasaan ku yang hancur saat ini.
Banyak sekali orang lalu lalang. Gerimis mulai turun seolah mewakili perasaan ku yang berkecamuk saat ini.
"Lepas kan Dika, dia pantas untuk bahagia bersama orang yang dia cintai" pinta Reni.
"Aku tidak akan melepaskan nya, kecuali dia sendiri yang melepaskan ikatan kami" kata ku sambil menghentak meja dan pergi dari sana.
Dengan kesal aku menuju keluar. Gerimis yang tadi berubah jadi hujan deras
Reni melihat ku pulang hujan hujan an dari dalam cafe. Ia tersenyum penuh kemenangan.
Aku naik angkot, badan ku sudah setengah basah. Setiba di gang rumah ku, aku pun turun dari angkot. Hujan hujan an menuju rumah.
Badan ku basah kuyup sekarang. Hati ku hancur, aku menangis.
Pantas saja Dika tidak mau menyentuh ku, ternyata dia masih menyimpan rasa cinta nya pada Reni dan menjaga cinta itu hanya untuk Reni? jika memang begitu kenapa dia mau menikah dengan ku.
Air mata ku mulai membanjiri wajah ku. Ku buka kunci rumah dan segera ke kamar mandi.
Setelah itu ku keringkan tubuh ku dengan handuk.
Mungkin gak akan sesakit ini jika aku tidak mencintai Dika.
Badan ku bergetar membayangkan perselingkuhan mereka di belakang ku.
Bodoh, aku memang bodoh.
__ADS_1
Ku pukuli tubuh ku sendiri.
Menjelang malam, Dika pun pulang.
Aku diam saja dengan mata bengkak.
"Kamu kenapa?" tanya Dika khawatir.
Aku menepis tangan Dika yang menyentuh kedua bahu ku
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotor mu itu" jawab ku.
"Maksud kamu apa?!!" tanya Dika bingung.
"Aku baru pulang kerja, jangan cari perkara" pekik dika.
Air mata ku turun lagi.
"Tega nya kau di belakang ku" tidak bisa ku lanjutkan kalimat ku karena sibuk menangis.
"Tega apa, jelas kan!!!" bentak Dika yang tidak mengerti masalahnya.
Setelah agak reda dari tangis ku dan agak tenang, aku mulai menceritakan pertemuan ku dengan Reni tadi siang.
"Dan kau langsung percaya itu? aku sudah pernah katakan pada mu jangan langsung percaya perkataan orang" kata Dika.
"Dia punya bukti!!!" pekik ku.
"Aku tau kau tidak pernah mencintai ku Dika, aku mengerti sekarang kenapa kau tidak tertarik dengan ku, aku mengerti kenapa kau tidak mau menyentuh ku. Itu semua karena Reni kan? kau mencintai nya kan" pekik ku.
Dika diam. Dia tidak tau perasaan nya pada ku bagaimana.
Kepala ku sakit karena sejak tadi menangis.
"Jika aku tidak mencintai mu, aku tidak akan sesakit ini" pekik ku lagi.
"Percuma ku jelaskan, kau tidak percaya pada ku" kata Dika kecewa.
Aku masuk kamar dan mengambil bantal, untuk tidur di luar.
Rasa lapar Dika hilang seketika.
Ia pun berganti pakaian dan keluar rumah meninggalkan ku sendiri.
Di pergi bersama teman teman nya dugem, merokok, minum alkohol. Begitu lah Dika jika sedang stress.
Aku tidak lagi menunggu nya. Aku tertidur di depan tv.
Lelah menangis akhir nya aku tertidur pulas.
Dika pulang jam 3 dini hari.
Ia melihat ku tidur di depan tv.
Dika memakaikan ku selimut. Dan mengecup kening ku, dan mengelus rambut ku.
"Maafkan aku" bisik nya.
Setelah itu dia pun ambil bantal untuk tidur bersama ku di depan tv.
__ADS_1
Dika memandang ku saat tidur. Ia melihat ku mengeluarkan iler dan berbekas di bantal. Ia sedikit tertawa melihat ku yang tertidur pulas sambil ngeces.
"Kamu pasti kelelahan menangis ya" batin Dika sambil terus memandang wajah ku.