
Menjelang malam kami jalan, makan di luar dan membeli sesuatu untuk sarapan besok, besok baru kami akan beli bahan bahan makanan.
Aku jadi teringat permintaan Dika tadi sore. Seketika aku merinding.
Apa dia serius. Kok aku jadi takut.
Jam 10.30 kami sudah pulang dari makan malam dan jalan jalan.
Aku langsung lari ke kamar dan menguncinya. Takut Dika akan menagih permintaan nya.
Istri macam apa aku ini?
Terdengar pintu kamar ku di ketuk.
Aku jadi gugup tidak karuan. Aku harus bagaimana.
"Mulan? apa kau sudah tidur?" tanya nya sambil mengetuk pintu.
Aku sungguh takut dan gugup bukan main. Seolah di depan pintu kamar ku tengah berdiri hantu yang mengerikan.
Dia tidak berhenti mengetuk pintu membuat ku risih.
Aku akhir nya membuka pintu perlahan dan pura pura tidak ingat. Aku juga menyembunyikan rasa gugup ku.
"Ada apa?" tanya ku.
"Ngobrol yuk di depan" tawar nya.
"Mau bahas apa, sudah malam aku ngantuk" jawab ku.
Dika menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"em, bahas apa saja" jawab nya bingung.
Karena kasihan akhir nya aku keluar kamar ku dan mengikuti nya ke depan tv.
Ia membuat kan aku susu coklat hangat.
Kami ngobrol sambil menonton.
Seperti nya Dika bingung harus memulai obrolan dari mana. Kami jadi canggung.
"Ada apa sih dika?" tanya ku bingung melihat nya gelisah.
"Maaf, apa benar kita tidak pernah berhubungan suami istri?" tanya nya.
Aku tertawa.
"Kau mengajak ku keluar hanya untuk menanyakan itu?" jawab ku.
"Em, aneh ajja, masa setahun pernikahan gak pernah begitu an" jawab nya polos.
"Yah memang begini kenyataan nya. Pernikahan kita itu beda dari yang lain. Jadi kamu gak perlu merasa bersalah" jawab ku.
"Em, tapi, kita boleh kan begituan?" tanya nya.
Tawa ku pecah lagi.
"Astaga Dika, pertanyaan apa itu?" jawab ku sambil masih tertawa.
Ini orang polos beneran atau drama sih.
__ADS_1
Aku mengangkat bahu ku.
"Mulan...." panggil nya lirih.
"Yah?" jawab ku.
Tangan kami bersentuhan, dan kami sama sama canggung di buat nya.
"Eh maaf" ujar Dika.
Maaf? sesungguhnya aku gugup hanya saja aku menyembunyikan nya.
Kok aku jadi merasa pengantin baru yah, keringat ku mulai turun karena gugup. Haduh aku kenapa sih.
Ku ambil Kalender di atas tv dan ber kipas.
"Panas yah" seru ku sambil terus ber kipas.
Dika terlihat bingung harus berbuat apa.
"Kamu masih ingat permintaan ku tadi sore?" tanya nya.
Aku pura pura tidak tau.
"Permintaan apa?" tanya ku.
"Hem. Anu, itu " jawab nya membingungkan.
Aku sebenarnya tau maksud dan tujuan Dika. Karena takut dan gugup aku hendak beranjak pergi kembali ke kamar ku tapi Dika menahan nya.
"Mau kemana?" tanya nya.
"Kembali ke kamar ku" jawab ku.
Kami duduk berhadapan di atas ranjang.
Dika memegang kedua bahu ku. Awal nya aku menolak ciuman dari Dika tapi lama kelamaan akhir nya aku pasrah saja.
Ciuman kali ini lumayan lama membuat ku sesak nafas. Aku teringat sesuatu. Ku dorong tubuh Dika.
"Kenapa?" tanya nya.
"Pintu depan sudah di kunci belum?" tanya ku.
Dika lalu bangkit dan memeriksa pintu rumah kami. Ia lalu mengunci nya.
