Pria Banci Itu Suami Ku

Pria Banci Itu Suami Ku
Bab 7. Ngontrak.


__ADS_3

Aku dan Dika pulang dengan kelelahan yang luar biasa, teman teman Dika pun datang membantu kami merapikan tempat.


"Tenaga ku sudah habis banget, semua masih berantakan" ujar ku lemas.


"Tenang ajja sist. Duduk ajja santai, ada kami siap membantu" seru sasa alias Samsul.


Dia adalah sohib suami ku, sama banci juga. Ada lagi 1 orang, nama nya sari alias Saripudin.


Aku hanya mengangguk lelah. Dengan sigap Mereka memikul springbad, lemari, kompor dan lain lain pada tempat nya.


Malam menjelang, kami kelelahan sekali. Teman teman Dika pun pulang.


Aku merebahkan diri di kamar baru kami.


"Kau yakin turun kerja besok?" tanya ku.


"Iya, cuti ku sudah habis. Mau nda mau. Jam 9, aku tidur duluan yah, biar besok bisa seger bangun nya" jawab Dika.


Aku hanya mengangguk, Dika tidur hanya dengan boxer nya. Aku pun segera menyusul, ku pakai selimut ku. Hari ini tidak begadang.


Keesokan harinya, jam 6 pagi aku terbangun.


Segera aku ke dapur untuk masak sarapan untuk Dika.


Aku masak nasi goreng saja seperti biasa. Belum ada bahan bahan di dapur.


Jam 7 aku bangunkan Dika, ia berangkat kerja jam 8.30.


Dika pun bangun dan segera ke kamar mandi. Wajah polos nya saat bangun tidur sungguh menggemaskan, ingin rasa nya aku cubit.


Setelah selesai buat sarapan aku menyimpun sisa semalam. Menyapu dan lain lain.


"Mau bawa bekal?" tawar ku.


"Gak deh, aku istirahat sama teman teman makan di luar" jawab nya.


"Hmm, ya udah" kata ku.


"Ehh, tunggu dulu dong, buru buru banget".kata ku saat Dika bergegas memakai sepatu nya.


"Apa lagi sih?" tanya nya.


"Aku mau cium tangan mu, seperti istri pada umum nya?" jawab ku.


Dika terlihat kaku tapi ia akhir nya menyerahkan tangan nya.


Ku cium tangan itu sambil berdoa.


"Semoga kerjaan nya berkah,lancar, dan Allah mudahkan, Aamiin" kata ku.


"Aamiin, Sudah?" tanya nya.


"Iya, jangan lupa baca doa keluar rumah yah" ku peringatkan dia.


Dika lalu memakai helm nya dan bergegas berangkat kerja. Ku lambaikan tangan lalu masuk kembali ke dalam rumah.


Tiba tiba telepon ku berdering.


"Halo, Assalamualaikum" ku angkat ponsel ku.


"Ini dengan Mulan?" tanya seseorang di ujung sana.


"Iya, benar, ada apa ya?" tanya ku.

__ADS_1


"Saya Farhan yang kemarin" jawab nya.


Tanpa basa basi ku tutup telepon itu.


Aku lanjutkan aktifitas ku di dalam rumah.


Cling.


Pesan WhatsApp masuk.


Tapi aku tidak membaca nya. Ada apa dengan orang itu. Dia selalu menggangguku.


Ku letakan ponsel dan ku matikan nada nya.


Setelah selesai semua, aku pergi mandi. Ah segar banget rasa nya.


Akhir nya datang bulan ku selesai juga.


Ku rebahkan sejenak tubuh ku, kelelahan.


Jam 11 siang. Pekerjaan rumah sudah selesai. Tinggal menunggu Dika pulang.


Sore pun tiba, Dika pulang sesuai jam pulang kerja jika dapat sift pagi. Aku pikir dia akan terlambat pulang. Mungkin saja malam akan pergi lagi dengan teman teman nya seperti saat di hotel dulu.


Ku perhatikan dia tidak lagi memakai lipstik saat kerja. Mungkin dia malu karena sudah menikah. Tapi ketika jalan malam dia masih berdandan memakai lipstik dan sedikit perona pipi.


Dika yang merasa risih karena ku lihatin jadi bingung.


"Ada apa?" tanya nya.


"Gak ada apa apa. Emang aku gak boleh liatin kamu?" tanya ku.


