
Aku terbangun jam 2 dini hari.
Ku dapat tubuh ku sudah ada di atas ranjang tempat tidur.
Perasaan semalam aku tidur di depan tv?
Dika sudah ada di samping ku tertidur nyenyak.
Apa dika yang menggendong ku ke kamar ini?
Aku pun bangun untuk sholat tahajud.
Ku doakan Dika agar bisa normal seperti lelaki yang lain. Tidak lupa ku doakan agar kami bisa saling mencintai seperti pasangan yang lain.
Keesokan hari nya. Hari ini hari Kamis , seperti biasa jika aku tidak haid aku rutin puasa Senin Kamis.
Sudah ku siapkan sarapan dan bekal untuk Dika.
"Ayo sarapan bareng, ajak nya" seperti biasa dia selalu minta di temani makan.
Aku jadi ragu, menyenangkan suami itu wajib, puasa itu Sunnah. Aku pernah ikut kajian, utamakan melayani suami dari pada puasa Sunnah. Kecuali puasa wajib romadhon atau sedang qadha puasa yang pecah saat Ramadhan.
Akhir nya aku pun ikut menemani nya sarapan.
Dika tersenyum senang saat aku mulai menyantap sarapan bersama dengan nyaa.
"Masakan mu selalu enak, makasi yah" puji nya.
"Makasi" jawab ku sambil tersenyum bahagia.
Ingin sekali aku manja manja dengan nya, menyuapkan makanan pada nya. Tapi aku terlalu canggung untuk itu. Bila ingat kami bukan pasangan seperti yang Lain.
"Maaf yah soal semalam" seru Dika.
"Gpp kok", jawab ku singkat.
Suara telepon Dika berdering. Dika mengangkat nya. Suara seorang wanita terdengar sekilas dari balik handphone Dika.
"Halo, ya, ada apa ren? tapi tumben nelpon" ujar nya.
"Eh maaf, aku lupa ngasi undangan ke kamu, acara syukuran ulang tahun ku dan selesai wisuda, kuliah ku akhir nya selesai juga.
Acara nya nanti malam, maaf yah mendadak. Tapi kamu bisa kan?" tanya nya.
"Eh, nanti di liat kondisi dulu yah" jawab Dika.
"Aku tunggu loh, sekalian reunian, aku udang semua teman sekelas kita dulu" ujar nya lagi.
"Ok, Insya Allah" jawab Dika dan mengakhiri telepon nya.
Dika menatap ku sesaat
"Siapa?" tanya ku.
" Eh, Reni, teman sekolah ku dulu" jawab Dika.
"Kok bisa tau nomer kamu?", tanya ku lagi.
"Mungkin dari grup alumni sekolah" jelas Dika.
__ADS_1
"Oh" hanya itu jawaban ku. Apa pun itu aku tidak bisa melakukan apa pun apa lagi melarang. Tidak mungkin.
"Dia tiba tiba undang acara syukuran ulang tahun nya, sekalian syukuran karena sudah wisuda, hm kamu temani aku yah entar malam" pinta Dika.
Sebenar nya aku ingin menolak nya tapi akhir nya aku mau juga.
Aku mengangguk tanda setuju.
Dika seperti bernafas lega.
"Ok" jawab ku.
Selesai sarapan dika lalu berangkat kerja seperti biasa.
Aku aktivitas seperti biasa, ibu rumah tangga. Aku niat kerja juga di luar, tapi nanti dulu lah.
Di Tempat kerja Dika.
Dika memarkir kan motor nya.
Lalu masuk ke dalam gedung toko melalui pintu karyawan dari belakang.
Ramai karyawan mulai berdatangan mengabsen kan diri mereka.
"Eh Dika, bagaimana rasa nya menikah"? pertanyaan konyol dari Remon rekan kerja Dika yang masih jomblo.
"Masih pagi loh mon", protes Dika karena pertanyaan Remon.
Mereka pun masuk ke ruang loker khusus pria.
Mereka memasuk kan barang barang lalu duduk bercerita. Karena jam kerja akan di mulai 20 menit lagi.
