
Aku check out dari hotel milik Farhan.
Ku laju kan sepeda motor ku menuju pulang.
Terserah jika kami harus bertengkar setiba ku di rumah nanti.
Sesampainya di depan rumah. Ku parkir kan motor ku.
Ku lihat tidak ada motor Dika.
Aku masuk perlahan. Membersihkan diri dan beristirahat di kamar ku.
Menjelang malam terdengar suara deru motor Dika yang terparkir di depan rumah.
Aku terlalu lelah untuk melihat nya.
Dika pun masuk ke rumah. Seperti nya ia baru pulang kerja.
Melihat ada motor ku, Dika mengetahui aku sudah pulang, ia tidak tertarik untuk melihat keadaan ku.
Yah memang seperti itu harus nya.
Sebenar nya aku enggan untuk keluar.
Tapi aku sangat haus jadi aku pun bangkit dan melangkah ke dapur.
Aku terkejut karena Dika di situ sedang minum juga.
Aku melihat jakun nya naik turun meneguk minuman itu.
Ah apa yang ku pikirkan. Jakun nya saja gede orang nya banci. Gerutu ku dalam hati.
Dika melirik ku.
"Dari mana saja?" tanya nya.
"Bukan urusan mu" jawab ku sambil mengambil gelas dan segelas air putih.
Aku pun duduk dan meneguknya.
Setelah itu aku hendak pergi.
Tapi Dika menahan ku.
"Maafkan aku" ujar nya tiba tiba.
"Karena apa?" tanya ku.
"Seperti yang kau lihat".jawab nya.
"Oh , tentang kamu gay? tentang kamu benci pada ku, tentang kau bohong bilang akan berubah" seru ku.
Dika menunduk.
"Bantu aku, supaya bisa mencintai mu" seru nya.
Aku tertawa sinis.
"Tidak perlu repot untuk mencintai ku, aku sudah tidak mengharapkan mu lagi. Tinggal menunggu waktu saja, sampai kapan hubungan gila ini akan bertahan!!!" pekik ku.
Dika terdiam. Ia tidak bisa berkata apa apa.
Aku pun kembali ke kamar ku.
__ADS_1
Melepaskan penat ku dengan berbaring dan mendengarkan musik.
Keesokan hari nya aku turun kerja seperti biasa.
Ku masuki ruangan Farhan membawa alat kebersihan.
Tidak ada dia di ruangan nya. Ah syukur lah. Aku sedang tidak ingin bertemu dengan nya.
Setelah membersihkan ruangan. Aku turun ke bawah bersama rekan kerja yang lain membersihkan toilet dan teras.
Seorang karyawan menghampiri ku.
"Bikinin kami kopi donk" kata nya.
Aku melihat dari tanda pengenal nama nya Selly Wahyuni.
"Berapa mba" jawab ku.
"Kamu gak lihat kami ber 3. Yah 3 lah! dasar lemot" ujar nya.
"Maaf, siapa tau yang lain juga ada yang mau" jawab ku penuh kesabaran.
"Sudah, sana gih. Gak pake lama!" seru Selly.
Aku mengangguk, dan segera ke dapur kantor.
seharian aku tidak bertemu dengan Farhan. Dia kemana yah?
Astagfirullah. Apa yang ku pikirkan.
Aku mengantarkan kopi ke ruang kerja karyawan di kantor itu. Terlihat semua sibuk dengan komputer nya masing masing.
Selly dan kawan kawan menunggu ku di sudut ruangan tempat mereka bekerja dan berkumpul karena berdekatan meja.
"Lama banget sih. Dasar lelet!!!" pekik Selly.
"Maaf" seru ku.
"Maaf terus, nanti kebiasaan!!!" bentak nya.
"Sudah lah sel, maklum lah cleaning servis baru" ujar lieta yang ada di sebelah nya.
Aku hanya menunduk.
"Ya udah pergi sana. Lain kali kalo di suruh itu gercep Alisa gerak cepat" seru nya lagi.
"Baik mba" jawab ku.