"Hmm ya boleh lah" ujar Dika sambil mendekatkan wajah nya ke wajah ku.


Aku pikir dia akan mencium ku.


"Sudah puas liatin nya, kurang dekat?" bisik nya di telinga ku membuat aku seketika merinding.


"Eh, gak kok" refleks aku menghindar. Aku Pura pura sibuk mengerjakan sesuatu.


Dika tertawa.


"Haha panik? aman ajja kok, aku gak akan melakukan nya, seperti di surat perjanjian kita" kata Dika.


Entah kenapa aku tidak suka mendengar nya. Bagaimana pun juga kami kan suami istri, halal jika pun kami melakukan nya.


Ups, apa yang aku pikirkan, kesan nya aku mau jika dia melakukan nya. Ih kok aku jadi otak mesum begini yah. Gak , gak boleh, aku berusaha menenangkan pikiran ku sendiri.


Ku lirik Dika yang asik menonton YouTube.


Apa karena sering bersama aku mulai menyukai Dika. Ada benih benih cinta yang baru muncul di hati ku. Dekat dengan dia saja aku sudah merasa tenang dan bahagia.


"Cin, halangan(haid)mu sudah selesai?" Dika tiba tiba menanyakan itu.


"Sudah, kenapa?" tanya ku balik.


"Gpp, nanya ajja" kata nya sambil melanjutkan menonton.


"Kamu cape? mau aku pijitin?" tawar ku.


"Boleh deh" Dika lalu meletakkan handphone nya lalu membuka baju kaos nya.


Terpampang dada bidang itu. Yang akan ku lihat setiap hari nya.

__ADS_1


"Kok menghadap ke aku sih, bagaimana cara pijit nya, kan yang di pijit pundak" protes ku.


"Ok ok" kata nya sambil memutarkan badan nya. Aku mengambil minyak zaitun lalu mulai memijat nya sedikit demi sedikit.


"Enak?" tanya ku.


"Iya, jago juga kamu" puji nya.


Ku pijat tangan dan kaki nya juga sekalian.


Pasangan normal lain pasti bakalan anu jika suasana sudah begini.


Tapi Dika biasa saja saat ku sentuh.


Apa mungkin Dika impoten? atau memang dia gak nafsu sama perempuan?


Ingin ku tanyakan tapi aku takut.


"Mau gantian?" tawar dika.


"Enggak deh" tolak ku.


"Loh, biar adil donk. Sini deh" Kata Dika sambil mengambil botol minyak zaitun.


Aku malu jika harus membuka pakaian di depan Dika meski dia suami ku.


"Kok gak di buka daster nya?" tanya Dika.


"Aku malu" jawab ku polos.


Dika tertawa terbahak bahak.


"Ada ada ajja sih kamu, emang nya aku orang lain?" ujar nya.


"Ya canggung lah, hmm" kata ku.


"Jadi mau di pijet gak sih" kata Dika.


"Mau tapi gak pake buka baju" jawab ku.


"Kan yang di pijet badan cin, bukan baju, cus dibuka gih, gak dosa toh jika aku lihat, kita kan udah nikah" kata Dika.


Aku sedikit ragu tapi akhir nya ku buka juga, akhirnya aku tinggal pakaian dalam.


Sebenar nya aku sangat malu. Tapi ah sudah lah, lumayan kan di pijet gratis.


Dika terkejut melihat tubuh ku yang putih mulus.


"Wihh, perawatan di mana cin. Mulus bener,mau dong" pekik nya sambil memukul kecil pundak ku.


"Maksud nya mau apa nih?" tanya ku.


Ah pikiran ku mulai traveling. Haha.


"Mau perawatan juga biar mulus dan glowing kayak kamu" seru nya.


"Astaga" jawab ku.


Bukan nya sombong, aku memang memiliki tubuh yang putih dan mulus. Wajah ku pun cantik kata orang. Kalo bagi ku biasa saja. Klo benar cantik ya Alhamdulillah.


Dika orang pertama yang melihat tubuh ku setelah se dewasa ini.


"Ihh gemes. Di mana perawatan nya, aku gak pernah liat perempuan semulus ini secara nyata?" puji Dika sambil mulai memijat punggung ku.

__ADS_1


"Apaan sih dik, aku gak pernah ke salon kecuali potong rambut. Aku hanya rajin luluran ajja" seru ku.


__ADS_2