Pria Banci Itu Suami Ku

Pria Banci Itu Suami Ku
Merantau.


__ADS_3

Tidak lama dika di rawat , 2 hari kemudian dika sudah boleh pulang.


Dika juga jauh lebih segar dan sehat dari pada sebelumnya.


"Maafkan aku Dika, semua ini karena aku" ujar ku.


"Tidak apa apa, ini bukan salah mu" seru dika.


"Apa sebaik nya kita pindah saja dari sini? aku lelah ketemu Farhan" seru ku.


Entah lah tiba tiba aku lelah jika harus berurusan dengan farhan.


"Kenapa tiba tiba?kita mau kemana? kita gak punya banyak uang untuk pindah pindah" kata Dika.


"Sejauh mungkin, jika perlu kita merantau saja ke luar kota" pinta ku.


"Nanti kita pikirkan, sebaik nya Sekarang kita istirahat" jawab Dika.


Kami pun tertidur.


Keesokan hari nya Dika kerja seperti biasa, aku mulai mencari akal agar bisa pergi jauh dari sini. Sudah tidak aman lagi, tidak ada alasan bagi ku untuk bertahan hidup di sini.


Bapak dan ibu mertua ku tiba tiba berkunjung ke rumah.


"Assalamualaikum" sapa ibu mertua ku.


Aku segera membuka pintu dan menjawab salam.


"Eh ibu, jauh jauh kemari, silahkan masuk bu," seru ku.


Ada wajah tidak enak yang ku lihat.


Setelah membuatkan mertua ku minum mereka pun mulai berbicara.


Aku gugup sekali, hal penting apa yang akan mereka sampaikan pada ku? apa mereka tau kejadian kemarin? aku terus bertanya tanya dalam hati.


"Mulan, ibu ingin sekali menimang cucu, sudah lebih satu tahun kamu menikah, tapi belum juga hamil?" tanya ibu mertua ku.


Aku bernafas lega ,tapi juga tersinggung dengan pertanyaan ibu mertua ku.


Aku juga tidak mungkin menceritakan aib Dika di masa lalu.


"Belum rejeki Bu" jawab ku.


"Baru satu tahun kok Bu, biarkan mereka berdua dulu" bela bapak mertua ku.


"Kita sudah tua pak, Ya pengen lah menimang cucu" seru ibu mertua ku.

__ADS_1


"Doakan saja Bu semoga mulan cepat hamil" seru ku.


"Usaha juga dong" protes nya.


"Iya Bu" jawab ku pasrah.


Apa apaan mertua ku ini, jauh jauh datang berkunjung kesini hanya untuk memberitahu kan itu?


"Eh kamu gak berangkat bekerja?" tanya nya.


"Gak bu, saya udah berhenti bekerja" jawab ku.


"Loh kenapa?" tanya nya.


"Gak nyaman ajja Bu dengan kerjaan di sana" jawab ku.


"Oh ya udah, lebih baik banyak di rumah, jangan capek capek biar cepat hamil" seru nya.


Aku hanya mengangguk.


"Oh iya Bu, rencana kami ingin merantau ke luar kota" ujar ku.


"Loh kenapa tiba tiba mau merantau, nanti jauh dong" protes nya.


"Mencari kerja yang lebih baik Bu di luar" alasan ku padahal aku ingin menghindari Farhan.


"Kami pasti pulang kok Bu, tapi ini juga baru rencana, semua tergantung Dika" jelas ku.


"Mana yang terbaik untuk kalian saja" jawab ibu pasrah.


Menjelang sore Dika pun pulang.


Ibu dan anak itu pun akhir nya bertemu.


Mereka berpelukan. Dika memang anak kesayangan.


"Sejak kapan mamak datang, kok gak ngabarin?"tanya Dika.


"Sejak siang tadi, sengaja bikin kejutan" seru ibu.


"Yah, kalo tau kan aku bisa belikan sesuatu sebelum pulang" sesal Dika.


"Gak perlu repot repot nak, mamak juga sudah mau pulang kok, justru mamak sudah bawakan makanan kesukaan kamu" seru nya.


"Makasi banyak Mak" seru Dika. Setelah ngobrol panjang mertua ku akhir nya pulang juga.


"Ibu suruh aku cepat hamil" ujar ku saat mertua ku sudah pulang.

__ADS_1


"Haha, mamak ada ada, nanti kita buat yah" seru Dika. Aku hanya tersenyum.


Menjelang malam kami makan malam di dapur. Makan lauk dari mertua ku.


Dika makan dengan lahap nya.


"Ah rindu nya masakan mamak" seru nya.


"Jadi bagaimana dengan rencana ku, kita pindah dari kota ini?" tanya ku.


"Sabar yah sayang" jawab Dika.


"Aku gak mau ketemu Farhan lagi , aku takut dengan tempramen nya." seru ku.


"Iya sayang, semua butuh proses, tapi tenang saja, aku ikuti kemauan kamu, nanti kita pindah ya" janji Dika.


Aku tersenyum dan memeluk nya.


"Makasih sayang" balas ku.


Aku ingin segera pergi menjauh dari kota ini. Aku tidak mau melihat Farhan. Maafkan aku bapak ibu.


Sebulan kemudian kami benar benar bersiap untuk pindah. Dika mengundurkan diri dari pekerjaan nya. Uang pesangon nya lumayan untuk modal kami hidup merantau d negeri orang. Segala keperluan kami siapkan, dengan tabungan dan sisa gaji kami pun segera berangkat.


Aku dan Dika pamit ke orang tua ku dan mertua ku.


Mereka sedih melepas kan kami.


"Nak bagaimana jika Farhan menagih hutang nya?" bisik ibu ku agar tidak di dengar Dika, Dika belum tau masalah utang yang di lunasi Farhan itu.


"Tenang saja Bu. Bukan kah kita tidak meminta bantuan dari nya, itu kemauan nya. Nanti kalau ada rejeki insyaallah kita bayar ke dia" jelas ku.


"Baik lah, jaga diri mu baik baik nak" ujar ibu sambil memeluk ku.


"Ayo, Nanti kita ketinggalan pesawat" ajak Dika.


"Iya sayang" seru ku.


Aku bawa ransel dan koper. Naik ke pesawat di samping Dika. Alhamdulillah akhir nya aku pergi dari kota itu.


Aku melirik Dika. Pandangan ku ber kunang-kunang.


"Hooekk" tiba tiba aku ingin muntah.


Dika segera mengeluarkan plastik untuk ku.


"Kamu sakit?" tanya Dika.

__ADS_1


"Mungkin mabuk kendaraan, aku kan gak biasa naik pesawat" jawab ku.


__ADS_2