Setelah itu ia kembali ke kamar, menutup pintu dan kembali melanjutkan aksi nya.
Entah mengapa aku pasrah saja tidak ada perlawanan.
"Baca doa dulu" bisik ku.
Dengan berat hati dan sedikit kesal Dika lalu kambali duduk dan menuruti permintaan ku untuk berdoa dulu.
Tapi kerena dia bingung harus baca apa aku pun menuntun nya. Ada doa khusus untuk suami saat malam pertama untuk memecahkan perawan istri nya. Aku sudah lama mempelajari nya.
Setelah itu Dika mulai menggerayangi tubuhku. Bagai tersengat listrik saat Dika menyentuh area sensitif ku.
"Mulus sekali" puji nya saat berhasil melepaskan pakaian ku.
Wajah ku merona menahan malu.
__ADS_1
Dika kembali melanjutkan aksi nya.
Tubuh kekar Dika yang aku lihat selama ini, akhir nya aku bisa merasakan nya. Ah aku tidak peduli jika di sebut wanita mesum saat ini. Akhir nya aku merasakan jadi istri yang sesungguhnya.
Akhir nya kami malam pertama setelah setahun pernikahan.
Air mata ku mengalir, aku merasakan sedikit perih namun rasa bahagia menutupi nya.
Kali ini kami benar benar melakukan nya. Hubungan suami istri.
Menjelang subuh, aku terbangun dan segera mandi wajib. Ku ajak Dika mandi juga, karena sebentar lagi adzan subuh.
Setelah selesai mandi aku ajak Dika sholat subuh. Aku menuntun nya lagi. Pelan pelan akan aku ajarkan kewajiban seorang laki laki adalah sholat di masjid. Tapi untuk saat ini biar lah di rumah dulu.
Kita hanya bisa doakan dan menyampaikan kebenaran, tetap pemilik hidayah adalah Allah. Allah yang menentukan kepada siapa akan memberi hidayah, inti jangan berhenti berdoa.
Selepas sholat aku ke dapur, aktifitas pagi ku seperti biasa.
Dika tiba tiba memeluk ku dari belakang.
"Ulangi lagi yuk yang semalam" ajak nya berbisik di telinga ku. Wajah ku bersemu merah lagi, meski sudah pernah melakukan nya aku tetap malu.
"Baru selesai mandi" protes ku.
"Yah nanti mandi lagi" jawab nya.
"Masih perih" jawab ku lagi.
"Gak apa apa nanti juga hilang" ujar nya.
Aku menatap nya kasihan. Dika mencium ku.
Ku lepaskan ciuman itu.
"Gak di sini juga kali", ujar ku.
Sekarang kami sedang di dapur. Ia justru tambah mengangkat tubuh ku ke atas samping pencucian piring.
Aku terduduk di atas dan dia berdiri di bawah masih mencium ku. Ku pegang pundak Dika. Ku Lingkar kan tangan ku ke pundak nya.
Kami seperti orang baru di mabuk asmara.
Apa Dika mulai menyukai ku, tapi dia tidak pernah bilang.
Melihat ku tidak nyaman. Dika lalu menggendong ku masuk ke kamar nya untuk melanjutkan permainan kami. Aku terkejut. Ini bukan Dika yang dulu.
Pergemulan kami ulangi lagi. Hingga menjelang pagi. Kebetulan Dika libur kerja hari Rabu saat ini.
Sementara aku harus bersiap siap berangkat kerja. Selesai masak sarapan aku pun di antar Dika ke tempat kerja.
Sebenar Dika tidak suka aku bekerja tapi aku bersikeras tetap ingin kerja.
Aku melangkah masuk, kembali melakukan aktivitas kerja ku.
Mengingat kejadian semalam aku jadi senyum senyum sendiri.
"Hayoo, habis apa kok senyum senyum sendiri?" goda Bu anye.
Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Bu anye. Tidak mungkin aku bilang apa yang terjadi sebenarnya kan.
Biar lah ku pendam sendiri kebahagiaan ini.
__ADS_1
Farhan tiba tiba datang membawakan ku makanan.