Pria Banci Itu Suami Ku

Pria Banci Itu Suami Ku
Bab 6. Hanya status.


__ADS_3

Malam ini, malam terakhir di hotel.


Ketika Dika ingin pergi lagi, aku mencegah nya.


"Ini malam terakhir kita di sini, kau bahkan belum pernah menginap di sini, jangan pergi, temani aku" cegah ku.


"Ayo lah cin, pernikahan kita hanya status, bukan kah kita sudah sepakat? jangan baper, bersikap lah seperti biasa, jangan terbebani, kau juga bebas melakukan apa yang kau mau" kata Dika.


Entah kenapa aku menangis mendengar nya.


"Maafkan aku, aku cuma rindu Dika yang dulu, dika sahabat ku yang selalu ada untuk ku, yang memeluk ku saat aku sedih", ujar ku


Air mata ku mulai mengalir.


"Ini lah yang membuat ku tidak ingin menikah. Aku tidak suka terikat, aku ingin bebas. Jangan lupakan kesepakatan kita itu" jawab nya tanpa rasa bersalah sedikit pun.


Aku akhir nya pasrah saat Dika menuju pintu untuk keluar kamar hotel kami.


Aku yang sedih pun bergegas keluar untuk menghirup udara segar di luar sana.


Baru melangkah sampai di depan pintu kamar hotel, ada Farhan juga keluar dari kamar nya.


"Hay, kita bertemu terus mungkin jodoh haha" tawa nya.


"Garing, aku sudah menikah, jodoh kepala lu pitak" balas ku.


Ia semakin menertawai ku.


"Kalo gitu aku tantang kamu, hadirkan suami kamu itu ke hadapan ku malam ini, setelah itu aku tidak akan mengganggu mu lagi" tantang nya.


"Aku tidak mau" jawab ku sambil melangkah menuju lift untuk turun ke bawah.


Farhan masih saja mengikuti ku, sampai ke dalam lift.


"Mulan febrilidyanie, kau yakin tidak mengenal ku?" tanya nya.


Aku terkejut, sejak kapan dia tau nama kepanjangan ku.


Aku hanya menggeleng, dan tidak menjawab.


Farhan tertawa melihat ekspresi ku.


Ia mengeluarkan beberapa plester karakter.


Aku tidak mengerti apa maksud nya.


"Apa kau ingat benda ini?" tanya nya.


Aku masih menggeleng.


Namun karena rasa penasaran aku pun berusaha mengingat ingat. memang nya ada apa dengan plester karakter.


"Aku tidak ingat, tidak tau dan tidak mau tau", jawab ku sambil sedikit berlari ke lobby setelah pintu lift terbuka.


Aku benar benar tidak ingat apa pun.


Farhan menarik tangan ku untuk melihat ke arah nya.


Aku pun terkejut, sontak aku menghempaskan tangan itu.


"Bukan muhrim! berani sekali kau menyentuh ku!!!" pekik ku.


"Maaf, aku hanya ingin kau mengingat ku" kata Farhan.

__ADS_1


"Aku tidak peduli, aku harus pergi" kata ku.


Farhan akhir nya hanya bisa memandang punggung ku yang semakin menjauh dari nya.


Ku telusuri jalan malam itu sendirian. Pikiran ku kalut karena perkataan Dika.


Angin malam berhembus dingin sekali, mungkin akan turun hujan.


Aku masuk ke sebuah cafe tidak jauh dari hotel.


Ku pesan coklat panas dan cemilan. Rintik hujan mulai turun dari kaca transparan yang di cafe itu.


Ku pandangi hujan sambil minum coklat panas ku. Hati ku terasa lebih hampa dari pada saat aku masih lajang.


Ingin sekali ku hubungi teman teman untuk menemani ku tapi aku urungkan niat ku, aku takut mereka tau keadaan sebenar nya setelah aku menikah. Aku tidak mau mereka tau kehidupan rumah tangga ku yang tidak normal.


Menyendiri dulu. Ponsel ku tiba tiba berdering, ada panggilan masuk.


