Pria Banci Itu Suami Ku

Pria Banci Itu Suami Ku
Pemakaman.


__ADS_3

Di Pemakaman, terlihat Reina dan anak gadis nya menghadiri pemakaman.


Reina pun menangis.


Dika mengenali wajah itu meski hanya sekali bertemu.


Dika menghampiri Reina.


"Kau Reina kan?" tanya Dika hati hati.


"Iya" jawab nya singkat.


"Bagaimana keadaan mu setelah bercerai dengan Farhan, apa kau baik baik saja?" tanya Dika.


"Apa yang terjadi pada ku, bukan urusan mu, kalian pasti senang menjadi ahli waris nya, Farhan menceraikan aku tanpa memberi apa pun, hebat sekali istri mu itu" pekik Reina.


"Jaga bicara mu Reina, ini di pemakaman, gak baik bahas harta dan masa lalu" protes Dika.


"Kau yang mulai, hidup ku hancur setelah bercerai dengan Farhan, puas kau!" pekik Reina.


"Itu juga dari kesalahan mu, jadi berhenti menyalahkan orang lain" balas dika.


"Kenapa memang nya dengan keadaan ku yang sekarang, memang nya kau mau tanggung jawab" sorot mata Reina tajam memandang Dika.

__ADS_1


Syukur nya percakapan itu agak jauh dari khalayak ramai, jadi tidak ada yang mendengar. Kami masih betah di depan batu nisan.


Satu persatu pelayat yang hadir pun pulang.


Reina membetulkan pasmina hitam nya, memperlihatkan rambut nya yang di cat pirang warna maroon.


Reina membuka kacamata hitam nya.


"Mah, kapan kita pulang" seorang anak gadis cantik menghampirinya kami.


"Sebentar yah sayang, mama lagi ngobrol sama teman nya papa" jawab Reina.


Dika mengernyit kan dahi. Dika tidak pernah merasa berteman dengan Farhan.


"Bukan saat nya bermain Feli, tunggu lah di bawah pohon itu, cuaca sedang panas" pekik Reina.


Tapi Feli tidak menghiraukan nya. Ia tetap mendekati anak anak Dika.


"Maaf kan kami, jika kamu tidak suka, mungkin aku bisa membantu mu, tapi perbaiki dulu cara mu menilai orang lain, lihat lah diri mu dulu." ujar Dika.


Reina memakai lagi kacamata nya, karena ia ingin menangis lagi, ia tidak ingin ada yang melihat wajah nya mengeluarkan air mata.


Gerimis mulai turun, mereka pun bubar untuk berteduh. Reina berjalan menjauh dari Dika. Ia memanggil Feli untuk pulang.

__ADS_1


Feli segera mengikuti mamah nya, sejenak Feli menatap ke arah anak anak Dika lalu melambaikan tangan nya.


"Dia siapa?" tanya ku.


"Dia Reina , mantan istri nya Farhan" jawab Dika.


"Kok kamu mengenal nya?" tanya ku.


"Aku sempat bertemu dengan nya ketika aku pulang ke kota ini, ketika Ali masih kecil. Aku bertemu dia dan Farhan di jalan" jawab Dika.


"Oh begitu" balas ku singkat lalu mengajak anak anak untuk pulang. Ali tertinggal masih duduk menatap batu nisan ayah nya.


Aku pun kembali untuk membawa Ali pulang.


Gerimis masih turun dalam keadaan langit sangat panas. Hujan panas.


Semoga semua baik baik saja.


Aku sekeluarga pun untuk sementara pulang ke rumah orang tua ku. Melepaskan penat seharian lelah di perjalanan beberapa hari yang lalu.


Besok-besok aku pasti sangat sibuk karena mengurus kepindahan sekolah nya ali.


Dika juga baru belajar untuk bisa menggantikan posisi farhan selama ini, meski sudah di ditolak berkali kali tetap saja dika di paksa untuk mau. Syukur ada asisten yang baik hati dan sabar mengajari dika.

__ADS_1


__ADS_2