Pria Banci Itu Suami Ku

Pria Banci Itu Suami Ku
Buah hati.


__ADS_3

Dika dan Farhan saling bertatapan penuh arti.


Reina masih penasaran.


Farhan melihat seorang anak kecil dalam gendongan Dika.


"Hai sahabat" sapa Farhan tiba tiba.


Farhan mencoba merangkul Dika tapi Dika menghindari nya.


Tanpa kata Dika langsung pergi. Menghindari orang gila yang sering mengganggu istri nya itu.


Farhan mengejar nya.


"Di mana Mulan?" seru nya.


Dika berbalik.


"Kamu masih menanyakan nya? kamu benar-benar sudah gila" seru Dika.


Farhan mencoba menyentuh anak kecil dalam dekapan Dika.


Tapi Dika langsung menepis tangan itu dari anak nya.


"Jangan sentuh anak ku!!!" bentak Dika.


Reina berlari ke arah mereka. Membuat anak gadis kecil dalam gendongan nya pun menangis.


"Ada apa sih di antara kalian?" tanya Reina.


"Sahabat lama ku ini tidak mau berdamai dengan ku, dia masih mengingat masa lalu buruk kami" seru Farhan.


"Sahabat kata mu?! cuihh" Dika mulai emosi.


Reina semakin tidak mengerti.


Dika segera pergi dengan motor matic nya meninggalkan mereka.


Benar kata Mulan, gak baik Kembali ke kota ini lagi. Farhan tidak juga berubah.


......🌺🌺🌺......


Setelah 2 Minggu berlalu.


Aku menyambut kembali nya suami dan anak ku di rumah.


"Bagaimana liburan nya" tanya ku.


"Alhamdulillah lancar ajja" jawab Dika.


"Bagaimana orang tua kita? apa mereka sehat sehat saja, aku juga merindukan Mereka tapi aku enggan kembali ke kota itu, gpp, sebaiknya aku di sini saja" seru ku.


Dika hanya mengangguk setuju.


......🌺🌺🌺......


7 Tahun kemudian.


Ali sudah sekolah, ia masuk di SD negeri 9.


"Sayang jangan nakal yah, nanti pulang mama jemput" seru ku sembari melambaikan tangan ke Ali yang masuk ke dalam kelas untuk pertama kali nya.


Tidak terasa anak ku sudah sekolah.


Aku Kembali ke rumah, bertemu dengan anak gadis kembar ku.

__ADS_1


"Mamaaaa" seru mereka saat aku baru masuk ke dalam rumah.


Kami sudah tidak Tinggal di rumah Helmi lagi. Kami ngontak di sebuah rumah sederhana. Terbuat dari kayu, lumayan murah, karena sekarang hanya Dika yang bekerja, aku tidak bisa kerja di luar lagi untuk membantu nya mencari nafkah, karena harus mengurus ke 3 anak ku.


Tak mengapa miskin yang penting kami masih bisa bertahan hidup.


Menjelang siang aku kembali menjemput ali pulang sekolah dengan sepeda motor bekas yang Dika belikan untuk ku agar bisa mengantar jemput Ali dan ke pasar ketika ia bekerja dan tidak bisa mengantar ku.


Ku jahit daster ku yang mulai robek agar bisa ku pakai lagi di depan rumah. Di teras rumah dina dan dini berlarian bermain.


"Dina... dini... jangan lari lari nanti jatuh sayang" teriak ku.


Yah nama nya anak kecil gak bisa di kasi tau mereka tetap bermain, berlari kesana kemari.


Tetangga ku lewat.


"Eh Mak Ali, lagi apa?" seru nya.


"Lagi menjahit ajja nih, hehe" jawab ku singkat.


"Minta beli baru itu tanda nya" ujar nya saat melihat aku menjahit daster ku yang sudah robek sana sini.


"Eh iya nanti ajja" jawab ku singkat.


"Kalo sudah sobek begitu jadikan lap ajja Bu" seru nya.


Aku hanya tersenyum tanpa menjawab.


Bu Neneng akhir nya pergi. Apa salah nya memakai baju yang sudah robek? batin ku.


Terdengar bunyi sesuatu yang jatuh dan suara tangis anak ku menggema.


Ku tinggalkan kerjaan ku dan berlari menuju sumber suara.


Dini sedang menangis karena terjatuh.


Tak lama kemudian tangis dini mereda.


Aku lalu meletakkan nya di samping ku. Ia terlelap.


Aku melanjutkan menjahit, Dina tiba tiba naik ke pundak ku.


"Dina sayang jangan gangguin mama dong" protes ku.


"Main yuk ma, bocan" ajak nya.


"Sayang, mending tidur siang deh nyusul dini, yah" jawab ku.


