
Menjelang sore Dika pun pulang. Seperti biasa ia mengecup kening ku sebelum dan sesudah pulang kerja.
"Kamu kenapa seperti sedih?" tanya Dika.
"Gak kok, justru aku bahagia banget sama kamu" seru ku langsung memeluk Dika.
"Eh aku belum mandi loh." ujar nya.
"Gpp aku suka bau mu" jawab ku.
Dika tertawa lalu membalas memeluk ku.
"Udah dulu deh adegan romantis nya, Ali nangis tuh" kata helmi sambil menunjuk ke arah box bayi.
Aku melepaskan pelukan ku dan segera menggendong Ali.
Dika lalu masuk untuk mandi.
Setelah itu, selepas Maghrib kami berkumpul lagi di ruang tengah.
"Makarena di luar yok, sekali sekali" ajak Helmi.
"Aku punya bayi. Helmi", protes ku.
"Titip ke bibi ajja, gak lama kok, kan cuma makan?" seru Helmi.
"Aku ngikut ajja deh", jawab ku.
Dika pun mengangguk kan kepala nya tanda setuju.
"Ya udah siap siap deh, capcus" seru Helmi bersemangat.
Aku segera memakai hijab ku.
Aku memakai pasmina plisket yang lagi viral. Oleh oleh dari Helmi saat dia liburan seminggu bersama teman teman nya.
Saat aku keluar kamar Dika dan Helmi melihat ku penuh kagum.
"Istri kamu itu cantik banget, cuma Masi gak ngerti fashion" ujar Helmi sambil menahan tawa.
"Ada apa?" tanya ku, aku mulai cemberut karena Helmi menertawai ku.
"Haha aduh cantik kok, tapi sini deh aku yang siapkan baju mu" ajak helmi. Ia lalu memilihkan ku baju yang senada dengan hijab ku.
Setelah selesai aku pun keluar.
Helmi bangga dengan hasil karya sederhana nya itu. Aku berubah jadi anak muda yang stylish.
Dika sampai tertegun melihat ku.
Dengan make up tipis natural ala Korea. Helmi bertepuk tangan untuk diri nya sendiri.
"Sempurna" ujar Helmi.
Ali sudah tertidur pulas di jaga oleh bibi.
__ADS_1
"Maaf yah bi, titip dulu ali, kami pamit" jawab ku sopan.
"Aduh gpp non, aman deh, jangan merasa ga enak gitu ah" protes bibi. Aku pun tersenyum.
Aku lalu melangkah keluar bersama mereka menuju mobil Helmi.
Mobil melaju ke sebuah restoran mewah Yang ada di kota itu. Kelas helmi memang beda.
Lampu lampu jalanan menerangi jalan, langit bertabur bintang. Indah sekali malam itu.
Aku lalu teringat surat Ar Rahman ayat ke 13. Dan selalu di ulang ulang ke ayat selanjutnya.
Fabi ayyi aalaaa'i Rabbikumaa tukazzibaan
13.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Aku tersadar dari sekian banyak kepahitan, ada banyak sekali keluhan, sementara nikmat Allah sangat besar dunia ini.
Aku lalu beristighfar dan bersyukur banyak banyak.
Dika duduk di depan bersama Helmi. Ia sesekali melirik ku di belakang.
Kami telah sampai di tujuan.
Aku pun turun dari mobil.
Ku rapikan hijab dan letak tas ku.
Di sana tidak terlalu ramai. Tapi juga tidak sepi.
Dika menggeser kursi dan mempersilahkan ku duduk.
Helmi mempersilahkan kami memilih menu apa pun yang kami mau.
"Aku gak tau nih, pilih kan ajja deh mi" seru ku.
Helmi lalu melihat lihat menu dan memilihkan untuk ku.
Bola mata ku berputar memandang sekeliling.
Mata ku terdiam sesaat memandang seorang gadis sedang duduk sendirian dengan wajah yang berantakan. Lipstik nya belepotan, maskara nya luntur. Dia menegak lagi minuman nya. Aku yakin itu pasti minuman keras?
Mungkin, ah apa yang aku pikirkan, gak boleh suuzon bisa ajja itu teh.
Merasa di perhatikan gadis itu melirik ke arah ku. Aku segera memandang ke arah lain.
Setelah pesanan kami datang, kami pun segera menikmati makan malam ini dari atas. Terlihat lampu lampu kota bersinar di bawah sana.
Setelah selesai makan aku kembali melirik ke arah meja gadis itu tapi dia tidak ada.
Ternyata dia sudah ada di belakang ku.
Tiba tiba di ke depan ku, dan mencekik ku. Membuat heboh dan panik Dika dan Helmi.
__ADS_1
Jangan jangan gadis ini orang gila.
Aku hampir sesak nafas di buat nya.
"Pengkhianat gila, aku akan membunuh mu!!!", pekik nya. Aku panik. Dika segera mendorong tubuh gadis itu hingga tersungkur ke lantai.
Gadis itu segera berdiri.
Ia lalu melihat wajah ku lebih dekat.
Tim keamanan restoran segera membawa nya keluar karena sudah membuat keributan.
"Apa kamu mengenal nya?" tanya Helmi bingung.
"Tidak sama sekali, aku juga tidak mengerti kenapa dia mencoba membunuh ku", jawab ku.
Aku mengatur nafas ku kembali.
Dika sangat khawatir. Dia lalu memberi ku air mineral.
"Gadis itu pasti sudah gila" seru Dika marah.
Melihat ku tidak baik baik saja Helmi pun mengajak kami pulang.
Gadis itu ternyata masih ada di luar. Sepatu hak tinggi nya ia lepas dan berjalan sempoyongan menuju ke mobil milik nya yang terparkir di samping mobil kami.
Aku menatap nya khawatir. Ada apa dengan gadis itu?
Dika sedikit mendorong ku untuk masuk ke dalam mobil karena aku masih diam di luar menatap gadis yang sudah masuk ke dalam mobil nya itu.
Apa dia akan baik baik saja mengendarai mobil nya dengan keadaan memprihatinkan seperti itu?
Helmi segera melajukan mobil nya.
Aku berbalik melihat ke arah mobil gadis itu. Tidak juga bergerak dari tempatnya.
Kenapa aku justru mengkhawatirkan nya. Aku bahkan tidak mengenal nya, bahkan dia tadi sudah mencoba membunuh ku.
Dika sekarang duduk di samping ku. Menggenggam tangan untuk menenangkan ku.
Aku justru tidak merasa cemas kan diri sendiri. Aku mencemaskan gadis itu.
"Helmi. Apa tidak sebaik nya kita putar balik? aku kasihan melihat gadis itu" seru ku.
"Maksud mu? gadis mana, yang mencekik mu tadi?" pekik Helmi tidak percaya.
"Aku yakin dia pasti salah orang, tolong lah" rayu ku.
"Tinta!!!" pekik Helmi dan malah melajukan mobilnya menolak permintaan ku.
Aku menatap jalanan malam yang masih ramai karena baru pukul 21.00.
Sesampai di rumah aku langsung melaksanakan sholat isya yang terlambat.
Sementara di tempat lain gadis itu mengendarai mobil nya dengan ugal ugalan.
__ADS_1
Membuat jalanan ramai karena klakson kiri kanan dari Kendaraan lain yang protes dengan cara gadis itu berkendara mobil yang tidak stabil.