Pria Banci Itu Suami Ku

Pria Banci Itu Suami Ku
Kepergian Farhan.


__ADS_3

Aku berjalan beriringan bersama Dika dan pak Aldo menuju ruangan di mana Farhan di rawat.


Terlihat Farhan terbaring lemah di rumah sakit. Raga yang begitu kuat ku lihat terakhir tahun lalu kini terbaring lemah tanpa tenaga.


Banyak sekali alat di tubuh nya, di bantu alat pernapasan.


Farhan seperti sedang menunggu kematian nya. Aku merapatkan tubuh ku ke Dika. Ku peluk lengan Dika.


"Bicara lah, dia mungkin masih bisa mendengar kita" seru pak Aldo.


Aku ragu tapi Dika malah mendorong ku untuk mendekat ke ranjang tempat Farhan di rawat.


Pak Aldo memberikan aku kursi. Dan aku duduk di samping ranjang rumah sakit kamar itu.


Aku menoleh ke arah Dika dan pak Aldo.


Aku gak tau harus berkata apa?


Dika menepuk pundak ku dan mengajak pak Aldo keluar untuk memberi ruang privasi untuk aku dan Farhan.


Betapa besar hati Dika. Sungguh aku tidak salah memilih nya menjadi suami Ku.

__ADS_1


Aku menatap tubuh lemah di hadapan ku.


"Hay farhan, aku gak tau harus berkata apa, aku kemari bukan karena harta mu,tapi karena kemanusiaan, aku tidak mengerti kenapa kamu menyerahkan seluruh harta mu untuk keluarga ku, sebenarnya aku tidak butuh itu, tapi jika itu adalah wasiat dan amanat mu akan ku pastikan harta mu akan di gunakan dalam kebaikan, sebagian akan aku sumbangkan ke panti dan dinas sosial, juga ke masjid dan lain lain. Semoga menjadi amal jariyah bagi mu. Terima kasih atas cinta mu yang begitu besar pada ku, meski pun itu cinta yang salah, Semoga Allah mengampuni kamu dan aku, aku pamit yah Farhan, teman masa kecil ku." seru ku.


Tidak ada jawaban, hanya air mata Farhan yang terlihat keluar dari mata nya yang terpejam.


Setahun lalu sosok di depan ku ini masih kuat untuk sekedar mengejek ku.


Dika masuk dan memeluk ku.


Pak Aldo menangis, sudah lama sekali ia mengabdikan diri nya untuk membantu Farhan. Pak Aldo menyeka air mata nya.


"Terima kasih sudah berkenan hadir" ujar pak Aldo sesenggukan.


Dika mengelus pundak pak Aldo.


"Sabar dan tenang lah", seru Dika ke pak Aldo.


Aku dan Dika pamit pulang. Ke rumah orang tua kami.


Kami melangkah menuju keluar ruangan.

__ADS_1


Berjalan menuju keluar rumah sakit.


Baru setengah perjalanan, kami melihat ada perawat dan dokter berlarian ke arah ruangan Farhan.


Perasaan ku sungguh tidak enak. Aku segera berlari kembali ke arah ruangan itu. Dika juga segera berlari menyusul ku.


Ku lihat pak aldo sudah terduduk di lantai menangis karena kehilangan seseorang yang sangat berarti bagi nya.


Aku melihat dokter menutup wajah Farhan dengan kain putih.


Aku menutup mulut ku, Farhan benar benar pergi?


Tidak terasa air mata ku turun.


"Dokter, apa yang terjadi?"tanya ku.


"Maaf kan kami, Beliau baru saja meninggal dunia" dokter pun pergi untuk mengurus jenazah beliau.


Aku menutup mulut ku tidak percaya.


"Farhan, kau pasti bercanda kan, kau pasti mengerjai ku" Seru ku.

__ADS_1


Dika memeluk ku erat. Aku menangisi kepergian musuh ku?


Aku juga tidak tau kenapa aku menangisi orang yang selama ini mengganggu ku.


__ADS_2