"Sini main sama kakak ajja" ajak Ali.


Huft syukur lah, ada Ali. Anak sulung ku.


Mereka pun bermain bersama.


"Ali jangan lupa nanti sore ngaji yah" teriak ku.


"Iya maa" jawab nya.


Perasaan ku tidak enak. Mual sekali.


Aku baru sadar sudah lama tidak haid. Oh tidak, jangan bilang aku hamil lagi. Batin ku.


Menjelang sore.


Adzan ashar berkumandang, Ali segera bergegas ke masjid untuk sholat ashar sekaligus ngaji bareng teman teman nya.

__ADS_1


Ada pak ustadz Riza yang mengajari mereka secara sukarela, gratis, tanpa mau di bayar. Amal jariyah, kata nya.


Alhamdulillah masih banyak orang baik, sangat membantu untuk kalangan kami yang hidup pas Pasan ini.


Jam 5 sore Dika pulang kerja.


Ku lihat ali berbonceng di belakang nya, mungkin mereka bertemu di jalan saat hendak pulang. Syukur nya letak masjid dengan rumah kami tidak terlalu jauh


Segera ku sambut suami ku. Mencium tangan nya.


"Sayang mau apa dulu, minum, makan atau mandi?" tanya ku.


"Mau kamu dulu hehe" jawab nya.


"Ihh, banyak anak anak ini," seru ku.


"Canda sayang, tapi malam ketika mereka sudah tidur boleh dong" goda nya.


Padahal sudah biasa tapi aku tetap malu mendengar nya, wajah ku merona, membuat nya gemas.


Dika pun mandi.


Tidak lupa kami curi curi ciuman ketika anak anak sibuk sendiri.


"Sayang, nanti beliin testpack deh. Seperti nya aku hamil lagi" seru ku lesu.


Aku memang tidak KB. Ku pikir aman saja.


"Kok lesu gitu sih, kalo hamil lagi ya Alhamdulillah dong sayang, rejeki, jangan khawatir, pasti ada saja rejeki kita, Insya Allah aku kuat menafkahi kalian, doakan saja, banyak loh pasangan di luar sana yang belum di karuniai anak. Jadi kita bersyukur ajja yah." jawab Dika menenangkan ku.


Aku menghela nafas berat, ku lirik Dika dengan sedih, aku gak masalah hidup miskin. Aku hanya tidak tega jika anak anak ku hidup susah, mereka masih kecil. Astagfirullah apa yang ku pikir kan.


Menjelang malam Dika ke kota membawa ku ke klinik. Memeriksa kandungan, padahal aku ingin beli testpack saja. Supaya irit. Lagian ini bukan anak pertama untuk kami.


Aku tinggalkan Ali dan adik adik nya sesaat. Syukur ali sudah agak besar untuk menemani adik nya.


Sesampai nya di klinik kami pun mengantri.


Banyak sekali ibu hamil yang sedang memeriksa kandungan.


Ada seorang wanita yang terlihat ramping. Di sebelah ku.


"Hamil berapa bulan Bu?" sapa nya.


"Eh belum tau sih, baru mau periksa ini" jawab ku


"Sama dong, aku kesini bukan karena hamil tapi sedang program hamil, sudah 10 tahun pernikahan ku tapi belum juga di karuniai anak" seru nya sedih. Mata nya berkaca kaca.


"Sabar ya bu, jangan berhenti berdoa dan berusaha" jawab ku.


"Mertua ku mengancam akan memisahkan aku dan suami ku jika kali ini aku tidak hamil" air mata nya mulai turun membuat ku terbawa suasana. Ku seka air mata ku.


Aku seketika langsung istighfar dan bersyukur, aku bersyukur jika benar aku hamil lagi.


Ku usap pundak ibu itu.


"Semua orang punya cobaan nya masing masing, semoga ibu cepat hamil yah" ujar ku


"Kamu juga" seru nya.


"Anak saya sudah 3 Bu, sebenarnya saya tidak ingin hamil lagi karena faktor ekonomi, tapi ini rejeki dari Allah, saya tidak bisa berbuat apa apa selain menerima nya, saya juga tersadarkan bahwa ini karunia terbesar yang Allah kasih ke saya. Ini adalah bentuk nikmat dari nya, bagaimana bisa saya berpikir menolak nya" ujar ku.


Ibu itu terkejut, dia mengira aku sama seperti nya sedang program hamil, dan dia juga mengira kami adalah pasangan yang baru menikah.


"Sayang, giliran kita nih, ayo" seru Dika.

__ADS_1


Aku pun pamit ke ibu itu, dan segera masuk ke dalam ruangan periksa.


__ADS_2