
Sesampai nya di kota xxx aku segera bersih bersih dan sholat.
Kami masih di mushola terdekat dari bandara.
Setelah itu kami menunggu jemputan dari seorang teman Dika yang ada di kota ini. Teman lama nya.
Mobil pun datang tepat di depan kami.
Seseorang turun dari mobil dan langsung berlari memeluk dika.
"Astaga, akika rindu banget sama yey" seru nya.
Dika yang risih langsung melepas pelukan itu.
"Helmi, kenalkan ini istri ku" kata Dika.
"Iya aku sudah tau, sudah liat di Instagram mu" jawab nya.
"Hayuk, masuk dulu, panasonic di luar" protes nya sambil membantu membawakan barang barang kami.
Helmi pun menyetir menuju rumah nya.
"Jangan sungkan yah, anggap saja rumah sendiri, aku dan Dika itu sudah kayak saudara" kata Helmi.
"Eh iya, terima kasih banyak ya" balas ku.
"Ih kaku banget sih", seru nya.
"Apa kabar mu Helmi, sudah lama tidak bertemu" tanya Dika.
Helmi menatap Dika heran.
"Ada apa?" tanya Dika merasa risih dengan tatapan aneh dari Helmi.
"Tunggu tunggu, ada yang tidak beres nih.
Ini beneran Dika kan?" tanya nya tidak percaya.
"Benar Dika dong, pasti kamu heran kenapa Dika bisa berubah, aku juga heran sih" jawab ku.
"Ih. Ajaib. Makarena dulu yuk, lapender nih" ajak Helmi.
"Iya, sama" jawab Dika.
"Kok Dika bisa jadi begini?" tanya Helmi bingung seperti berbicara dengan orang lain bukan Dika.
"Aku juga gak tau, tiba tiba saja dia berubah setelah kecelakaan" jawab ku.
Kami pun makan nasi Padang.
Aku hanya menurut. Mual di perut ku sudah hilang total setelah turun dari pesawat, mabuk perjalanan pasti.
Selesai makan kami ke rumah Helmi.
Sesampai nya di sana aku gak nyangka rumah Helmi akan sebesar itu.
__ADS_1
"Kamu tinggal sama siapa di sini?" tanya ku saat baru turun dari mobil.
"Sendiri, ini juga rumah baru 2 bulan aku tempati, dulu aku tinggal sama orang tua ku" jawab nya.
Kami pun masuk, ada seorang pembantu yang datang membantu kami.
Wanita paruh baya itu membantu kami membawa barang barang.
"Dika, apa gak apa apa kita tinggal di sini?" tanya ku.
"Aman sayang, Helmi itu orang baik, dia sahabat ku sejak kecil, lagian kita sementara ajja kok, nanti kalo sudah dapat kontrakan dan pekerjaan kita pindah" seru Dika.
Kami di beri kamar tamu di 1. Sementara kamar helmi di lantai 2.
"Ok gaes kita house tour dulu biar gak nyasar, hihi" ajak Helmi.
Aku dan Dika menurut saja.
"Kita mulai dari lantai 1 yah" Helmi mulai menunjukan kami tata letak rumah baru nya.
Desain modern dengan 2 lantai. Lumayan luas.
Setelah lelah berkeliling aku Dika dan Helmi bersantai di teras kolam renang yang letak nya di samping area belakang rumah.
Ku tatap pagar rumah yang tinggi melindungi rumah Helmi
"Kamu mau kerja di tempat ku?" tanya nya.
Aku masih asik melihat pemandangan indah rumah ini.
"Eh apa?" tanya ku.
"Di tanyain tuh sama Helmi" jawab Dika.
"Ada apa? hehe maaf aku terlalu fokus melihat rumah kamu, Masya Allah bagus banget" seru ku.
"Hihi makasih jeng" jawab nya.
"Sama sama, kamu nanya apa tadi?" tanya ku balik.
"Kamu mau gak kerja di salon aku" tanya nya.
"Eh boleh tuh tapi aku tak pandai di bidang itu" jawab ku.
"Nanti aku ajari. Kamu juga bisa jadi model ku. Secara kami good looking jeng" puji nya.
"Boleh tapi aku gak mau jika harus buka hijab ya" tolak ku.
"Iya aman jeng" seru nya.
"Aku bagaimana? gak di cariin kerja nih?" protes Dika.
"idihh ngambek ya. Sabar, tenang ajja, akika punya banyak kenalan" seru Helmi.
Setelah puas ngobrol tidak merasa malam telah tiba, Helmi sudah tidur di kamar nya. Sementara kami masih beradaptasi dengan lingkungan baru.
__ADS_1
"Kok jadi susah tidur yah?" seru ku.
"Iya sama" balas dika.
Kami pun ngobrol hingga lelah dan tertidur dengan sendiri nya.
Keesokan hari nya, pagi sekali aku membantu bibi pembantu Helmi. Nama nya bi nur.
"Aduh gak usah deh non, biar saya saja yang kerjakan" tolak bi nur saat aku bersikeras membantu nya.
"Gpp bi, aku malah bingung mau ngapain, kebiasaan aktifitas setelah subuh" paksa ku.
"Terserah non ajja deh, tapi jangan sampai di tau tuan Helmi yah, takut di marahi saya" ujar bi nur.
"Hehe aman deh bi, nanti kalo bi nur di marahi aku akan bilang jika aku yang memaksa untuk membantu" jawab ku.
Kami pun masak dan menyimpun bareng.
Sudah jam 11 siang Helmi belum bangun juga.
"Bi kok Helmi belum turun juga?" tanya ku.
"Kebiasaan nya memang begitu non, Bangkong. Apa lagi semenjak anak buah nya di salon sudah banyak, semua yang kerjakan mereka, si tuan yah santai santai saja seperti itu" jawab bi nur.
"Ohh begitu, enak juga yah bi punya usaha sendiri" seru ku.
"Iya begitu lah non, tapi dia rajin kok mengontrol keadaan di salon, apa lagi jika Mua nya di sewa untuk pengantin, kadang dia terjun Langsung, selain salon, dia juga punya wedding organizer, jadi kadang super padat gitu kegiatan nya apa lagi jika musim nikah" jelas bi nur.
"Asik ya bi, tapi pasti cape banget deh" jawab ku.
"Sudah resiko sih non, maka nya dia bisa berhasil seperti ini karena giat" balas bi nur.
Terlihat Helmi baru turun dari tangga lantai 2 masih dengan muka bantal nya.
"Akika lapender bi" rengek nya.
"Sudah siap makanan nya di meja makan tuan" jawab bi nur.
"Eh Mulan, mana Dika, ajak makan gih" tawar nya.
Aku lalu memanggil Dika yang sibuk main handphone nya.
"Di panggil Helmi tuh, dia ajak makan siang" seru ku.
"Oh sudah siang ternyata, ok nanti aku nyusul" jawab nya lalu bangkit dari sofa ruang tengah.
Kami ber 3 pun makan.
"Mulan hari ini mau lihat lihat salon?" tawar Helmi.
"Boleh boleh" seru ku bersemangat.
"Dika di rumah ajja dulu yah, sabar, nanti akika Carikan kerja juga. Tadi nya mau tawarin kamu kerja di salon juga tapi melihat mu yang sekarang seperti nya gak cucok desa" jelas Helmi.
Aku sudah tidak asing dengan bahasa aneh nya Helmi karena Dika juga dulu seperti itu.
__ADS_1
Semoga kehidupan kami di sini bisa lebih baik.