Pria Banci Itu Suami Ku

Pria Banci Itu Suami Ku
Pengakuan cintaku


__ADS_3

Dika terdiam mendengar penyataan ku.


"Maaf" hanya itu yang Dika katakan.


"Maaf untuk apa? karena tidak membalas cinta ku, haha" jawab ku.


Dika hanya diam.


"Gak perlu minta maaf, setidak nya aku tidak berdosa kan mencintai suami ku sendiri?" ujar ku.


Seperti tersengat listrik, wajah Dika merona seketika.


"Kamu kenapa, demam? kok merah gitu muka nya" ujar ku sambil memegang dahi Dika.


Dika menepis tangan ku dan berlari ke toilet.


Dika kenapa ya? apa kata kata ku salah?


Beberapa menit kemudian Dika keluar, aku memandang nya. Ia malah kabur ke kamar.


Aku pun memilih untuk nonton televisi saja.


Aku ke dapur untuk minum, dan ke kamar melihat Dika.


Ia sedang nonton YouTube di handphone nya.


"Liburan gini ajja, gak bosan?", tanya ku.


"Gpp lah nikmati saja" jawab nya.


"Apa nya yang di nikmati?" pancing ku.


"Eh, apa yah, hehe" dia pun bingung mau jawab apa.


Aku mendekati nya. Memeluk tubuh nya yang asik nonton.


"Kamu kenapa jadi aneh gini. Gak biasa nya" kata Dika grogi melihat ku bermanja-manja dengan nya.


"Aneh bagaimana? emang ada istri yang memeluk suaminya di bilang aneh?" balas ku.


"Em. Maksud ku lebih agresif ajja gitu" kata Dika


"Oh, hehe gpp donk, sama suami sendiri" jawabku.


"Lagi nonton apa sih?" tanya ku.


"Ini film India, sedih banget" jawab nya.


Seketika tawa ku pecah melihat apa yang dia tonton.


Ah Dika memang berbeda, tapi aku tetap mencintai nya.


Dika pamit ke toilet lagi. Dan melepaskan pelukan ku.


Belum lama ia masuk ke toilet tiba tiba ia keluar lagi sambil berteriak.


"Cin, tolong" pekik nya.


Aku yang mendengar Dika teriak pun bangkit dari tempat tidur menuju toilet.


"Ada apa?", tanya ku.


"Itu ada kecoa" kata nya sambil berlindung di balik tubuh nya.

__ADS_1


Tawa ku pecah lagi.


"Astaga Dika, itu kan cuma kecoa hahaha", tawa ku sambil mengusir kecoa itu hingga pergi.


"Kamu takut kecoa?" tanya ku.


"Gak sih, cuma geli ajja hehe", jawab nya.


"Astaga, sama ajja itu mah" kata ku.


Ya Allah gini banget yah suami ku?


"Pacaran yuk, kata orang orang pacaran setelah nikah itu enak loh" ajak ku.


"Pacaran, aku gak pernah pacaran jadi aku gak tau pacaran itu ngapain ajja" kata Dika.


Aku tersenyum.


"Jalan jalan, makan di luar dan lain lain" seru ku.


"Malas ih, pacaran nya di rumah ajja, bisa kan" jawab Dika.


"Hem, gak asik donk, tapi bisa banget, apa lagi halal, bisa begituan" pancing ku.


Dika terlihat grogi.


"Kalo gitu pacaran di luar saja deh", jawab nya.


Dika memang tidak mau ada hubungan biologis di antara kami sesuai dengan perjanjian nya itu.


Aku menahan Dika sesaat.


Dan menyuruh nya duduk di sofa.


"Dika, maaf jika pertanyaan ku ini tidak berkenan di kamu, kenapa kamu tidak mau berhubungan biologis?" tanya ku.


Lalu aku menenangkan nya.


"Tidak apa apa, jawab saja.", kata ku.


"Bukan tidak mau Mulan, aku hanya belum siap saja" jawab nya.


"Tapi kamu normal saja kan, maksud ku kamu bisa, aku tau kamu dulu gay, tapi kamu tetap lah laki laki", tanya ku.


