
"Eh tidak perlu repot-repot pak" tolak ku.
"Gpp jika kamu tidak mau kasi ke orang lain saja" jawab nya sambil berjalan pergi ke ruangan nya.
Belum sempat aku sambut bungkusan itu, Bu anye sudah mengambil nya.
"Terima kasih yah Mulan" seru nya sambil membawa kabur makanan itu.
Aku tertawa geli melihat tingkah Bu anye.
Farhan terlihat kecewa.
Aku melanjutkan pekerjaan ku.
"Mulan, ke ruangan ku segera!" perintah Farhan mengejutkan kami semua yang sedang asik dengan pekerjaan masing masing.
Aku melirik Bu Anye. Bu anye menatap ku bingung.
Aku melangkah masuk ke ruangan Farhan.
"Ada apa?" tanya ku.
"Haha santai saja" tegur nya.
"Apa kau sudah tau orang tua mu terlibat hutang dengan rentenir, dan itu sangat besar" ujar Farhan.
"Apa kau bilang! kenapa kau begitu tertarik dengan kehidupan orang lain" pekik ku tidak percaya.
"Hubungi lah sekarang orang tua mu jika tidak percaya, mereka pasti sedang di serang lintah darat Alias rentenir itu" jawab Farhan.
"Aku tidak percaya!!!" pekik ku.
"Silahkan mencari tau sendiri, jangan sampai menyesal karena tutup mata dengan Masalah yang tengah mereka hadapi di masa tua nya" jawab Farhan.
Aku menelepon ibu tapi tidak di angkat.
"Pergi lah melihat keadaan orang tua mu sekarang" seru Farhan
Aku yang panik langsung meluncur keluar kantor dan segera naik taksi untuk pulang ke rumah orang tua ku.
Baru sampai di depan rumah aku sudah melihat ibu dan bapak sedang berseteru dengan seseorang berjubah hitam hitam.
"Ibukk!!!" pekik ku.
Mereka semua melihat ke arah ku.
"Ada apa ini?!!" pekik ku.
"Wah ,siapa ini yang datang? cantik sekali" ujar pria itu. Ini pasti rentenir yang di maksud Farhan.
__ADS_1
Aku langsung memeluk ibu.
"Siapa kalian?!!" bentak ku.
"Ih jangan galak galak dong, manis" jawabnya.
Ia mulai berani mencolek ku.
"Hentikan!!!!" bentak ku saat ia berani mencolek tubuh ku.
Pria itu lalu menarik hijab ku.
"Heh wanita murahan, jangan sok jual mahal, lebih baik kau lunasi saja hutang orang tua mu ini dulu baru berlagak sok suci!!" pekik nya. Pria itu bernama Alex. Perawakan nya tinggi besar dan wajah nya menakutkan.
Seketika nyali ku ciut. Bapak dan ibu tidak bisa berbuat apa apa.
"Jika tidak mampu bayar jangan berhutang!!!, mana setoran nya!!!" paksa Alex pada bapak. Ibu sudah menangis sejak tadi.
"Apa harus dengan kekerasan!!!" bentak ku.
"Hahaha, sejak kapan rentenir menagih dengan kelembutan, kau pikir kami dinas sosial??!" tawa Alex.
"Memang berapa hutang mereka?" tanya ku.
"500 juta bunga nya 50% berarti 1 miliar!!!" pekik nya.
"Bunga nya sebesar itu, Kau pasti sudah gila!" balas ku.
"Astaga ibuk!!! untuk apa ibu uang sebanyak itu???" tanya ku.
"Rumah kita hampir di sita bank. Saudara bapak mu itu berulah, ia mencuri serifikat rumah kita dan menggadaikan nya ke bank, ia meminjam banyak sekali uang dari bank itu. Ia lalu kabur entah kemana. Alhasil bapak mu yang harus menanggung akibat nya. Karena panik kami pun pinjam uang ke rentenir untuk melunasi rumah ini agar tidak di sita bank, ujung ujung nya kami baru menyesal karena tidak mampu membayar" jelas ibuk.
Lutut ku serasa lemas mendengar nya.
