Pria Banci Itu Suami Ku

Pria Banci Itu Suami Ku
Bab 8 , istri pajangan


__ADS_3

Aku hampir tertidur karena pijatan Dika enak banget.


Selesai di pijat aku pun mandi.


Setelah aku selesai mandi, Dika pun menyusul mandi.


Aku rapikan tempat tidur, siapa tau Dika mau istirahat.


Malam nya. Selepas sholat isya tiba tiba Dika ngajak jalan.


"Jalan yuk" ajak jya.


"Kemana?" tanya ku.


"Hmm, makan, keliling kota" kata Dika..


Kami tinggal di sebuah kota kecil di provinsi Kalimantan Utara. Kota ini meski kecil tapi padat penduduk nya. Di Kota ini banyak pendatang merantau seperti orang tua ku dan orang tua Dika. Aku lahir di sini tapi orang tua ku dari Jawa timur. Sedangkan Dika dan orang tua nya orang Bugis asli, dari Sulawesi Selatan.


"Baik lah, siap siap dulu" jawab ku.


"Sip" ujar Dika.


Ramai jalanan memenuhi kota.


Ini hari apa yah?


"Hari apa sih ini, kok rame banget?" tanya ku di atas motor.


Dika Yeng sedang menyetir motor di depan pun menjawab.


"Hari Minggu"


"Oh pantasan rame" seru ku.


Kami memasuki sebuah cafe.


Terlihat banyak sekali pengunjung.


Dika membawa ku pada sebuah meja yang sudah terisi banyak orang.


"Kok di sini?" tanya ku.


"Hay, selamat datang" kata teman Dika. Ada Samsul dan Sarifuddin juga di situ.


"Maaf yah aku gak bilang sebelumnya, mereka udah ngajak jln duluan aku gak enak menolak nya, tapi aku juga gak enak ninggalin kamu di rumah jadi aku bawa deh", ujar Dika.


Oh begitu ternyata.


Dika mempersilahkan ku duduk.


Mau tidak mau aku pun ikut nimbrung.


Ada 5 orang di sini.


"Wah ini ternyata istri kamu dik?" seru salah seorang dari mereka.


"Iya perkenalkan, nama nya Mulan". jawab Dika.


Mereka mengangguk, sebagian sudah mengenal ku.


Dika asik sibuk ngobrol dengan teman teman nya. Aku sendiri sibuk main handphone. Karena bingung harus bagaimana. Ku pikir kami akan jalan berdua saja. Kalo tau begini aku nda mau jalan jalan.


"Aku ke toilet dulu yah", pamit ku ke Dika.


Dika hanya mengangguk.

__ADS_1


Aku menuju toilet. Melihat di kaca wastafel, merapikan hijab ku.


Lalu kembali keluar.


Ku lihat Dika masih asik mengobrol.


Ingin minta pulang tapi gak enak. Serba salah.


Mana perut ku lapar belum makan.


Aku melangkah ke arah meja Dika.


Tiba tiba seorang pelayan menumpahkan minuman ke arah ku.


Ia memang tergesa gesa tadi.


"Aduh mba maaf yah, saya tidak sengaja" ujar nya.


"Iya gpp" jawab ku.


Dika yang melihat itu langsung mendekati kami.


"Bagaimana sih mas, lihat tuh ,baju nya jadi kotor", protes Dika.


"Sudah Dika, gpp kok" aku berusaha menenangkan Dika.


"Mungkin aku pulang ajja yah" kata ku.


"Ya udah aku antar yah" jawab nya.


"Eh gak usah. Gak enak juga sama teman ku kalo kamu tinggal, aku bisa naik taksi" tolak ku.


"Yakin gak apa apa?" tanya nya lagi.


Aku mengangguk dan tersenyum.


Segera aku keluar cafe dan menuju jalan besar.


"Aku yang sengaja menyuruh pelayan itu untuk menumpahkan minuman itu di baju mu" seru seseorang di belakang ku.


Aku pun menoleh.


"Maksud kamu apa?" pekik ku.


"Aku lihat kamu canggung sekali di sana jadi ku buat sesuatu agar kau bisa terbebas dari sana" jawab nya.


"Aku gak butuh bantuan mu!" pekik ku.


Farhan tersenyum lebar saat melihat ku marah.


"Kau memang tempramen dari dulu, hobby nya marah marah" ujar nya.


Aku mendengus kesal.


