Pria Banci Itu Suami Ku

Pria Banci Itu Suami Ku
Hampir.


__ADS_3

"Saya bukan wanita jalan dan murahan, saya memang cleaning servis, pekerjaan saya halal!" balas ku.


"Pergi lah Reina, aku tidak suka melihat mu di sini" pekik Farhan.


Reina pun melangkah keluar dengan kesal. Ia bahkan memarahi karyawan yang tidak bersalah di luar sana.


"Maafkan ucapan nya yah mulan" kata Farhan pada ku.


"Kau sudah bertunangan dan aku sudah menikah, jadi berhenti lah mengharap kan ku" seru ku sambil berjalan menjauh dari nya.


"Kami di jodoh kan, dan aku tidak menyukai nya!!!" kata Farhan.


"Aku tidak peduli itu. Bukan urusan ku" jawab ku.


Aku mundur teratur menuju pintu keluar. Farhan berlari mengejar ku.


Ia menarik tangan ku untuk masuk Kembali ke ruangan nya. Sontak membuat kaget karyawan yang melihat nya. Aku yakin kejadian ini akan jadi gosip yang tranding topik di kantor ini.


"Apa lagi??" tanya ku.


"Aku hanya mencintai mu Mulan, ingat itu!" seru Farhan lantang.


Aku tertawa sinis.


"Kau pasti sudah gila, mencintai istri orang" kata ku.


"Aku tidak akan membiarkan ada orang yang membuat mu menderita" ujar nya.


"Jangan mengatakan hal yang tidak perlu, biarkan aku pergi, jika kau terus seperti ini aku akan mengundurkan diri dan menghilang selama nya dari hadapan mu" tegas ku.


"Baik lah, aku melepaskan mu tapi ingat hubungi aku jika kau butuh bantuan apa pun itu" seru Farhan.


Aku melangkah menjauh dari nya. Aku keluar ruangan itu. Bu anye ternyata mengintip.


"Heh Mulan , sini deh" panggil Bu anye.


"Ada apa Bu?" tanya ku.


"Apa yang terjadi antara kau dengan Farhan? apa kalian ada hubungan serius?" tanya nya.


"Jangan sembarang bicara Bu, entar jadi fitnah. Kami gak ada hubungan apa pun" jawab ku sambil menghindari Bu anye.


Menjelang sore aku pun pulang.


Dika pun sudah pulang kerja.


Ia sedang duduk duduk sambil ngopi di depan tv. Aku langsung masuk ke kamar ku.


Mengambil handuk dan segera ke kamar mandi.


Dika menatap ke sesaat.


Ku guyur badan ku dengan air. Ah segar nya.


Setelah mandi aku berdiam di kamar. Aku merenung kan nasib ku akan jadi apa selanjut nya mengingat kehidupan rumah tangga ku yang tidak baik baik saja.


Menjelang malam.


Tok tok tok.


Aku tersentak kaget ketika pintu kamar ku di ketuk.


Aku pun bangkit dan membuka pintu.


"Ada apa?" tanya ku.


Dika pun tiba tiba masuk ke dalam kamar ku.


Lalu duduk di atas kasur singlebad ku.

__ADS_1


Aku menatap nya heran.


Dika melihat sekeliling kamar ku.


"Aku baru kali ini melihat kamar mu" seru nya.


"Terus?" jawab ku singkat.


"Duduk lah" seru nya.


"Tidak mau!" pekik ku.


Dika lalu menarik tubuh ku untuk duduk di samping nya.


Aku terpaksa duduk di samping nya.


"Ada perlu apa kau tiba tiba kemari?" tanya ku.


"Apa aku harus ada alasan untuk ketemu istri ku sendiri?" dia bertanya balik.


"Istri! hahhahahhaa" aku tertawa.


"Gak usah basa basi. Ada apa?" tanya ku untuk kesekian kali nya.


Dika memandang ku sesaat lalu mendekatkan wajah nya. Aku hendak menghindar tapi ia menahan ku.


Dia mencium ku. Ini kali ke 2 kami berciuman.


Lebih dari biasa nya.


Aku berusaha menghindari nya, tapi Dika justru merebahkan tubuh ku di atas kasur.


"Dika hentikan!!!" pekik ku saat tubuh kekar Dika menindih ku.


Aku hampir kehabisan nafas.


