
"Kenapa kau semakin cantik saja?" tanya Farhan.
"Pertanyaan konyol" balas ku.
Kami sudah selesai makan siang.
"Sudah selesai kan makan nya, sekarang antar aku kembali ke kantor" seru ku sembari berdiri.
Farhan menahan lengan ku.
"Jangan terburu buru" ujar nya.
Aku menghempas tangan itu.
"Kembali sekarang atau aku naik taksi" seru ku.
Farhan pun mengikuti kemauan ku untuk segera kembali ke kantor.
Menjelang sore aku pulang di jemput Dika.
Seperti kemarin kami keliling2 dulu sebelum pulang.
Sesampainya di rumah aku Segera mandi. Gerah sekali rasa nya.
"Dika, ada yang mau ku sampai kan" seru ku.
"Ada apa? pasti mau bilang cinta kan?" jawab nya.
"Ihh ge er banget sih kamu, orang tua ku sedang kena musibah" jawab ku lesu.
"Musibah apa?" tanya nya
Aku pun menceritakan detail kejadian nya.
Dika menghela nafas berat.
"Banyak sekali" ujar Dika lesu.
"Aku bingung harus bagaimana, dan dari mana bisa dapat uang sebanyak itu" kata ku.
Selesai makan malam kami bersantai di depan tv masih memikirkan cara mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Tidak mungkin. Tapi tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Semoga Allah menolong kami. Aamiin.
Dika menggenggam tangan ku.
"Maafkan aku" seru nya.
"Kenapa minta maaf ,kamu kan gak salah" seru ku.
"Maaf karena aku bukan orang kaya raya yang bisa menghasilkan uang sebanyak itu.
Maaf karena aku hanya karyawan toko biasa yang tidak bisa membahagiakan mu" seru dika sedih.
Aku malah sedih mendengar nya.
"Dika, jangan ngomong begitu, bisa menikah dengan mu saja sudah kebahagiaan terbesar ku" jawab ku.
Dika menahan sedih nya.
"Maafkan aku selama ini selalu membuat mu sedih" ujar Dika.
Selama ini? memang nya dia ingat apa yang dulu dia lakukan pada ku?
"Selama ini? bukan kah kau tidak ingat masa masa kita menikah?" tanya ku.
"Maksud ku mungkin selama ini aku sudah membuat mu sedih dan tidak bahagia, bukti nya setelah setahun pernikahan baru kemarin kita melakukan hubungan suami istri dan kamu benar masih perawan saat itu" jawab Dika merasa bersalah.
__ADS_1
Aku mengusap pundak Dika.
"Sudah lah Dika, lupakan yang lalu, mari kita jalani kehidupan rumah tangga yang damai seperti sekarang" ujar ku.
Dika memeluk ku.
"Terima kasih Mulan" balas nya.
Kami bersama dalam pelukan sepanjang malam sambil menonton televisi.
"Ngomong ngomong apa kau sudah menyukai ku?" tanya ku.
"Apa harus di ungkapkan?" tanya nya.
"Harus dong biar tau" jawab ku
"Baik lah, Mulan, istri ku, aku mencintaimu, aku menyayangimu, mari berjanji untuk terus bersama sampai maut memisahkan kita" ungkap Dika.
"Gak mau ahk" jawab ku.
"Loh, kok gitu" protes Dika.
"Aku gak mau hanya sampai maut memisahkan kita, aku Mau nya kita sehidup se surga. Bersama di dunia dan akhirat" jelas ku.
Dika tersenyum.
Kami berpelukan erat lagi seolah takut kehilangan satu sama lain.
"Aku mau kita satu kamar, aneh rasa nya suami istri beda kamar begitu" protes nya saat melihat kamar kami berbeda.
"Iya, iya sayang, nanti aku pindah ke kamar mu, aman, lagian selama kamu keluar dari rumah sakit kan aku selalu tidur dengan mu" ujar ku.
"Mulan, i love u" ujar Dika lagi tiba tiba.
Kata kata itu adalah kata yang sangat ingin aku dengar dulu. Baru terwujud sekarang.