"Siapa kau sebenarnya, kenapa selalu ada di sekitar ku, apa kau mata mata?" tanya ku.


Farhan malah tertawa mendengar pertanyaan ku.


"Hahaha, emang ada mata mata yang menampakan wujud nya seperti ini?" seru nya.


"Aku gak ada waktu meladeni mu" ujar nya. Sambil terus mencari taksi untuk pulang.


"Coba ingat ingat lagi plester luka karakter yang kau berikan pada ku" pancing nya.


"Tidak usah berteka teki. Aku tidak ingat. Bisa jadi kau salah orang" kata ku.

__ADS_1


"Bagaimana bisa aku lupakan orang yang telah menemani ku saat susah dahulu" jawab nya.


"Inti nya kamu siapa, aku gak ada waktu untuk mengingat yang tidak penting" desak ku.


"Maafkan aku yang pergi meninggalkan mu, itu bukan mau ku" kata nya.


"Kita teman masa kecil dulu, ingat? saat ibu ku meninggal, kau bersama ku, selalu bersama ku, menyemangati ku, kau bilang kau tak pandai mengobati luka hati karena kehilangan, maka nya kau berikan plester luka karakter lucu lucu pada ku. Kau bilang apa pun luka nya pakai saja plester itu. Hingga saat ini aku mengingat nya"jelas Farhan.


Aku baru ingat ternyata dia Farhan teman ku sejak kecil , namun sejak lulus SMP dia pergi pindah ke luar kota


Dan sejak itu aku mulai melupakan nya, apa lagi penampilan nya saat ini sangat berbeda saat terakhir aku melihat nya.


"Terus?" tanya ku.


"Aku menyesal datang terlambat, sebenar nya aku ingin menikahi mu" ujar nya.


Aku pun tertawa.


"Apa? haha, makasi leluconnya" tawa ku.


"Aku serius" kata nya.


"Pergi lah, aku sudah menikah" tegas ku.


"Maafkan aku, aku akan menunggu mu", kata nya lagi.


"Menunggu apa, janda ku? gila kau ya" pekik ku.


Farhan hanya diam.


"Aku tidak merasa dekat, apa lagi menyelamatkan mu dari apa pun. Jadi berhenti lah mengganggu ku. Anggap saja kita orang asing yang tidak saling kenal" Tegas ku.


Taksi pun lewat. Aku segera menyetopnya,


Aku pun naik taksi tanpa menyapa nya sedikit pun.


Dasar gila. Itu hanya pertemuan masa kecil, bisa bisa nya ia mengingat nya. Tidak penting.


Lamunan ku jauh menerawang, mengingat suami ku yang gay. Bagaimana cara agar aku bisa menyembuhkan nya. Dia bahkan tidak tertarik pada tubuh putih mulus dan kecantikan ku.


Tidak ada guna nya semua ini. Perawatan ku untuk menyenangkan suami pupus sudah mengingat aku tidak bisa melayani nya selayak nya istri yang lain.


Sesampai nya di rumah, segera aku berganti pakaian, dan bersih diri, lalu rebahan di depan tv. Aku baring di atas ambal empuk dengan bantal. Menunggu Dika pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 21.40 WITA.


Aku mulai mengantuk dan tertidur. Bukan aku yang menontonnya televisi, tapi televisi yang menonton aku tidur.


Syukur sudah mengunci pintu.


Di tempat lain Dika asik menikmati kebersamaan dengan teman teman nya.


"Dugem yuk" Toni yang baru ikut nimbrung.


Dari sekian banyak teman Dika aku paling tidak suka dengan si Toni ini.


"emm, gak deh, aku mau pulang ajja, kasian Mulan sendiri di rumah" tolak Dika.


"Wah gak asik nih yang sudah nikah, udah mulai berubah, mulai takut istri" ujar nya.


"Bukan seperti itu ton" sergah Dika.


"Sudah lah, pulang sana" Toni mulai ngambek.


Dika mulai dilema. Ia tidak ingin kehilangan teman teman nya tapi ia juga tidak tega membiarkan Mulan sendirian terus di rumah. Sementara ia selalu bersenang senang.


Teman teman mulai melirik Dika dengan ekspresi marah.

__ADS_1


"Maaf aku gak bisa kali ini, aku harus pulang, kalian saja" tegas Dika sambil mengambil kunci motor nya yang ada di meja.


__ADS_2