Ia mencium ku lagi. Lalu Turun ke leher jenjang mulus ku. Aku merasa kan sensasi seperti tersengat listrik. Tapi gak boleh. Aku gak boleh terpancing.


Dika normal???


"Dika!!!" jangan!!! aku gak bisa!!!" pekik ku. Aku sungguh tidak bisa melakukan nya.


Sekuat tenaga aku melepas kan diri dari nya.


Dika menghentikan ciuman nya pada leher ku.


Ini kesempatan ku untuk bilang akan tidak bisa melakukan nya. Padahal aku sudah menantikan hal ini. Hal di mana Dika normal dan memperlakukan ku sebagai istri nya.


Dika melanjutkan aksi nya.


Hampir saja lepas seluruh pakaian ku.


Apa dia benar benar menginginkan nya?


Aku menahan nya.


"Cukup Dika!!! sudah aku bilang aku gak bisa!!!" bentak ku.


Dika terlihat kesal. Aku lalu memberi alasan kenapa aku tidak bisa melakukan nya sekarang.


"Aku haid, maaf" Hanya itu yang aku ucapkan.


Dika menghentikan aksi nya dan duduk memperbaiki baju nya dengan wajah kecewa.


Aku menatap nya heran sambil merapikan pakaian ku.


Sekian purnama, Dika tidak pernah seperti ini.


"Ada apa dengan mu?, tiba tiba seperti ini?" tanya ku.

__ADS_1


"Aku juga tidak tau, aku hanya ingin" jawab nya.


"Bukan kah dalam surat perjanjian pra nikah kita tidak melakukan hubungan biologis?" jelas ku.


"Persetan dengan surat itu. Robek saja, sudah tidak berlaku" jawab nya.


"Apaan sih, kamu yang buat kamu juga yang langgar?" seru ku.


"Lupakan!" jawab nya.


Aku tersenyum simpul. Aku gak ngerti Dika kenapa. Tidak ada angin tidak ada hujan dia tiba tiba berubah.


Tiba tiba handphone ku berdering.


Farhan menelepon ku.


Belum sempat ak meraih ponsel ku, Dika sudah duluan mengambil nya.


Ia melihat nama yang tertera di layar.


Pak bos Farhan.


"Kau menyimpan nomor nya?" tanya Dika.


"Iya, dia kan bos ku di tempat kerja" jawab ku.


Dika lalu mengangkat telepon itu.


"Halo" kata Dika.


"Di mana Mulan?" tanya Farhan.


"Ada urusan apa dengan istri ku?" tanya Dika.


"Urusan pekerjaan" jawab nya.


"Nanti saja ketika jam kerja, di luar dari itu jangan menghubungi nya" jawab Dika lalu menutup telepon nya.


"Kenapa bisa dia jadi bos mu, apa kau sengaja kerja di tempat nya agar kalian bisa ketemu?" ujar Dika curiga.


"Jangan ngomong sembarangan, aku saja awal nya tidak tau dia adalah bos di sana" jawab ku.


"Berhenti lah, cari kerja di tempat lain" protes Dika.


"Tidak mau!!!" pekik ku.


"Aku tidak pernah mencampuri urusan mu Dika, jadi jangan asal menyuruh ku berhenti kerja. Kau pikir mudah mencari kerja" kata ku.


"Aku suami mu" bentak nya.


Yah, dia selalu berlindung di balik kata "Suami".


Aku terdiam. Aku terlalu lelah untuk berdebat dengan nya.


"Aku cape dan lapar Dika, tolong jangan mengajak ku bertengkar" seru ku.


"Ya sudah, ganti baju mu, kita makan di luar, sekarang!" seru Dika.


Ku lirik jam sudah jam setengah 10 malam.


Sudah terlalu malam untuk jalan ke luar.


Tapi Dika memaksa ku. Aku akhir nya hanya mengambil sweeter dan hijab instan senada nya.


Dika menatap ku sesaat. Lalu ia menghapus lipstik ku dengan bibir nya. Ku dorong tubuh Dika.


"Apa yang kau lakukan''. Ku lihat di cermin lipstik ku sudah berantakan. Ku ambil tisu untuk membersihkan nya.


"Gak usah pakai lipstik!" seru nya.

__ADS_1


Dan pada akhir nya aku keluar rumah dengan wajah natural tanpa polesan apa pun.


__ADS_2