
Hari berganti, bulan berganti, tahun berganti.
Sebenar nya Helmi sudah sering ingin membantu Dika tapi Dika menolak nya.
Jika mendesak saja dia akan menghubungi Helmi.
Ali sudah besar, sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama. Gadis kembar ku juga sudah kelas 6 SD. Anak bungsu ku Aydan juga sudah Sekolah SD kelas 3.
Mereka cepat sekali besar atau aku yang tidak sadar sudah semakin menua.
Ku pandangi Ali yang pulang sekolah dengan sepatu nya yang bolong.
Sedih sekali rasa nya. Karena memang sepatu itu dia pakai sejak masih SD.
Di sekolah Ali.
Tiba tiba segerombolan jas hitam mendatangi sekolah.
Seketika membuat kaget semua murid dan guru.
"Ada apa ini Ali? itu siapa?" tanya teman teman Ali bingung.
"Aku juga tidak tau" jawab Ali.
"Yang penting bukan dokter, aku takut di suntik" seru darman.
Setelah mendapat ijin dari guru, salah satu dari mereka menemui Ali di dalam kelas. Membuat kelas Ali semakin heboh.
"Siapa kalian!" pekik Ali takut.
Pria berjubah hitam langsung menunduk tanda hormat pada Ali lalu mempersilahkan nya untuk keluar mengikuti nya.
Ali sempat ragu dan menemui guru di depan kelas. Tapi guru langsung mengangguk tanda mereka bukan orang jahat.
Sesampai nya di depan kelas, semua yang berjas hitam itu langsung tunduk hormat kepada Ali. Yang membuat nya semakin bingung.
"Om semua siapa?" tanya Ali.
"Silahkan ikut kami, nanti kami jelaskan" jelas salah satu dari mereka.
Karena jam pelajaran sudah berakhir, anak anak berhamburan keluar.
Darman menyusul Ali. Ia berlari.
"Ali kamu mau kemana?" tanya darman.
"Aku tidak tau, sampaikan pada ibu ku, aku di bawa om om" jawab Ali polos. Ia takut kejadian masa kecil nya dulu terulang lagi.
Di dalam mobil Ali langsung bertanya.
"Kita kemana om?" tanya ku.
"Bertemu ayah kamu" seru salah satu dari mereka.
"Ayah? papa ku sedang bekerja, aku bisa ketemu dia saat pulang sekolah" jawab Ali.
Tidak ada yang menjawab.
Sesampai nya di tujuan. Mereka telah sampai di hotel *** terbesar di kota ini.
__ADS_1
Ali di bawa masuk ke ruangan.
Farhan sudah menunggu nya dengan antusias.
Senyum Farhan mengembang saat Ali mulai masuk ke ruangan nya.
"Kerja bagus kalian semua" ujar Farhan sambil menyuruh mereka keluar kecuali asisten dan pengacara Farhan.
Semua pria ber jas hitam pun menunduk hormat lalu pergi keluar.
Ali yang tidak pernah ke hotel pun bingung. Ia menatap sekeliling, mewah sekali, Ali merapatkan kaki nya satu sama lain agar sepatu bolong nya tersembunyi dan tidak terlihat.
"Duduk lah nak" seru Farhan.
"Om siapa, ada apa membawa saya kemari?" tanya Ali dengan sopan seperti ajaran mama nya.
Farhan tersenyum simpul.
"Mulai sekarang aku akan menjadi ayah mu nak" jawab Farhan.
"Maksud nya? saya punya orang tua lengkap" tegas Ali.
"Mungkin terdengar aneh tapi aku ingin kamu menjadi anak angkat ku, jadi ikut lah dengan ku" ujar Farhan.
"Gak om. Gak mau !!" pekik Ali sembari berontak dan ingin keluar tapi di tahan oleh farhan.
......🌺🌺🌺......
Darman berlari ke rumah Ali.
Aku yang sedang menjemur pun bingung kenapa darman sampai tersengal sengal begitu menemui ku.
"Ada apa darman, mana Ali?" tanya ku. Darman adalah teman dekat Ali.