"Iya aku normal kok, aku juga baru belajar untuk menjadi laki laki sejati, Terima kasih sudah mau menerima kekurangan ku, tapi untuk itu tolong bersabar, aku juga gak mau mengecewakan mu. Maaf ya" jelas Dika.


Aku tidak percaya, kalo dia normal mengapa dia tidak bernafsu ketika melihat ku tanpa busana? Tapi aku tidak ingin memperdebatkan ini sehingga hubungan kami tidak baik nanti nya.


"Oh, iya, maaf yah, seharusnya nya aku tidak menanyakan itu. Salah ku yang sudah terima surat perjanjian pra nikah itu, sudah seharus nya aku terima segala resiko nya." jawab ku.


Dika menunduk. Aku jadi tidak tega melihat nya.


"Maafkan aku sayang" kata ku.


5 bulan kemudian.


Kehidupan rumah tangga kami baik baik saja tentu nya. Tidak terasa kami sudah 6 bulan menjalani kehidupan rumah tangga.


Dan aku masih perawan.


Sejak obrolan itu aku tidak pernah lagi menanyakan perihal ketidak normal an nya. Rasa cinta yang semakin kuat membuat ku tidak bisa jauh dari nya, aku takut jika aku terus mempertanyakan hal intim dia akan pergi meninggalkan ku. Sementara aku sudah terlanjur mencintai Dika.


Hari ini kami jalan jalan ke rumah Dika. Rumah mertua ku. Aku di sambut baik oleh mereka.

__ADS_1


"Wah, Mulan makin cantik saja, sudah isi belum?" tanya ibu dina, ibu mertua ku.


"Eh, belum Bu, belum rejeki" jawab ku sambil tersenyum.


Dika diam saja.


Ia langsung masuk ke dalam rumah.


Ku susun oleh oleh yang kami bawa untuk mertua ku itu.


"Ibu nda sabar mau punya cucu", kata ibu Dika.


"Iya, saya juga pengen cepat punya anak Bu tapi yah apa daya, sabar dan doakan saja kami, rejeki Allah yang atur", jawabku.


Ibu Dika tersenyum mendengar jawaban ku.


Ku lirik Dika, wajah nya seperti merasa bersalah.


"Kalian nginap kan?".tanya mertua ku yang laki laki. Bapak nya Dika.


"Eh, saya terserah Dika saja", jawab ku sambil melirik Dika.


"Iya pak ,kami nginap, aku kangen sama mamak" jawab Dika.


Aku hanya menurut saja.


"Ya sudah istirahat lah sejenak di kamar Dika yang dulu, kalian pasti lelah", kata Bu Dina.


Kami pun menurut ke kamar Dika.


"Kamu gak bilang kalo mau nginap, aku kan gak bawa baju ganti" protes ku.


"Maaf, tiba tiba saja aku rindu tempat ini" kata Dika.


Dia sih gampang ajja, karena masih banyak baju lama nya di sini.


Aku pun membongkar lemari itu.


Aku terkejut melihat baju wanita ada di dalam lemari nya.


Melihat ku memegang baju itu. Dika langsung merampas baju itu.


Aku merampas balik baju itu.


"Ini baju siapa?" tanya ku.


Dika diam saja. Aku semakin curiga.


"Dika?" sapa ku lagi.


"Itu baju ku" jawab nya.


Aku tidak menyangka Dika se banci itu, dia bahkan memakai baju wanita. Selama dengan ku aku tau dia banci tapi aku tidak pernah melihat nya memakai baju wanita.


"Oh, bagus lah, jadi bisa ku pakai", jawab ku.


"Eh tidak, baju itu di buang saja" kata Dika sembari pergi ke belakang rumah dan membuang baju ke tempat pembakaran sampah.


Aku terlambat mengejar nya.


"Kenapa di buang?" pekik ku saat baju itu sudah mulai terbakar.


"Karena itu masa lalu buruk ku, sebaik nya kita tidak mengingat nya", jawab Dika.

__ADS_1


Dika membawa ku kembali ke kamar.


Kami bongkar lagi lemari. Terpaksa aku pakai kaos milik Dika yang kebesaran di badan ku.


__ADS_2