"Lagi di mana?" tanya Dika.


"Ada apa?" tanya ku balik.


"Aku sudah pulang ke hotel" seru nya.


"Oh" jawab ku singkat.


"Kau belum jawab pertanyaan ku" kata Dika.


"Bukan kah kau sendiri yang bilang kita bebas kemana saja tanpa ijin dan lain lain" jawab ku.


"Tadi bapak telepon, nanyain kamu, aku terpaksa berbohong bilang kalau kau sedang di kamar mandi. Cepat lah pulang, mungkin bapak akan telepon lagi." jelas Dika.


"Iya" jawab ku singkat.


Tapi karena perintah suami suruh pulang akhir nya aku terobos hujan itu.


Badan ku menggigil kedinginan. Sesampai nya di hotel.


Aku basah kuyup. Terlihat Farhan masih di lobby hotel.


Dia bingung melihat ku basah kuyup karena hujan.


"Kenapa kau basah basahan begitu" kata nya khawatir.


"Bukan urusan mu!" Jawab ku sembari meninggalkan Farhan.


Ku tekan tombol lift dan segera menuju kamar ku.


Aku pun masuk dengan tubuh yang basah.


Dika iba melihat ku.


Ia segera mengambil handuk untuk menghangatkan ku.


"Aku mandi saja, sekalian ganti baju" jawab ku menolak handuk itu.


Segera aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri ku.


Dika membuatkan ku teh hangat.


Setelah itu aku menghangatkan diri dengan selimut.


Dika tiba tiba memeluk ku.

__ADS_1


"Maafkan aku" seru nya.


Aku menepis pelukan itu.


"Jangan bersikap seolah kau suami sungguhan, aku tidak mau berharap dan baper seperti kata mu waktu itu" tolak ku untuk di peluk.


Dika menatap ku, ia kembali menjadi Dika yang ku kenal dulu.


"Maafin aku cin, jangan ngambek gitu dong, entar jelek loh" rayu nya.


Aku masih diam.


Dika mengambilkan aku teh hangat yang ada di meja.


"Minum dulu teh nya, nanti dingin" tawar nya.


"Iya dingin, kayak kamu" seru ku.


"Ihh mulai deh" Dika mulai manja pada ku.


Aku tetap menghargai, dengan minum teh buatan nya.


"Nah gitu donk" kata nya.


Aku hanya tersenyum tipis.


Dika lalu memeluk ku dan kami tertidur.


Keesokan hari nya kami pun cek out dari hotel.


Kembali ke rumah. Di sambut oleh bapak dan ibu ku.


Dika berencana lusa akan sewa kontrakan untuk kami, ia ingin mandiri, kata nya.


Aku malah mengira itu supaya dia bisa bebas keluar kapan saja untuk bersenang senang dengan teman nya.


Bapak dan ibu tidak keberatan tentu nya, karena memang mereka sudah menyerahkan ku pada Dika.


Sebelum ngontrak kami jalan jalan ke rumah mertua ku. Orang tua nya Dika.


Hari itu kami menginap sehari di sana.


Alhamdulillah orang tua Dika sangat baik pada ku.


Aku dan Dika menyiapkan barang barang untuk ngontrak.


"Jaga kesehatan yah ndok, setia dan patuh pada suami" nasihat ibu ku.


"Iya buk" jawab ku sambil mengemasi barang barang ku.


Cuti Dika akan segera berakhir.


Kami harus sudah pindahan sebelum Dika masuk kerja. Semua serba mendadak.


Kontrakan kami lumayan luas. Bayar nya pertahun. Dika langsung membayar untuk 1 tahun dengan uang tabungan nya.


Sore itu aku berpamitan ke ibuk dan bapak ku.


Sedih rasa nya meninggal kan mereka.


Tapi aku harus ikut Dika.


Rumah masih kosongan. Hanya Ada 1 lemari di sana. Terpaksa aku dan Dika belanja untuk keperluan kami di sana. Kasur, alat mandi dan lain lain.

__ADS_1


__ADS_2