"Ke arah mana mereka?" tanya ku.
"Gak tau bu, hanya itu kata terakhir Ali saat bertemu dengan ku" jawab darman.
"Makasih ya darman" seru ku sambil berlari ke dalam rumah dan segera berganti pakaian.
Ada apa lagi ini?
Syukur anak anak sudah besar jadi bisa jaga rumah. Anak anak bingung melihat ku tergesa gesa keluar rumah.
Tapi aku harus kemana?
Pertama tama aku ke sekolah Ali.
Menanyakan siapa yang datang membawa Ali.
Syukur guru guru belum pulang.
Seorang guru menjelaskan kenapa mereka mengijinkan Ali di bawa oleh mereka.
Siapa dia? kenapa bisa membuat guru mengijinkan membawa nya?
"Orang itu berkata dia adalah paman nya ali jadi kami mengijinkan, maafkan kami ya bu mulan" seru seorang guru.
Lutut ku lemas seketika.
__ADS_1
"Apa mereka memberi tahu kemana mereka akan pergi?" tanya ku
"Maaf Bu, kami tidak tau" seru nya.
Aku pergi dengan kehampaan.
Aku gak mau kehilangan Ali, air mata ku jatuh dengan sendirinya. Aku harus mencari kemana? Ali maafkan mama.
Ku lap air mata ku lalu bergegas ke kota.
Aku pun naik bus untuk ke kota.
Menuju hotel-hotel terbesar di kota ini. Firasat ku seperti nya di sana. Aku mengelilingi kota.
Aku memeriksa salah satu hotel terbesar di kota ini.
Sesampai nya di lokasi aku langsung masuk, aku bertanya dan mencari anak SMP bernama ali.
Tapi resepsionis tidak memberi tahukan dengan alasan privasi.
Karena tidak dapat jawaban aku pun berontak dan masuk ke dalam hotel untuk mencari sendiri.
Di mana? Ali anak ku, kamu di mana?
Aku melihat ada sebuah ruang yang di jaga ketat oleh pria berjas hitam.
Ali pasti di dalam nya. Aku segera ke sana. Tentu saja di cegah oleh pria jas hitam itu.
"Ali, mama di sini, Ali, anak ku pasti di sini kan!!!" teriak ku.
Pria berjas hitam itu mendorong ku.
"Siapa anda ini, tiba tiba datang marah marah" tanya pria itu.
"Kembalikan anak ku!!" bentak ku.
Ali yang memang sejak tadi ingin keluar membuka pintu dan berlari keluar tapi di cegah pria jas hitam.
"Mama......" pekik Ali. Tapi mereka tidak bisa bertemu karena di cegah orang orang suruhan Farhan. Ternyata farhan. Aku sungguh terkejut melihat nya.
Farhan keluar dan melihat ku
Ia terharu setelah sekian lama akhirnya bisa bertemu lagi dengan ku.
"Lepas kan Ali??!" pekik ku.
Farhan memberi kode ke anggota nya untuk melepaskan aku dan Ali.
Ali langsung berhamburan memeluk ku.
Farhan mendekati kami.
"Mulan. Sudah lama kita tidak bertemu, kamu tidak berubah. Cara ku berhasil. Dengan menculik anak mu, kamu datang pada ku tanpa aku harus mendatangi mu"seru Farhan.
Aku berdiri, Ali berlindung di belakang ku.
"Apa maksud dan tujuan mu sebenarnya datang kesini!!" pekik ku.
Farhan tersenyum.
__ADS_1
"Karena tidak bisa memiliki mu, maka tujuan ku sekarang adalah mengambil salah satu dari anak mu, aku akan angkat dia menjadi anak ku, lepas kan lah dia, dia pasti bisa bahagia bersama ku,oh ya kau masih cantik seperti dulu, tapi ada apa dengan penampilan mu itu? lusuh sekali" ejek Farhan sambil menatap ku dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kau bahkan tidak mampu membeli kan sepatu anak mu, miris sekali" seru Farhan sambil menunjuk sepatu sekolah yang ali pakai. Memang sudah tidak layak di pakai.