Pria Banci Itu Suami Ku

Pria Banci Itu Suami Ku
Kenyataan pahit


__ADS_3

Sepulang kerja Aku bersihkan diri dan rebahan di kasur ku.


Aku lapar tapi terlalu lelah untuk memasak.


Aku pun pakai jaket dan hijab untuk membeli makan di luar.


Aku tidak melihat motor Dika di luar rumah. Berarti dia jalan lagi atau belum pulang kerja.


Kami semakin asing bahkan sebagai teman. Aku rindu Dika yang dulu. Dika yang selalu ada untuk ku.


Dia lebih perhatian saat menjadi teman ku.


Setelah menikah malah menjadi sangat jauh dari ku.


Apa kami harus nya hanya berteman tanpa ikatan pernikahan seperti ini.


Nasi sudah menjadi bubur kacang merah, sudah terlambat untuk menyesal.


Apa aku makan di luar saja yah?


Ku pakai jaket bulu karena cuaca di luar sangat dingin.


Aku pun ke sebuah warung makan biasa.


Selesai makan aku melajukan motor ku menuju pulang. Tak sengaja aku melihat Dika jalan boncengan dengan seorang pria, dia ada di belakang memeluk lelaki itu.


Dan itu bukan motor Dika.


Di mana motor nya?


Aku kehilangan jejak mereka.


Padahal aku ingin mengikuti nya.


Tak lama kemudian dering handphone ku berbunyi.


Segera ku angkat telepon itu.


"Halo Assalamualaikum" sapa ku ke nomor yang tidak ku kenal.


"Wa'alaikumsalam, Mulan, datang lah ke cafe ceria sekarang, kau akan tau sesuatu tentang dika" kata seseorang di seberang sana.


"Siapa kau?" tanya ku.


Orang itu mematikan handphone nya.


Ku ambil masker di dalam jok motor ku dan memakai nya, tidak lupa aku pakai kacamata.


Aku pun menuruti orang itu, entah kenapa aku penasaran.


Ku parkir kan motor ku agak jauh dari cafe. bahkan di seberang jalan agar Dika tidak curiga. Saat ini aku seperti mata mata.


Aku mulai masuk ke cafe dan langsung melihat pemandangan di mana Dika sedang asik bercengkrama dengan lelaki itu.


Di mana mana istri akan cemburu melihat suami nya dekat dengan wanita lain.


Dalam kasus rumah tangga ku beda.


Karena aku menikahi seorang gay.

__ADS_1


Nasib ya nasib.


Syukur mereka tidak memperhatikan kehadiran ku.


Aku ambil meja yang dekat dengan mereka. Tepat di belakang meja mereka.


Dika bermanja-manja dengan lelaki itu.


"Sayang, apa kau tidak takut di lihat orang atau istri mu, kau kan sudah nikah dengan perempuan?" kata pria itu.


"Sudah lah cinta, aman saja, pernikahan ku hanya modus kok untuk nutupin kekurangan ku ini, lagian istri ku selow ajja" kata Dika ke pria itu.


Pria itu melotot tak percaya.


"Kok ada perempuan seperti itu, dia yang bodoh atau kau yang sangat beruntung" tawa renyah pria itu.


"Sudah lah Rey, Jangan bahas dia, bikin bad mood saja, aku benci pada nya" kata Dika lagi.


Rey lalu mengelus kepala Dika.


"Kenapa sayang, kok jadi bad mood? apa kalian bertengkar?" tanya Rey.


Dika tidak menjawab.


Ingin sekali aku tonjok pria menjijikkan itu.


Mereka menjijikkan. Aku memang tau Dika banci tapi aku tidak tau kalau dia se brengsek itu.


Aku sudah tak tahan lagi.


Ku buka masker dan kacamata ku lalu aku samperin meja mereka.


Dika terkejut ketika aku sudah ada di hadapan nya. Rey juga terkejut melihat ku.


Kami pun seketika jadi tontonan.


Dika malu bukan main. Emosi ku memuncak.


"Aku juga benci pada mu Dika!!!", pekik ku sambil berlalu pergi.


Dika dan Rey segera menyelesaikan transaksi mereka dan keluar karena malu.


Dika semakin membenci ku karena sudah mempermalukan nya.


Ku laju kan motor ku tidak karuan. Air mata ku turun seketika. Kenapa aku harus mencintai Dika, sesak di dada ku saat ia katakan dia membenciku.