Aku sempat berpikir untuk berpisah saja, aku hampir menyerah menghadapi Dika yang selalu ingin hidup bebas.
"Pengen" seru nya sambil menyentuh dada ku.
"Genit ih" protes ku.
Dasar bayi besar.
"Kenapa gak dari dulu sih kita kawin, padahal enak banget" ujar nya.
"Ngomong apa sih dika, lah kamu sendiri yang tidak mau menyentuh ku dulu" protes ku.
"Jadi dari dulu kamu pengen di sentuh yah" goda Dika pada ku.
"Ih kampret" ku lempar bantal ke arah nya.
Kami tertawa.
Dika kalo sudah "ingin" kadang tidak lihat tempat, syukur pintu depan sekarang selalu terkunci.
Jadi meski kami lakukan di ruang tamu pun aman.
Kami biarkan suara tv memanipulasi ruangan.
Sementara kami dengan kegiatan kami sendiri.
Keesokan hari nya aku aktifitas seperti biasa.
"Hay pacar halal" sapa nya ke aku.
__ADS_1
Aku tersenyum mendengar nya. Pacar halal? Dika membantu ku menjemur pakaian yang sudah aku cuci.
"Pacaran yuk" ajak nya.
"Pacaran?" tanya ku.
"Iya pacaran, jalan jalan makan dan lain lain" jawab nya.
"Bukan nya kita sudah pacaran setiap hari di rumah" protes ku.
"Beda dong. Pacaran nya kalo di rumah, aku pengen keluar makan jalan jalan menghabiskan waktu seharian" seru Dika.
"Alah, alay banget sih, di rumah pun bisa" jawab ku.
"Kamu libur kan, aku juga sedang ambil sisa cuti nih, ayo jalan" ajak nya.
Menjelang siang selepas sholat Dzuhur kami pun jalan jalan keluar.
Kami jauh ke pantai, berjalan di tepi pantai sambil berpegangan tangan.
"Baru kali ini ku rasakan perjalanan seromantis ini, terima kasih ya Dika" ujar ku.
"Sama sama sayang, mari saling membahagiakan" jawab nya.
Dika lalu menggendong ku.
Sejenak aku melupakan stress akibat utang orang tua ku.
Berada dekat Dika saja aku sudah bahagia.
Dika mencium kening ku.
"Ada yang mau aku sampai kan" kata Dika.
"Pasti mau bilang cinta kan" balas ku.
"Ih ge er banget sih" kata nya meniru kata kata ku waktu itu.
"Hem iya deh. Apa sayang, mau bilang apa?" tanya ku.
"Sebenar nya aku sudah mengingat semua nya, kejadian sebelum dan sesudah kita menikah" Jawab Dika.
"Apa? sejak kapan?" tanya ku.
"Rahasia" Jawab nya.
"Ih pelit banget sih" ujar ku sambil menggelitik pinggang Dika. Ia tertawa dan membalas menggelitik ku.
Tiba tiba ada yang bertepuk tangan di sebelah kami.
"Hebat kamu yah Mulan, di saat orang tua mu sedang sedih tertimpa musibah kamu malah bersenang senang di sini" kata farhan yang tiba tiba sudah ada di depan kami.
"Berhenti mencampuri urusan ku!!!" bentak ku.
Dika pun bangkit dan berdiri tepat di depan farhan. Dika yang tinggi dan kekar membuat Farhan terlihat pendek di hadapan nya.
"Ada masalah apa anda dengan keluarga ku" seru Dika.
"Dari pada bertanya seperti itu, lebih baik kau cari uang yang banyak untuk membantu mertua mu itu" jawab farhan.
Tangan Dika mengepal siap untuk menonjok wajah Farhan.
Dika pun lepas kendali, ia memukul Farhan bertubi tubi. Darah segar mengalir di bibir Farhan yang justru tertawa di perlakukan seperti itu.
Beberapa bodyguard Farhan datang dan menangkap Dika.
__ADS_1
Aku panik di buat nya.