"Cepat bayar Bu atau anak ibu ini kami ambil sebagai tebusan, terus kami jual haha" pekik Alex.
"Jangan, tolong beri kami waktu, kami janji akan segera membayar nya" jawab bapak.
"Segera nya itu kapan!!! tahun depan!!! tidak! Minggu depan aku akan kembali lagi jika tidak rumah dan anak mu ini kami sita!!!" seru Alex sambil berjalan menjauh, tidak lupa satu mata nya berkedip genit ke arah ku.
Aku menatap nya jijik.
Aku, ibu dan bapak masuk rumah.
"Kenapa ibu gak pernah cerita sih sama aku?" tanya ku.
"Ibu gak enak ndok sama kamu, kamu sedang kena musibah kemarin saat suami mu kecelakaan" jawab ibu.
"Tapi jika sudah begini keadaan nya bagaimana buk?" tanya ku.
__ADS_1
"Maafkan bapak,semua salah bapak, andai bapak tegas pasti semua ini tidak terjadi." seru bapak.
"Maksud bapak? jadi sertifikat itu tidak di curi??? apa bapak yang memberikan nya cuma cuma!???" pekik ku.
"Maafin bapak nak. Saat itu bapak sedang ngobrol dengan pakde kamu, dia tiba tiba minta tolong ke bapak untuk meminjam kan sertifikasi rumah ini untuk dia jadikan modal usaha, dia janji akan segera melunasi nya, tapi dia malah menipu bapak dan pergi entah kemana" jawab bapak.
Aku syock mendengar nya. Aku tidak habis pikir kenapa bapak bisa di bodohi seperti itu sama saudara nya sendiri.
Harus dari mana aku dapatkan uang sebanyak itu. Sementara kehidupan ku dan Dika pas pasan. Tidak mungkin juga aku mengadu ke mertua ku masalah ini. Tidak enak merepotkan mereka.
"Aku harus bagaimana Bu? tapi aku akan cari bantuan sesegera mungkin, ibu tenang ajja yah" kata ku menenangkan ibu.
Setelah itu aku Kembali ke kantor. Hari sudah siang. Semua karyawan pergi istirahat makan siang. sementara aku tidak nafsu makan sama sekali.
"Mulan kamu gak makan?" tanya bu anye.
"Ibu saja yang makan, aku tidak lapar" jawab ku.
Farhan tersenyum menghampiri ku.
Sontak aku berdiri menjauh dari Bu anye untuk ngobrol dengan Farhan.
"Jangan bahas apa pun masalah pribadi ku jika ada orang lain" tegas ku.
"Gak kok, aku cuma mau ajak kamu makan, karena tadi makanan yang aku kasi sudah kamu berikan ke Bu anye sebagai ganti nya kamu harus menemani ku makan siang" ujar nya.
Mau tidak mau aku mengikuti nya.
Sesampai nya di restoran.
"Bagaimana kau bisa tau keadaan keluarga ku?" tanya ku.
"Kebetulan saja, jangan berpikir aku menguntit keluarga mu" jawab Farhan.
"Aku pasti sudah gila karena mau makan siang bersama mu di sini" ujar ku.
"Sampai kapan kau akan angkuh seperti itu dan mengabaikan kebaikan ku, suatu saat kau pasti membutuhkan ku" ujar nya.
"Jangan ge er kamu bapak Farhan yang terhormat, aku tidak membutuhkan kan mu" jawab ku.
"Apa kau yakin?" kata Farhan sambil tersenyum sinis.
Aku hanya diam.
Denting garpu memecah keheningan di antara kami. Makan siang di restoran mewah. Sungguh jarang sekali aku rasakan.
Meski begitu aku lebih bahagia ketika makan nasi goreng di pinggir jalan bersama Dika.
Aku teringat Dika dan kemesraan kami akhir akhir ini. Aku jadi tersenyum sendiri mengingat nya.
__ADS_1
"Apa yang membuat mu terlihat begitu bahagia di saat keluarga mu terkena musibah seperti itu" tanya Farhan.
"Bahagia dan sedih ku bukan urusan mu pak Farhan yang saya hormati" jawab ku.