Hujan mulai turun. Jaket bulu ku yang berkembang jadi layu terkena air hujan.


Aku menambah kecepatan motor ku.


Sambil menangis sesenggukan.


Aku tidak pulang. Aku harus kemana. Aku tidak ingin bertemu Dika.


Ku parkirkan motor ku di depan hotel M.lan tempat ku dan Dika dulu bulan madu.


Entah mengapa aku malah menuju kesini.


Hujan belum juga reda. Aku berteduh di teras hotel.

__ADS_1


Seseorang yang menelpon tadi sekarang menghubungi ku lagi.


Ku angkat telepon itu, ternyata itu tadi Farhan yang memberi tahukan keberadaan dika bersama selingkuh an gay nya.


Farhan menanyakan aku sedang di mana. Aku tidak bawa banyak uang dan enggan pulang.


Akhir nya aku minta tolong ke Farhan untuk memberi ku kamar di hotel milik nya malam ini dan nanti akan aku ganti uang nya.


Dengan senang hati Farhan mempersilakan ku untuk menginap di hotel sepuas nya sampai aku tenang.


Farhan tersenyum menang.


Sementara Dika yang sudah pulang ke rumah hendak memarahi ku tapi aku tidak ada di sana.


Dia bahkan tidak mengkhawatirkan aku, justru akan memarahi ku karena membuat dia dan Rey malu di cafe itu.


Untuk beberapa hari ke depan aku tidak akan pulang.


Aku juga pinjam uang ke Farhan untuk membeli seragam kerja baru. Farhan justru senang jika aku meminta bantuan dari nya.


Keesokan hari nya aku pun turun kerja seperti biasa.


Farhan sudah menunggu ku di ruangan nya.


"Sudah datang? sini duduk dulu sebelum kamu mulai bekerja" sapa nya saat aku mulai masuk ke ruangan nya sambil membawa alat kebersihan.


Aku pun menurut duduk.


"Aku tau apa yang terjadi. Aku masih tidak mengerti hingga saat ini, kenapa kau mau menikah dengan gay seperti itu?" tanya Farhan pada ku.


"Panjang ceritanya", jawab ku singkat.


"Yah di per singkat donk biar gak panjang", protes nya.


Jika bukan karena dia bos dan sudah membantu ku aku tidak akan mau meladeni nya.


"Sudah lah pak, itu urusan rumah tangga saya, mohon jangan ikut campur. Selama saya tinggal di hotel, saya bayar kok, saya ganti tenang saja, hari ini saya check out" ujar ku sambil merapikan berkas yang terhambur di meja itu dan mulai membersihkan ruangan nya


"Itu karena aku mencintai mu Mulan" ucap nya tiba tiba.


Jika saja yang berkata seperti ini adalah Dika, mungkin aku akan bahagia sekarang.


Tapi Dika membenci ku.


Dia bahkan tidak peduli dengan ku.


Aku tidak memperdulikan perkataan Farhan dan tetap melanjutkan pekerjaan ku.


"Mulan!" pekik nya.


"Ada apa sih pak?", tanya ku kesal.


"Kenapa kau tidak tertarik dengan ku, aku tampan dan kaya, kurang apa aku, banyak sekali wanita di luar sana yang ingin bersama ku, tapi aku masih memilih mu, harus nya kau bersyukur!" pekik nya lagi.


"Gak semua hal bisa di beli dengan materi. Apa lagi cinta. Kau bisa beli tubuh wanita manapun yang kau mau tapi tidak dengan hati nya, di cintai oleh mu bukan hal yang harus aku syukuri, karena aku sudah menikah dan aku mencintai suami ku!!!" tegas ku.


Farhan tertawa.


Meski aku tau hubungan ku tidak baik baik saja dengan Dika, kami bahkan saling menghindari, tapi hati tetap tidak bisa di bohongi. Aku masih mencintai Dika meski dia berkali kali menyakiti ku.

__ADS_1


Sekilas info, author tidak up untuk beberapa hari ke depan, di karena kan kesibukan kerja author di dunia nyata yang lembur bagai kuda. Mohon bersabar.


Insya Allah akan di lanjutkan selesai lebaran. Terima kasih untuk pembaca setia. Semoga kita semua senantiasa sehat selalu. Aamiin. Selamat menunaikan ibadah puasa, manfaatkan sisa terakhir Ramadhan. Dan selamat hari raya idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.


__ADS_2