Pria Banci Itu Suami Ku

Pria Banci Itu Suami Ku
Bingung


__ADS_3

Setelah lama di rawat, Dika ku bawa pulang ke rumah.


"Ini rumah siapa?", tanya nya saat kami telah sampai di rumah.


"Rumah kita, ngontrak" jawab ku sambil melangkah ke dalam membawa barang barang Dika selama di rumah sakit.


Dika menatap foto di dinding, foto pernikahan kami. Ia menggaruk kepalanya nya yang tidak gatal. Ia melihat sekeliling seperti orang lagi house tour.


"Toilet nya di mana?" tanya nya lagi.


"Di ujung sana" tunjuk ku.


Ku rapikan barang barang Dika di kamar nya.


Setelah itu Dika menyusul ku ke kamar.


"Aku masih tidak percaya kenapa kita bisa menikah" kata Dika.


"Gak usah percaya kalo begitu, bagaimana pun ku jelaskan kamu gak bakal ingat, inti nya kita sudah menikah, istirahat ajja dulu yang cukup", jawab ku.


"Mau kemana?" tanya nya.


"Mandi" jawab ku.


Dika melepaskan pegangan tangan nya di lengan ku.


Saat aku sudah dekat pintu Dika berteriak.


"Loh, gak ambil handuk?" tanya nya.


Sungguh Dika yang sekarang lebih bawel dari pada yang biasa nya.


"Handuk ku di sebelah" jawab ku sambil berlalu pergi.


Dia semakin bingung, mungkin karena lelah Dika akhir nya tertidur.


Selesai mandi aku kembali ke kamar ku.


Alhamdulillah Dika sudah sembuh meski otak nya belum pulih benar.

__ADS_1


Aku keluar kamar melihat kondisi Dika, setidak nya aku bisa lihat dia baik baik saja, meski pun dia tidak mengingat ku sebagai istri nya.


Tidak mengapa di, di anggap Sahabat sudah lebih dari cukup bagi ku. Aku kan memang sahabat dan teman hidup nya.


Pintu kamar Dika sedikit terbuka. Aku mengintip nya yang sedang tidur.


Karena lapar aku ke dapur untuk masak seadanya.


Aku goreng ikan dan masak sayur bening, tidak lupa sambal tomat dengan sedikit Lombok karena aku tidak suka makan pedas.


Aku terkejut setengah mati saat Dika sudah ada di meja makan.


Padahal tadi aku melihat nya tertidur pulas.


"Aku lapar, mencium bau masakan mu aku jadi terbangun" ujar nya tanpa ku bertanya.


Aku pun menyiapkan makan untuk kami.


Sambil makan kami ngobrol.


"Aku melihat ada kamar di sebelah. Kamar siapa?" tanya nya.


"Kamar ku" jawab ku singkat.


"Aku tidak mengerti, kata mu kita menikah tapi beda kamar?" tanya nya.


"Susah di jelaskan" jawab ku.


"Sudah hampir setahun kata mamak kita menikah, apa kita belum punya anak?" tanya nya.


Aku menghela nafas berat.


"Bagaimana kita bisa punya anak sementara aku masih perawan" jelas ku dengan kesabaran.


"Apa?!" pekik nya tidak percaya.


Ia lalu melihat ke bawah dengan panik.


"Apa aku sakit? impoten?" tanya nya.

__ADS_1


"Gak tau, sudah lah, nanti ajja cerita nya, ayo makan dulu" ajak ku.


Dika masih shock sendiri mendengar pernyataan ku.


Selesai makan aku mengajak Dika ke ruang tamu untuk ngobrol.


Aku ceritakan awal kisah kami dulu dari sahabat an sampai bisa menikah.


Dika memegang kepala nya. Seperti orang kesakitan.


Aku pun panik.


"Dika, sudah jangan ingat ingat lagi. Kata dokter kepala mu bisa sakit jika di paksa mengingat" ujar ku.


Ku baringkan Dika di pangkuan ku.


Ia masih mengadu kesakitan.


"Maafkan aku, harus nya aku tidak cerita" seru ku.


Ku bacakan dia ayat Alquran yang aku hapal.


Perlahan Dika mulai tenang dari kesakitan nya.


Aku tuntun Dika ke kamar nya. Ku baringkan dia. Ku pakai kan selimut. Dia benar masih sakit, jika sehat dia pasti menolak untuk pakai selimut, dia nyaman tidur hanya menggunakan boxer nya.


Setelah Dika tertidur aku diam-diam pergi tapi tiba tiba tangan nya menahan ku.


"Jangan tinggalkan kan aku, temani aku di sini" suara nya seperti orang yang sedang mengigau dalam tidur nya.


Dika menarik tangan ku. Menyuruh ku untuk menemani nya tidur.


"Jika kamu tidak temani, aku akan pulang ke rumah mamak" ancam nya.


Aku menurut. Perlahan aku masuk ke dalam selimut itu.


Dika memeluk ku dan tertidur nyaman.


Aku menatap nya.

__ADS_1


Dika, suami ku, betapa aku sangat mencintai nya. Alhamdulillah meski keadaan nya seperti ini setidak nya Dika selamat dan hidup hingga saat ini.


Ku cium pipi nya sebelum tidur.


__ADS_2