
"Lalu apa yang mau kau katakan?" tanya Farhan.
"Siapa kau sebenarnya? kenapa mengenal istri ku?" tanya Dika.
"Hahaha, istri kata mu? ku lihat kau seperti nya tidak perlakukan dia Sebagai istri" kata Farhan.
"Apa dia cerita pada mu kehidupan rumah tangga kami?" tanya dika.
"Tidak sama sekali, dia bahkan menghindari ku demi kamu", jawab Farhan.
"Lalu dari mana kau tau kehidupan ku" tanya dika.
"Aku bukan orang biasa, aku bisa tau segala aktifitas mu di luar rumah", jawab Farhan Santai.
"Apa kau memata-matai ku!?" pekik Dika.
"Hahaha, kenapa kau bohongi Mulan?" tanya Farhan.
"Membohongi apa?" Dika tanya balik.
"Bahwa kau masih gay" tegur Farhan.
"Maksud mu apa?!" pekik Dika.
"Aku melihat mu bergandengan tangan dengan lelaki, di jalan, apa kau pikir pernikahan itu permainan?" pekik Farhan balik.
"Berhenti mencampuri urusan ku" teriak Dika.
"Aku tidak akan pernah berhenti, aku tidak bisa membiarkan Mulan menderita hidup bersama mu!!!" tegas Farhan.
"Kau hanya teman masa kecil, kenapa berlagak seolah kau sangat dekat dengan nya!!!" balas Dika.
"Kenapa kau marah? bukan kah kau tidak mencintai Mulan? kau penyuka sesama jenis! kau tidak mencintai wanita itu! sampai kapan kau menyiksa nya perlahan!" pekik Farhan
Dika mengepal tangan nya.
Selesai obrolan Dika pun pulang ke rumah.
Malam telah larut. Aku tertidur lagi di depan tv.
Dika menatap ku sesaat. Dika bingung dengan perasaanku sendiri, apa dia mulai mencintai Mulan atau hanya kasihan, tapi kenapa dia marah ada yang dekat dengan Mulan?
Keesokan hari nya.
Dika libur dan pergi jalan bersama teman teman nya. Meninggal kan Mulan sendiri di rumah.
Mulan hanya bisa sabar sering di tinggal oleh suami nya. Ia pun sibuk membuat lamaran pekerjaan, mencari pekerjaan di luar sana.
Sekian lama menanti akhir nya ada juga perusahaan yang mau menerima nya.
Mulan di telepon oleh seorang HRD wanita.
__ADS_1
Dengan lembut HRD itu memanggil Mulan untuk mulai interview besok.
Mulan senang sekali, akhir nya ia bisa kerja lagi. Berbekal pengalaman kerja nya sekitar 5 tahun. Meski pun hanya jadi Cleaning cervis di kantor L group itu, karena memang dia hanya lulusan SMA, tidak kuliah. Tidak mengapa.
Aku menelpon Dika untuk memberi tahukan kabar aku di terima kerja. Tapi ia tidak mengangkat telepon nya.
Aku menunggu di rumah, nanti saat dia pulang saja baru aku kabari.
Dika memang setuju saja aku bekerja. Tanpa ijin nya pun aku bebas melakukan apa pun. Seperti surat perjanjian pra nikah yang dia buat itu.
Bulan ke 7 pernikahan ku dengan nya, dan aku masih gadis.
Malam tiba, seharian Dika tidak pulang.
Aku lelah menunggu nya
Pukul 11 malam ku dengar pintu di buka.
Dika masuk perlahan.
"Dari mana saja, baru pulang?" tanya ku.
"Bukan urusan mu", jawab nya ketus.
"Ok, aku gak akan lagi mencampuri segala urusan mu, mulai besok aku bekerja, ku harap kita tidak saling menyulitkan" tegas ku.
"Mari urus diri masing masing mulai sekarang, aku bisa pindah kamar jika perlu", tegas ku lagi.
Kebetulan rumah sewa kami itu ada 2 kamar, tapi satu nya sempit dan jadi gudang.
