
Aku terbangun dari tidur ku. Dika terlihat di samping ku juga tertidur.
Sejak kapan dia pulang?
Ah aku tidak peduli.
Bodoh nya aku menerima saja syarat nikah yang dia ajukan itu. Karena obsesi sesaat ku saat itu yang ingin segera menikah akhir nya aku menerima persyaratan itu, ini sudah konsekuensi nya, kenapa aku harus galau, bukan kah pernikahan ku ini memang hanya status saja. Yang bikin ribet adalah perasaan cinta ku yang muncul kepada nya.
Dia tidak salah. Aku mulai menyalahkan diri ku sendiri.
Segera aku bangun sholat dan lain lain.
Ku masak sarapan. Mencuci piring dan lain lain. Jenuh kadang, aku harus cari kerja.
Dika terbangun dari tidurnya. Ia segera mencari ku.
"Mulan" teriak nya saat tidak menemukan aku di mana pun.
"Ada apa?" tanya ku dari dalam kamar mandi.
Huft Dika bernafas lega, ia mengira aku sudah minggat entah kemana tau pulang ke rumah ku.
"Gak apa apa" jawab nya.
Ia pun duduk di meja makan. Menunggu ku keluar dari kamar mandi.
Aku pun keluar kamar mandi hanya dengan handuk.
Dika menatap ku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Ada apa sih?" tanya ku risih saat Dika melihat ku seperti itu.
"Eh, cepat lah pakai baju baru kita sarapan bareng", jawab nya.
Dika mendesah berat saat aku sudah pergi.
Ada yang ingin dia katakan tapi tidak berani.
Setelah memakai daster aku pun ke dapur menemani nya sarapan.
"Kamu udah gak marah?" tanya Dika.
"Marah?" aku tertawa sinis lalu menyiapkan makan nya.
Dika pun diam. Takut salah bicara.
Kami mulai makan, sepi, hening, seolah di rumah ini tidak ada orang. Hanya suara kunyahan makan kami yang terdengar samar samar. Akhir nya Dika buka suara.
"Maafkan aku" kata Dika.
"Karena apa?" tanya ku.
"Aku tidak melakukan nya, Reni itu masa lalu, aku tidak ada hubungan apa apa dengan nya lagi", kata Dika.
"Kau masih mencintainya?", tanya ku.
Dika diam. Diam nya Dika menandakan iya masih mencintainya.
Aku tersenyum sinis.
"Hubungan kalian bukan urusan ku, aku hanya ingin tau perasaan mu, bukan kah hanya status kita yang menikah, kita bukan lah suami istri yang sesungguhnya" ujar ku.
"Aku hanya peringatkan kamu,hati hati, jangan sampai keluarga kita tau kelakuan mu" ujar ku santai.
"Kau masih tidak percaya pada ku, aku tidak melakukan nya , sungguh aku masih perjaka" protes nya.
__ADS_1
Bagaimana aku bisa percaya?
Aku tersenyum tipis.
"Terserah, sungguh aku tidak peduli" jawab ku sambil menyimpun piring yang ada di meja.
Dika menahan lengan ku, tapi aku menepis nya.
Aku segera mencuci piring.
"Aku di jebak oleh nya, Reni itu licik, jangan pernah mempercayai nya" kata Dika.
Aku hanya diam.
Terus mencuci piring tanpa berkata apa pun.
Dika mendekati ku, memeluk ku dari belakang. Ini pertama kali nya Dika bersikap begini, ia tidak pernah memeluk ku, selalu aku yang mulai memeluk nya duluan.
"Ada apa dengan mu?" tanya ku bingung melihat perubahan sikap Dika.
Dika mencium leher belakang ku tiba tiba seketika aku merinding. Seperti tersengat listrik rasa nya.
Ada apa dengan nya?
Dika lalu membalik kan badan ku dan mencium bibir ku.
Selama 6 bulan pernikahan ini kali pertama kami berciuman.
Tidak lama kemudian Dika lalu menghentikan aksi nya.