"Ayo lah cerita, siapa tau jadi motivasi ku untuk segera menikah juga" paksa Remon.
Remon cemberut.
"Ah, Pelit " ngambeknya
"Emang apa yang mau kau tau sih mon?" tanya ku balik.
"Rasa nya nikah itu bagaimana? stress atau bahagia?" tanya Dika.
Dika sedikit berpikir.
"Em, enak sih, karena ada yang ngurusin, kok stress, bahagia lah, kita jadi mandiri, bebas ngapain saja dengan istri, halal, tidak takut berdosa. Dan kita jadi banyak belajar tentang tanggung jawab", Dika memang pandai berkata kata.
Remon menganggukkan kepalanya.
"Seru juga ya" kata Reno .
"Maka nya buruan nikah juga gih" kata Dika.
Remon hanya tertawa renyah. Jam kerja di mulai. Dika dan Remon masuk ke posisi mereka masing masing.
Sepulang kerja Dika langsung pulang.
Kami pun bertemu lagi. Jam 5 sore.
Belum ganti baju Dika malah main handphone.
__ADS_1
Aku menyuruh nya untuk mandi.
Dengan berat ia pun melangkah ke kamar mandi. Selesai mandi handuk nya ia letak saja di tempat tidur.
Aku geleng geleng kepala kesal.
"Handuk nya langsung di gantung donk" protes ku.
"Oh ya lupa. Sorry hehe" jawab nya.
Maghrib tiba aku melaksanakan sholat Maghrib dulu sebelum siap siap ke acara nya teman Dika.
"Acara nya mulai jam berapa sih", tanya ku.
"Kata nya sih jam 7" jawab Dika.
"Tidak bisa kah selepas isya baru kita pergi?" tawar ku.
"Hmm, bisa kok, sholat ajja dulu baru nanti kita pergi" jawab Dika.
Alhamdulillah, aku tidak tenang jalan jika belum sholat.
Dika sudah siap siap memakai kemeja. Aku masih bingung mau pakai apa. Alhasil aku pakai gamis saja, dengan pasmina syar'i yang warna nya senada dengan kemeja Dika yang berwarna biru navy.
Adzan isya berkumandang. Segera aku ambil air wudhu dan melaksanakan sholat isya.
Setelah itu aku memakai make up tipis saja. Natural.
Kami pun menuju ke undangan itu. Rumah nya megah dan mewah. Tamu nya juga elit rata rata bawa mobil.
Setelah memarkirkan motor, kami pun masuk.
Baru datang Dika sudah di sambut sang pemilik acara. Reni menggunakan gaun berwarna biru muda. Dika dan dia cipika cipiki di depan ku.
"Dia siapa dik?", bisik Reni ke Dika.
"Oh perkenalan kan dia Mulan, istri ku" jawab nya.
"Oh ini istri mu. Maaf ya kemarin gak bisa hadir soal nya kan aku di luar kota." jelas nya.
"Gpp kok, santai saja" kata nya.
Aku melihat sekeliling, rata rata pake dress semua, lebay banget untuk ukuran acara ulang tahun, terlalu mewah kayak acara nikahan. Batin ku. Mungkin karena yang ulang tahun sultan kali yah.
"Kok dia pake gamis sih, emang nya mau pengajian, kamu gak kasi tau yah ke dia ini acara apa?" bisik reni sedikit tertawa.
Dika sedikit malu mendengar itu tapi ia menutupi nya.
"Senyaman nya dia ajja" jawab dia. Dika mengajak ku berkeliling.
Semua mata tertuju pada ku.
Apa yang salah dengan ku?
"Dika mereka kenapa?" tanya ku.
"Gpp , abaikan saja" jawab Dika.
Dika tiba tiba di panggil oleh teman sekelas nya yang lain. Ada sesi foto reunian. Aku hanya bisa memandang Dika yang di gandeng oleh mereka.
__ADS_1
Setelah itu mereka pun bubar. Sebagian masih ngobrol bersama Dika.
"Eh girls, ada yang salah kostum nih" seru seseorang yang bernama Aulia sambil menunjuk ke arah ku.