Aku kembali ke pekerjaan ku.
"Eh Mulan, kamu belum istirahat dari tadi? ambil jam istirahat gih. Kami sudah istirahat tadi" seru Bu Anye.
"Iya Bu" jawab ku sambil berlalu pergi ke ruang istirahat.
Aku memang cleaning servis junior di sini. Termuda juga. Kulit putih dan wajah cantik tapi tetap saja aku adalah cleaning servis. Hihi.
Aku makan bekal ku. Lalu berbaring. Lumayan jam istirahat nya selama 1 jam.
Aku masih penasaran kenapa Farhan tidak ada di ruangan nya dan di mana pun.
Selesai istirahat aku kembali ke pekerjaan ku.
Ku lirik Bu Anye yang lagi membersihkan pintu kaca ruang karyawan.
__ADS_1
"Bu, tau di mana pak Farhan gak? kok aku gak liat dia seharian yah?" tanya ku penasaran.
"Wah, kangen yah? hihi jangan yah. Ingat kita ini siapa, dia siapa" nasehat Bu Anye.
"Ih apaan sih Bu, kan cuma nanya, lagian aku sudah menikah kok" jawab ku.
"Oh iya lupa kalo kamu udah menikah, kurang tau sih kemana si bos, mungkin ada rapat atau sibuk ngurus cafe baru nya" jawab Bu Anye.
"Ohh, ya udah, makasi info nya" ujar ku sambil melanjutkan pekerjaan.
Menjelang sore, aku pun pulang.
Dan hingga pulang aku tidak ketemu dengan nya. Padahal aku ingin membayar utang.
Ku lajukan motor ku ke arah rumah.
Penat rasa nya. Lelah sekali. Sesampai nya di rumah aku langsung mandi. Segar sekali rasa nya.
Dika sudah pulang. Tumben dia tidak jalan.
"Aku sudah masak. Makan lah" seru Dika tiba tiba.
Tumben? angin apa dia masak.
Aku tidak menghiraukan nya. Setelah dia pergi baru aku ke meja makan mencicipi masakan nya. Lumayan lah, enak.
Tidak seperti perlakuan nya pada ku.
"Jangan sungkan, apa lagi gengsi" Dika tiba tiba muncul di belakang ku.
Membuat ku terkejut dan tersedak.
Aku batuk batuk karena tersedak.
Dika buru buru mengambilkan aku air putih.
"Maka nya, makan itu pelan pelan" seru nya.
Aku menerima air putih itu. Hampir saja aku mati tersedak. Konyol sekali. Alhamdulillah panjang umur.
Dika duduk di samping ku. Aku berdiri menghindari nya.
"Apa kau masih belum memaafkan aku?" tanya nya.
"Entah lah. Memaafkan sudah pasti sudah. Tapi untuk dekat dengan mu seperti dulu seperti nya aku tidak bisa" jawab ku.
"Kenapa?!" tanya nya.
"Harus nya aku yang bertanya, kenapa kita menikah? ok Ini adalah kesalahan ku karena mau menikahi mu. Salah ku juga meminta lebih dari pernikahan ini. Aku terlalu berharap hubungan kita normal seperti pasangan lain. Dan itu hanya angan, impian ku yang gak mungkin terwujud, aku sudah tau kau tidak mungkin mencintai ku. Aku tau aku bertepuk sebelah tangan, aku sadar" seru ku sambil mengelap air mata ku yang entah sejak kapan turun.
Dika mendekati ku. Aku refleks mundur menghindari nya. Tapi Dika tetap maju nekat memeluk ku.
Ku tumpahkan air mata ku.
Aku mendorong tubuh dika yang sedang memeluk ku.
"Aku tak butuh di kasihani" Ujar ku.
"Mulan...." Dika memanggil ku yang berjalan cepat ke arah kamar ku dan mengunci nya.
Dika terduduk di depan pintu kamar ku.
Ia menyesali perbuatan nya yang selingkuh dengan seorang pria di luar sana.
__ADS_1