Dan menjauhi ku.
Aku bingung tidak mengerti. Apa dia kesurupan?
"Tidak bisa apa?", tanya ku bingung. Dika tidak menjawab.
Aku memegang bibir ku, ini adalah ciuman pertama bagi ku.
Apa aku sedang bermimpi? ku cubit lengan ku, terasa sakit. Ini bukan mimpi.
Aku melanjutkan cuci piring ku dengan hati yang berdebar kencang karena Dika tiba tiba saja mencium ku.
Siang itu saat aku ke kamar, Dika sudah siap siap untuk berangkat kerja.
Kami jadi lebih canggung dari biasa nya. Seperti orang yang baru saja kenalan.
Entah karena malu atau apa. Inti nya ternyata itu juga ciuman pertama bagi Dika.
Kami jadi seperti orang yang baru pdkt.
Dika pamit turun kerja seperti biasa.
Aku di rumah saja mengurus rumah.
Aku senyum sendiri mengingat kejadian mendadak tadi.
Kenapa aku pasrah saja, harus nya aku tolak? Aku kan sedang marah? aku menyalahkan diri sendiri lagi. Namun kejadian itu membuat ku lebih sedikit bahagia.
Teman teman di grup heboh lagi.
Lastri:
mana sudah nih yang janji mau reunian. Lama banget, Mungkin lupa saking bahagianya menikah.
Ratih:
__ADS_1
Iya nih, kapan kita ngumpul lagi.
Aku:
Atur saja, kapan, aku bisa kok, Insya Allah.
Ratih: ya udah bagaimana kalo entar malem.
Lastri: setuju.
Aku : Ok, di mana?
Lastri: Di cafe Mulan yuk. Baru buka, ku dengar dengar di sana makanan nya enak dan harga nya terjangkau.
Ratih: nama nya sama kayak nama mu tuh lan? jangan jangan pemilik cafe nya mantan mu yang gagal move on. hahahaha. Canda.
Aku: Kebetulan ajja itu nama nya sama dengan ku.
Ratih: hehe, jam berapa bagus nya.
Aku: selepas sholat isya ajja yah.
Lastri: ok siap.
Aku: tapi aku ijin dulu sama Dika.
Lastri: ya elah, sekalian bawa dia ajja deh. Gpp kok.
Aku: Hem. Dika kerja sift 2, pulang nya malam. Hehe semangat kerja nya kalian, kabari ajja entar malam yah.
Aku menutup obrolan.
Segera ku telepon Dika minta ijin untuk jalan sama teman teman nanti malam.
Dika hanya menjawab dengan kata oke. Mungkin dia sibuk.
Aku teringat lagi kejadian tadi pagi. Aku jadi senyum senyum sendiri.
Ah rasa nya seperti remaja yang baru jatuh cinta.
Malam selepas sholat isya aku pun siap siap untuk jalan.
Susah banget kalo gak ada motor.
Sebenar nya aku punya motor sendiri tapi di rumah ku. Disini cuma ada motor Dika ajja.
Teman teman sudah menunggu di sana.
Aku segera naik angkot saja. Mungkin pulang nya aku minta jemput Dika. Sekalian dia pulang kerja.
Ku Pandangi cafe Mulan yang ada di hadapan ku. Aku jadi penasaran siapa pemilik cafe ini.
Nama nya sama dengan ku.
Dari kejauhan teman teman sudah menyambut ku.
Aku pun ikut nimbrung di antara mereka.
"Maaf yah telat, maklum, aku kan gak ada motor, gak kayak dulu saat masih lajang bebas kemana ajja hihi" kata ku.
"Ah, santuy ajja", jawab mereka.
Ku lihat Farhan duduk sendiri di sebuah meja di cafe itu. Apa dia kesini karena nama cafe baru ini Mulan? ah tidak mungkin, ge er banget sih aku.
Ternyata dia sadar ada aku di cafe ini bersama teman teman ku.
__ADS_1