
Setahun kemudian.
Tidak ada kabar lagi dari Farhan. Dia juga sudah berhenti mengganggu kami.
Alhamdulillah rumah tangga ku baik baik saja.
Menjelang subuh kami terbangun dari sofa ruang tamu. Ternyata kami berdua ketiduran di luar.
Adzan subuh berkumandang, kami segera melaksanakan sholat bersama.
Setelah itu aku aktifitas pagi seperti biasa.
Aku raih sapu, dan mulai membersihkan rumah.
Kebetulan Dika libur kerja hari ini.
Ia membantu ku. Mencuci piring.
Jam 8 pagi anak anak sudah bangun. Sudah mandi dan sarapan.
Mulai terdengar derap langkah kaki mereka bermain.
Saat menyapu halaman tiba tiba aku melihat ada tamu yang datang.
Segerombolan pria jas hitam datang membawa Sebuah koper hitam khusus.
Dika pun keluar. Kami berdua bingung.
"Ada apa ini?" tanya Dika.
Aku tidak menjawab karena aku juga bingung ini apa.
"Dengan ibu Mulan? ini semua untuk anda sekeluarga" ujar pria itu sembari memberi ku sepucuk surat.
Untuk Mulan dan Dika.
__ADS_1
Maafkan atas segala kesalahan ku selama ini, maaf karena aku tidak bisa meminta maaf secara langsung. Terima lah hadiah dari ku ini, jika kalian tidak berkenan menerima nya.
Kalian bisa menyumbangkan ke orang lain atau kemana saja terserah kalian. Oh iya aku juga menyerahkan ahli waris perusahaan dan seluruh harta ku kepada Ali Alhanan. Anak pertama dari mulan dan dika. Jangan khawatir, Dika bisa menggantikan nya sementara menunggu ali dewasa dan siap untuk melanjutkan perusahaan nya. Ada asisten yang akan menjaga dan mengajari kalian.
Harta ini milik kalian, hak kalian.
Semoga kita tidak pernah bertemu lagi, hanya satu pintaku, tolong maafkan segala kesalahanku, agar aku bisa pergi dengan tenang.
^^^Farhan.^^^
Aku sudah tidak tau lagi harus berkata apa.
Pria berjas hitam itu mulai menyerahkan sebuah koper hitam dan sebuah kunci mobil. Serta cek senilai 15 miliar rupiah.
Pria itu menyuruh ku untuk membuka koper itu.
Aku perlahan membuka koper itu, aku pikir isi nya uang ternyata Isi nya penuh emas batangan. Beserta surat surat nya. 15 kilo emas batangan, -+ senilai 15 miliar rupiah.
Bukan hanya di situ saja. Ini baru permulaan.
Kami pun hanya bisa menurut.
"Maaf atas kedatangan kami yang tiba tiba, bisa Ali tolong di panggil kemari?" ujar pengacara Farhan itu.
Aku pun memanggil Ali dan ikut duduk bersama kami. Syukur anak anak ku yang lain tidak rewel, mereka asik bermain sendiri.
"Saudara Ali. Pak Farhan menyerahkan seluruh harta dan perusahaan nya kepada anda, tapi karena Ali masih kecil untuk memimpin perusahaan, pak Farhan meminta kepada Bapak Dika untuk memulai nya. Nasib perusahaan ada di tangan kalian" seru pengacara Farhan.
"Aku tidak tau harus bagaimana" seru Dika. Semua serba mendadak.
"Pak Dika jangan khawatir kami akan dengan sabar mengajari anda" seru asisten Farhan.
"Farhan masih hidup tapi sudah sekarat sekarang, ia sudah tidak bisa bangun, dan hanya bisa berbaring di tempat tidur rumah sakit saja. apa kalian berkenan melihat nya untuk terakhir kali?" seru asisten Farhan sambil mengelap air mata nya.
Aku dan Dika saling pandang dan mengangguk. Kami sudah berusaha keras menolak nya. Namun pak aldo sedikit memaksa kami. Dia memohon sampai berlutut di hadapan kami.
__ADS_1
Kami jadi tidak enak.
"Tapi beliau di rawat di kota x , bukan di kota ini, apa kalian bersedia pulang kampung?" Seru pak Aldo asisten Farhan.
Setelah berdiskusi dengan dika. Akhirnya kami mau mengunjungi farhan di rumah sakit.
"Baik lah" seru ku.
"Kalian bisa berkemas mulai sekarang, kami akan membantu menguruskan kepindahan sekolah anak anak mu ke sana, kami juga akan mengurus data kepindahan kalian semua, kalau begitu kami pamit dulu" seru pak Aldo.
"Hubungi kami jika sudah siap pindah" ucap nya lagi sambil memberikan selembar kartu nama.
Seperi mimpi. Aku benci dengan Farhan tapi melihat nya sekarat seperti sekarang ini aku juga tidak tega, bukan karena harta yang dia berikan tapi karena sisi kemanusiaan Yang aku punya. Dia memang punya banyak kesalahan, semoga Allah mengampuni dosa nya.
Aku peluk anak bungsu ku ,Aydan yang masih kecil. Baju nya robek akibat rapuh, karena itu sebenarnya baju ali sewaktu masih kecil yang aku simpan. Sebagian sudah di makan rayap di lemari tua.
Tidak terasa 15 tahun lebih sudah pernikahan ku dengan Dika. Suka duka kami lalui bersama. Ku pandangi rumah sewa kami yang terbuat dari kayu itu. Bocor sana sini. Terkesan Kumuh.
Sedih juga rasa nya meninggal kan tempat ini, mengingat kami lumayan lama tinggal di sini.
Keesokan hari nya, aku berpamitan kepada tetangga, dan segera mengurus kepindahan kami kembali ke kampung halaman kami.
"Sedih sekali deh Mak Ali sekeluarga pulang kampung, jangan lupakan kami yah" seru Bu Sumiati sembari memeluk ku. Bu Sumiati adalah pemilik kontrakan yang selama ini kami tempati.
Ibu ibu yang mengenal baik dengan ku berkumpul di rumah. Mereka sedih sekali. Aku juga tidak ingin pergi dari sini. Tapi ini juga demi kebaikan ekonomi keluarga ku.
Pak RT juga terlihat di rumah ku sedang ngobrol dengan Dika. Kami sudah siap pindah.
"Jalan jalan kesini yah, minimal setahun sekali" seru Bu Kana.
"Insya Allah" seru ku. Aku tidak akan melupakan mereka orang orang baik yang selalu membantu ku, memberi ku makan ,sembako dan lain lain.
Setiap tahun juga mereka mendahulukan aku mendapatkan bantuan sosial, daging qurban dan lain lain. Karena memang di kampung itu keluarga ku lah yang paling susah dan miskin.
"Wajah Bu Mulan ini memang gak cocok jadi orang miskin, semoga di sana kalian sukses yah" seru pak RT.
__ADS_1
"Aamiin, hehe bisa ajja pak RT ini" seru ku.