Dika terkejut mendengar kan ku. Biasa nya aku sekalu manja manja dengan nya, biasa nya aku selalu memperhatikan nya. Sekarang aku justru menghindari nya.
"Terserah kamu" jawab nya.
Dika pun masuk langsung berbaring di tempat tidur nya.
Tengah malam aku berkemas, Dika pun bangun dan menahan tangan ku.
"Tidak perlu sampai pisah kamar" ujar nya.
Tapi aku tetap menyimpun baju baju ku yang ada di lemari itu. Aku tidak di butuh kan sebagai istri, dia hanya butuh teman.
Yah, aku akan jadi teman nya saja dan menjalani hari hari ku sebagai seorang gadis seperti sebelum nya. Memang aku masih gadis perawan meski telah menikah.
Ku ambil travel bag milik ku.
Ku isi baju baju ku. Beberapa kardus pun ku pakai. Hanya pindah kamar saja.
Besok setelah interview aku akan membereskan sisa nya.
Dia menatap ku Putus asa.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan cin, aku tidak biasa tidur sendirian" ujar Dika manja.
"Bukan kah ini yang kau ingin kan? haha sejak kapan kau tidak biasa tidur sendirian, aku saja sering tidur sendiri selow ajja. Gak nuntut apa pun." jawab ku.
Aku pun kehilangan selera untuk menggoda Dika. Bagaimana pun usaha ku dia memang tidak normal.
"Hari ini aku masih tidur di sini kok, nanti setelah aku bersihkan gudang sebelah baru aku pindah" ujar ku.
Dika bernafas berat.
Setelah ritual bersih bersih sebelum tidur, aku pun mematikan lampu dan baring di samping Dika, ku pakai selimut seperti biasa nya.
seperti nya Dika biasa saja dan tidak peduli. Dia mulai tertidur masih membelakangi ku seperti kemarin.
Ah aku tidak peduli.
Aku pun tertidur.
Menjelang subuh, aku terbangun.
Segera aku sholat subuh, dan mandi lebih awal. Aku pun buat sarapan. Sebenar nya aku tidak ingin buat sarapan untuk dika. Aku mau kami hidup masing masing.
Tapi aku tidak tega juga karena Dika setiap bulan memberikan gaji nya pada ku.
Jam 7.30 pagi Dika pun bangun dan sarapan.
"Karena kita akan hidup masing masing mungkin aku tidak akan memberi mu uang bulanan lagi" ancam Dika.
Aku hampir berontak tapi aku akhir nya pasrah saja.
"Ok, aku juga tidak akan masak untuk mu, silahkan cari makan atau masak sendiri" balas ku.
"Ok" jawab nya.
Jam 8 pagi aku pun pamit untuk interview kerja di L group. Aku pun kesana naik angkot. Dika bahkan tidak peka untuk mengantarkan aku.
Nanti pulang kerja aku akan singgah ke rumah orang tua ku untuk mengambil motor ku untuk aku pakai pulang pergi kerja nanti nya.
Interview berjalan lancar, akan pun di beri suatu ruangan khusus customer servis. Sebuah ruangan dengan loker. Di sana ada sekitar 7 orang cleaning servis termasuk aku.
Setelah interview selesai dan di terima dengan baik aku pun pulang, besok baru mulai kerja.
Aku pun singgah ke rumah orang tua ku.
"Assalamualaikum, buk, pak" panggil ku.
Syukur mereka ada di rumah. Sungguh aku merindukan mereka, rindu menjadi putri kecil mereka. Ku peluk erat ibu ku.
"Wa'alaikumsalam, Loh kok pulang sendirian toh ndok?" tanya ibu ku.
"Dika kerja Bu, aku juga akan bekerja, aku kesini mau ambil motor supaya nanti enak pulang pergi kerja , gpp kan?" Tanya ku.
__ADS_1
"Ya gak apa apa toh, bapak kan punya motor sendiri" jawab bapak sambil mengelus kepala ku.
Aku adalah anak kesayangan mereka.